Pantai Tanjung Bira akhirnya berhasil dicapai oleh tim petualang Daihatsu Terios 7 Wonders “Amazing Celebes Heritage” setelah 9 jam perjalanan melalui enam kota. Perut sudah habis terkocok-kocok akibat permukaan jalan rusak dan terjal sekitar 30 kilometer dari Sinjai menuju Tanjung Bira.
Hari saat sudah malam ketika tim tiba, sehingga kegiatan pertama yang dilakukan adalah mendirikan tenda di tepi pantai untuk beristirahat. Malam itu udara di tepi pantai cukup hangat dan kondisi laut sangat tenang sehingga tim dapat mengistirahatkan tubuh yang lelah dengan nyaman. Inilah bentuk petualangan yang sebenarnya.
Pagi hari, tim Daihatsu Terios 7 Wonders “Amazing Celebes Heritage” bergerak menuju Desa Bira, di kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba. Tim mengulik sejarah dan ketangguhan kapal Phinisi yang terkenal hingga mancanegara di desa yang menjadi sentral pembuatan kapal tersebut. Deretan kapal Phinisi yang baru setengah jadi di sepanjang pesisir pantai menyambut kedatangan tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keahlian merancang dan membuat kapal Phinisi secara tradisional diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Bira. Salah seorang pengrajin menuturkan suku Bugis yang tinggal di Bira percaya bahwa keahlian membuat kapal ini sudah ada sejak tahun 1.500 Masehi atau pada zaman nabi-nabi. Bahkan warga Bira juga percaya nenek moyang mereka terlibat dalam pembuatan bahtera Nabi Nuh.
Tidak ada perhitungan matematis, pembuatan cetak biru rancangan kapal, ataupun proses pengolahan kayu modern yang digunakan dalam pembuatan kapal ini. Para pengrajin Phinisi secara natural telah memiliki insting perhitungan dan perancangan Phinisi di dalam kepala mereka.
Lambung kapal dibuat dengan kayu bitti atau gofasa yang lentur sehingga mudah dibentuk. Jenis kayu ini juga tidak disukai cacing laut sehingga lebih awet. Kayu kemudian dibakar dengan cara tradisional agar dapat dibengkokkan mengikuti bentuk kapal. Peralatan yang dipakai pun sederhana. Oleh karena itu proses pembuatan bisa memakan waktu enam tahun.
Istimewanya Suku Kajang
Usai mengagumi mahakarya masyarakat Bira tentang keindahan dan ketaguhan kapal Phinisi di Tanjung Bira, tim Daihatsu Terios 7 Wonders “Amazing Celebes Heritage” kemudian melanjutkan perjalanan ke Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Tana Toa terdiri atas 3000 hektar kawasan desa adat atau Ama Toa yang dihuni sekitar 3947 penduduk dan 600 hektar hutan adat milik suku Kajang. Suku yang telah menghuni wilayah ini sejak 2.200 tahun lalu.
Suku ini berpakaian serba hitam sebagai gambaran proses hidup mereka. Suku Kajang meyakini bahwa mereka lahir dari rahim ibu yang gelap gulita. Oleh karena itu sepanjang hidup hingga kematian mereka juga harus dalam keadaan yang juga gelap gulita. Mereka juga menjalani cara hidup sederhana, tanpa teknologi. Meskipun desa mereka hanya berjarak 5 kilometer dari kota.
Rumah panggung terbuat dari papan yang dibangun tanpa satupun paku besi, yang dinilai sebagai benda hasil modernisasi, menjadi tempat tinggal mereka. Sedangkan, toilet dan kamar mandi dibuat dari tumpukan batu setinggi 1 meter di bawah pancuran air dari gunung. Suku Kajang hidup tanpa listrik dan alat elektronik. Untuk penerangan di malam hari cukup menggunakan obor saja.
“Kunrei kimas..,” sapa Punto Sabone, warga Kajang yang menjadi pemandu wisata tim dalam bahasa asli suku ini. Ia kemudian membawa tim menyusuri jalan setapak untuk memasuki Ama Toa. Jalan setapak tersebut tidak diaspal melainkan hanya terbuat dari tumpukan batu koral.
Tonjolan-tonjolan batu membuat telapak kaki nyeri. Rasanya seperti sedang dipijat refleksi saja. Tetapi Punto Sabone, warga Kajang yang menjadi pemandu wisata tim tetap santai berjalan dengan bertelanjang kaki tanpa kesakitan. “Setiap harinya kami melalui jalan seperti ini dengan telanjang kaki untuk bekerja menanam padi, jagung atau memanen ladang. Memang bercocok tanam jadi mata pencaharian utama di sini,” ujar Punto.
Kedatangan tim Daihatsu Terios 7 Wonders di Ama Toa ternyata bertepatan dengan diadakannya upacara Nikuatu Panrolli atau bakar linggis. Sebuah linggis besi dibakar hingga jadi besi menganga dan seorang pria mempraktekkan kesaktiannya dengan memegang besi menganga tersebut. Upacara ini seringkali digunakan untuk membuktikan kejahatan yang dilakukan oleh warga suku Kajang.
Ama Toa memang tidak mengenal hukum yang ditetapkan oleh pemerintah resmi. Desa adat ini memiliki sistem hukum sendiri. Selain itu, menurut Suku Kajang tanah di dalam Kecamatan Kajang ini tidak berada dalam wilayah hukum Indonesia sehingga tidak dapat diganggu-gugat dan diperjual belikan.
Malam tersebut hingga keesokan paginya, tim Daihatsu Terios 7 Wonders “Amazing Celebes Heritage” tinggal bersama suku Kajang dan mendalami kearifan lokal suku yang menjadi bagian kekayaan warisan budaya Sulawesi.
Saat ini, tim sudah menyeberang ke Kolaka dari Pelabuhan Bajoe untuk melanjutkan petualangan etape terakhir. Mereka selanjutnya akan berpetualang mengeksplorasi Tari Malulo dan keindahan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.
(adv/adv)











































