Dalam pidato kuncinya, Irman menegaskan bahwa sejak gerakan reformasi tahun 1998, demokrasi di Indonesia makin berkembang, dan transparansi juga makin kuat. “Kedua hal itu sangat didambakan oleh para praktisi bisnis. Terlebih lagi, tahun ini Indonesia berhasil melaksanakan transisi kepemimpinan nasional dengan lancar, aman, dan tertib. Situasi ini tentu juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bisnis dan investasi di semua sektor.”
Irman juga menegaskan bahwa Indonesia melaksanakan desentralisasi dan otonomi daerah, di mana kesempatan investasi terbuka lebar di seluruh wilayah provinsi, kabupaten, dan kota.
Oleh karena itu, dia mengajak para pebisnis Korea Selatan untuk meningkatkan investasinya di berbagai sektor. Saat ini saja Korea Selatan menempati peringkat ketiga investasi di Indonesia setelah Jepang dan Singapura. “Dengan kekuatan ekonomi Korea Selatan yang terus meningkat pesat, tidak mustahil Korea Selatan akan menduduki peringkat teratas investasi di Indonesia.”
Dalam kesempatan tersebut, Irman menegaskan konsep pembangunan ekonomi yang diimplementasikan dalam kebijakan Pemerintah selama ini, yakni percepatan pembangunan berbagai koridor ekonomi yang meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara, kemudian Papua, dan Maluku. Beberapa sektor terbuka untuk investasi seperti pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, dan telekomunikasi.
Ketua DPD juga menekankan kebijakan pembangunan ala Presiden Joko Widodo seperti penyediaan lingkungan yang sehat bagi masyarakat, tata kelola demokratis, pembangunan pedesaan, penegakan hukum, perbaikan kualitas hidup, pemberdayaan sektor-sektor domestik, pembangunan karakter dan reformasi sosial. Semuanya dimaksudkan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik, lebih aman, dan lebih ramah bagi investasi.
Dalam pidato kunci yang disambut hangat CEO dan manajer itu, Irman meminta para pebisnis Korea Selatan membangun kerjasama teknologi yang sehat di antara kedua negara. Mereka juga diminta melakukan transfer teknologi kepada industri-industri di Indonesia, sebab keahlian sumberdaya manusia Indonesia yang makin maju justru menjamin kelangsungan hidup industri-industri tersebut. “Tentu saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, dan pada gilirannya secara jangka panjang juga akan meningkatkan daya beli pasar yang besar bagi hasil industri Korea Selatan.”
Sekretaris Jenderal DPD RI Sudarsono Hardjosoekarto melaporkan dari Seoul, pertemuan Irman dengan CEO dan manajer Korea Selatan tersebut berlanjut ke sesi siang hari, Rabu (19/11). Irman memberikan sambutan pengantar makan siang khusus di depan sekitar 100 CEO dan manajer Korea Selatan.
Irman mengajak para pebisnis Korea Selatan untuk tidak ragu-ragu memperluas investasinya di Indonesia. Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah saat ini, dia menegaskan posisi penting para senator seluruh provinsi di Indonesia guna mendorong gubernur memastikan layanan terbaik kepada para investor.
Dalam kesempatan itu, Irman memperkenalkan senator yang hadir, yakni Muhammad Saleh (senator asal Bengkulu), Bahar Ngitung (senator asal Sulawesi Selatan), dan Habib Said Ismail (senator asal Kalimantan Tengah). Guna memberikan gambaran peluang investasi dalam acara makan siang itu, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam turut memberikan paparan.
(adv/adv)











































