Tak Hanya Berbisnis, Namun Terus Membangun Negeri

Tak Hanya Berbisnis, Namun Terus Membangun Negeri

- detikNews
Jumat, 13 Feb 2015 00:00 WIB
Bandung Techno Park (BTP), yang berlokasi di kawasan Telkom University, fokus di bidang riset dan inkubasi berbasis TIK. Sejak berdiri pada 2010, BTP telah melahirkan sejumlah riset prestisius sekaligus UKM bidang TIK.
Jakarta - Selepas berkeliling dan melihat berbagai karya teknologi informasi mutakhir di Bandung Techno Park (BTP), awal pekan lalu, Presiden Jokowi yang kala itu ditemani Dirut PT Telkom Alex J. Sinaga, bergegas mengambil spidol.

Lalu, sang presiden ke-7 ini mendekati papan berpigura hitam dan kertas coklat tersebut. Tak berapa lama, goresan terlihat. "Bandung Park terus berinovasi untuk rakyat dan bangsa."

Sontak, kebanggaan mencuat. Bukan semata-mata ada apresiasi dari RI 1, namun Jokowi sebelumnya berujar, bahwa BTP akan menjadi role model atas rencana pemerintah mendirikan 100 techno park se-Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Niatan ini tentu saja kian meneguhkan BTP, sebagai salah satu persembahan PT Telkom bagi Bangsa Indonesia, untuk menjadi pusat riset dan inkubasi berbasis teknologi informasi yang terbaik di Indonesia.

Sedari awal, PT Telkom Indonesia telah menyadari posisinya sebagai BUMN plat merah. Bukan sekedar berbisnis guna meraih laba bagi negara, namun juga berkontribusi bagi negeri sesuai kompetensinya.

Untuk itulah, salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan dengan pendirian BTP sejak tujuh tahun lalu dengan berbagai rintangannya. Jadi, kalaupun Telkom diapresiasi Jokowi dari BTP ini, tentu saja bukan ujug-ujug terjadi.

BTP bermula dari inisiasi Institut Teknologi Telkom (ITT), cikal bakal Telkom University yang dikelola Telkom Foundation, dengan embrio awal bernama Unit Pelaksana Teknis Teknologi Informasi Komunikasi (UPT TIK) di tahun 2007.

Dipimpin Jangkung Raharjo, niat pendiriannya adalah menumbuhkan dan membina usaha kecil menengah bidang teknologi informasi komunikasi. Layanannya kala itu terdiri tiga bidang.

Yakni bidang perangkat keras (layanan membuat lay out dan percetakan PCB multilayer, elektronika digital, dst), pelayanan pelatihan manajemen pengembangan peranti lunak, dan layanan inkubator bisnis.

Setelah UPT TIK mapan, kemudian didirikan Pusat Desain Telekomunikasi (PDT), dimana niat utama pendiriannya selain membina UKM, juga membentuk unit baru non tuition fee kepada institut tersebut.

Selain itu, pendirian dimaksudkan guna menumbuhkan jiwa kewirausahaan berupa kegiatan pembinaan usaha kecil menengah yang melibatkan mahasiswa dalam program E-Camp (Entrepreneurship Camp).

Semula, secara fisik, embrio BTP ini hanyalah menempati sebuah ruangan kecil di lantai dasar LC ITT. Sebelum menjadi BTP, sokongan Telkom dan pemerintah nyata terasa.

Misalnya di tahun 2009, Depkominfo melalui Badan Penelitian dan Pengembangan SDM menghubungkan UPT TIK dengan ETRI (Electronic Telecommunication Research Institute) Korea untuk melakukan joint research.

Demikian pula Direktur Kelembagaan dan Direktur Akademik Dikti yang memperkenalkan UPT TIK IT Telkom pada UNESCO, organisasi dunia yang membidangi pendidikan dan budaya agar dikenal di kancah internasional.

Seiring kepercayaan yang terus membesar dari semua pemangku kepentingan, PDT kemudian dikembangkan dalam bentuk lebih formal dan massif yakni menjadi BTP yang diresmikan di gedung LC ITT tanggal 12 Januari 2010.

Peresmian kala itu antara lain dilakukan Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Darmadi, Kepala Balitbang Depkominfo Cahyana Ahmadjayadi, Ketua YPT saat itu Herry Kusaeri, dst.

Visi awal sudah menyesuaikan visi Telkom terkait inovasi, dimana BTP diproyeksikan menjadi wadah inovasi dan berkreasi sekaligus menjembatani kalangan akademisi, industri, bisnis, masyarakat, dan pemerintah dalam mengembangkan TIK.

Juga, menciptakan lingkungan kondusif berbasis ICT serta membentuk Masyarakat Informasi Indonesia yaitu masyarakat yang memiliki kemauan dan kemampuan mengelola informasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupannya.

Dalam perencanaan awal, BTP dilengkapi enam gedung untuk riset, pelatihan, inkubator bisnis, logistik, dan pembinaan. Selain itu, pusat inkubasi ini akan terdiri atas 8 fokus bidang bisnis, yakni Research and Development (R&D), Vocational Training & Human Resource Certification, Concultacy Provider, Business Mediation, Technical & Business Information Centre, Product Certification, dan Production Suport.


Kiprah BTP

Untuk merealisasikan niat itu, pada tahap awal pembangunan gedung yang dilakukan YPT waktu itu adalah satu gedung utama di atas tanah seluas 1.000 meter persegi dan akses jalan masuk 400 meter senilai Rp6 miliar.

Saat selesai pembangunan tersebut, Dirjen IKM Depperin menghibahkan perangkat PCB maker sampai 6 layer. Sementara Dinas Perindustrian Jawa Barat menggandeng BTP sebagai tempat inkubasi lebih dari 5 UKM binaan serta memfasilitasi 40 UKM untuk mendapatkan izin usaha. Sementara Kopertis Wilayah IV Jawa Barat dan Banten turut berkontribusi melalui pengembangan program mahasiswa wirausaha.

Tak ayal, meski baru diresmikan, BTP kala itu langsung ngebut. Sejumlah kegiatan penting terkait riset TIK Indonesia langsung mengajak berpartisipasi. Seperti Badan Penelitian Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi mengikutsertakan dalam revitalisasi Puspitek Serpong, Dirjen Postel Kementrian Pos Telekomunikasi Depkominfo dalam kerjasama riset dengan ITRI (Industrial Technology Research Institute), Taiwan, Nang Kang Software Park, dan National Technology University of Science and Technology.

Selepas itu, berbagai pencapaian terus ditorehkan BTP. Misalnya pada April 2013 lalu, sebagai anggota ASPA (Asian Science Park Association) yang berpusat di Korea, BTP dipercayai menggelar acara ASPA Leader Meting dan International Conference on Innovation Management Best Practice Sharing di Bandung.

Kemudian melalui fasilitasi Departemen Perindustrian, BTP menggawangi kegiatan internasional berupa pendirian dan pertemuan Indonesia-Korea ICT Forum. Pertemuan yang dihadiri sekira 50 pelaku industri ini telah maraton dalam dua hari merumuskan bidang-bidang kerjasama.

Selanjutnya, masih di tahun 2013, BTP menggaet METI (Ministri of Economy Trade and Industry) Jepang dan beberapa institusi riset dari Jepang untuk menggelar acara bertajuk "Japan-Indonesia Environtmental Friendly HiTech & Green IT Forum".

Seiring menguatnya teknologi hijau ini, BTP selanjutnya dipercaya sebagai partner iTrain, perusahaan asal Malaysia, dalam kegiatan South East Asia Green IT Conference di Malaysia pada Oktober 2013.

Sementara untuk aktivitas mentoring usaha, BTP memperoleh pengakuan pula dari dunia internasional yakni dari OESF (Open Embedded Software Foundation), Taiwan.

Lembaga tersebut melakukan mentoring, pelatihan, dan startup boot camp dengan instruktur instruktur dari mereka. Semua kegiatan tersebut diikuti oleh peserta secara gratis. Bahkan, OESF akhirnya membuka cabangnya di Indonesia dengan alamat kantor Indonesia berada di BTP.

BTP juga bekerjasama dengan Technology Park Malaysia (TPM) dalam bidang co-incubation, dimana para startup BTP dapat memanfaatkan fasilitas TPM untnuk mengembangkan bisnisnya, demikian juga sebaliknya.

Situasi ini mendorong pencapaian monumental berikutnya ketika BTP tercatat sebagai salah satu pendiri ASEAN Inkubator Network atau jejaring pusat inkubasi se-Asia Tenggara, yang kegiatannya diprakarsai Kementerian KUKM Indonesia.

Dukungan kepada inkubator juga diwujudkan dalam keikutsertaan BTP dalam berbagai event pameran internasional untuk memperkenalkan produk-produk baru tenant BTP. Pameran internasional yang sering diikuti antara lain ComunicAsia (singapore), TaiExpo (Taiwan) dan CeBIT (Jerman).

Terakhir adalah ikut CommunicAsia di Singapura, Juni 2014, CEBIT, Jerman (Maret 2014), serta ASEAN ICT Market Deep Dive tanggal 3-4 Desember 2013 di Bangkok.

Maka itu, rasanya tak perlu diragukan akan komitmen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, terhadap pembangunan teknologi-riset di Indonesia ini; Bahwa tak semata-mata soal bisnis, tapi juga bagaimana terus berkontribusi membangun negeri.


(adv/adv)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads