Menelusuri Keelokan Alam dan Warisan Budaya di Sulawesi

Daihatsu Terios 7 Wonders

Menelusuri Keelokan Alam dan Warisan Budaya di Sulawesi

- detikNews
Sabtu, 04 Okt 2014 00:00 WIB
Menelusuri Keelokan Alam dan Warisan Budaya di Sulawesi
Jakarta -

Sulawesi merupakan salah satu pulau di Indonesia yang menyimpan berjuta keindahan. Pemandangan alamnya kian mempesona. Begitu juga dengan warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat. Membicarakan pulau terbesar kesebelas di dunia ini seperti tidak ada habisnya.

Berjuta keindahan tersebutlah yang akhirnya memanggil tim petualang Daihatsu Terios 7 Wonders untuk menjelajahi pulau di timur Indonesia tersebut. Menggunakan 7 unit Daihatsu Terios tipe TX, tim yang terdiri atas lima travel blogger dan enam awak media menelusuri keindahan Sulawesi dan keagungan warisan budayanya.

Petualangan dimulai dari utara pulau ini tepatnya ibukota provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado. Tim petualang Daihatsu Terios 7 Wonders dilakukan secara seremonial di showroom Daihatsu Manado. Baru menginjak Manado untuk memulai petualangan tim Daihatsu Terios 7 Wonders sudah dibuat terpukau dengan semaraknya salah satu warisan budaya Sulawesi yaitu Tari Kabasaran, tarian perang khas Minahasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekelompok penari berkostum serba merah dengan hiasan kain tenun Minahasa. Kain ikat dengan hiasan bulu ayam jantan dan bulu burung menghiasi kepala mereka. Sejumlah gerakan ditarikan dengan tegas namun indah untuk menghibur tim petualang. Tepat pukul 07.30 waktu setempat Ichiro Otaki, Executive Officer PT. Astra Daihatsu Motor, mengibarkan bendera start sebagai tanda dimulainya petualangan.

Tujuan mereka pada etape pertama adalah Tompaso, sebuah kecamatan di kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang berjarak sekitar 45 -50 kilometer dari Manado. Untuk mencapai kecamatan ini tim petualang Daihatsu Terios 7 Wonders sempat terjebak kemacetan panjang di dalam kota Manado. Setelah lepas dari kemacetan, ketangguhan Daihatsu Terios TX yang mereka tumpangi pun masih harus menghadapi tantangan berupa jalan yang berkelok tajam, naik turun bukit, dan tikungan-tikungan. Mental mereka pun secara tidak langsung mulai teruji.

Perjalanan ke Tompaso memakan waktu kurang lebih lima jam. Lelah dan lapar sudah pasti. Tetapi keindahan Tompaso kembali menyuntikkan semangat ke dalam diri setiap anggota tim. Tiba di Tompaso, tim petualang disambut dengan satu lagi keunikan warisan budaya di Sulawesi yaitu alat musik tiup dari bambu dan kolintang.

Tompaso merupakan rumah dari kesenian orkestra musik tiup bambu yang merupakan warisan dari zaman penjajahan Portugis. Satu kelompok orkestra biasanya terdiri atas peniup seruling bambu, peniup tuba dan horn yang juga terbuat dari bambu. Sebuah museum juga didirikan di Tompaso tersebut untuk merangkum sejarah kemunculan alat-alat musik tersebut.

Menariknya, dalam museum tersebut tersimpan sebuah terompet raksasa dengan diameter mulut terompet seukuran 10 meter serta kolintang raksasa dengan panjang 20 meter dan tinggi 10 meter. Dua alat musik tersebut telah memenangkan Guiness Book World Record.

Sudah dibuat terpukau dengan koleksi alat musik bambu di dalam museum, tim petualang Daihatsu Terios 7 Wonders diperbolehkan berinteraksi dengan para seniman yang membuatnya. Mereka memperoleh wawasan baru mengenai bagaimana proses pembuatan alat music dan serangkaian kerajinan dari bambu lainnya, mulai dari pemilihan jenis bambu hingga proses mengolah bambu. Setelah itu mereka diajak berkreasi membuat beragam corak anyaman bambu menjadi sebuah lampion.

Tidak hanya itu, tim petualang juga berkesempatan mengunjungi Museum Narkoba, yaitu museum pertama di Indonesia yang menyimpan koleksi replika zat aditif. Sebanyak 422 nama-nama selebriti yang meninggal akibat narkoba pun dimuat di dalam museum ini. Tim petualang sekali lagi mendapat tambahan pengetahuan mengenai betapa bahayanya narkotika bagi tubuh dan efek negatif yang disebabkan bagi para penerus bangsa.

Petualangan etape pertama berakhir di Tompaso dan selanjutnya petualangan Daihatsu Terios 7 Wonders akan berlanjut di Torosiaje, tempat bermukimnya suku Bajo. Penasaran bagaimana kisah mereka di Torosiaje? Ikuti terus petualangan mereka menelusuri keindahan Sulawesi.

(adv/adv)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads