Dalam rangkaian peringatan hari jadinya yang ke-50, PT Angkasa Pura I (Persero) menggelar acara bedah buku From St. Louis to Seulawah karya mantan Menteri Perhubungan RI Jusman Syafii Djamal, bertempat di Grha Angkasa Pura I, Kemayoran, Jakarta, Rabu (02/04). Selain dihadiri oleh direksi dan pejabat di lingkungan Angkasa Pura I, acara ini juga dihadiri antara lain oleh Sekjen Indonesia National Air Carrier (INACA) Tengku Burhanuddin dan mantan Kepala Staf Angkutan Udara (KSAU) Marsekal TNI Chappy Hakim.
Menurut Jusman, dalam 40 tahun terakhir volume penumpang angkutan udara mengalami peningkatan hingga sepuluh kali lipat. Dalam periode yang sama, peningkatan volume angkutan barang lewat udara bahkan mencapai empat belas kali lipat. Catatan yang dicapai industri transportasi udara ini memang cukup meyakinkan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia dalam empat puluh tahun terakhir yang hanya meningkat tiga atau empat kalinya. Fakta ini menunjukkan bahwa transportasi udara merupakan sektor ekonomi yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan sektor lainnya, urai Jusman.
Berdasarkan hasil studi dari Boeing, Airbus, Japan Aircraft Development Corporation, serta International Air Transport Association (IATA), kesemuanya mengungkapkan hal yang sama, yaitu bila dilihat berdasarkan kawasan, volume lalu lintas udara diprediksikan akan mengalami pergeseran dari kawasan Amerika Utara dan Eropa ke kawasan Asia Pasifik. Asia Pasifik akan menjadi pusat bagi industri maskapai dan bandara di masa mendatang, tegas Jusman yang merupakan alumnus jurusan teknik mesin penerbangan ITB ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perkembangan industri penerbangan di tanah air juga terlihat dari kepadatan yang terjadi di bandara. Bahkan, Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng menurut Center for Aviation and Innovata (CAPA) tercatat sebagai bandara tersibuk di kawasan Asia Tenggaram mengalahkan Bandara Changi Singapura. Tiga bandara di bawah Angkasa Pura I juga termasuk dalam 10 bandara tersibuk di Asia Tenggara menurut CAPA, yaitu Bandara Juanda Surabaya di posisi ketujuh, Bandara Ngurah Rai Bali (8), dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (10), kata Jusman.
Pada saat Jusman menjabat sebagai Menteri Perhubungan di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, tercatat lima rancangan undang-undang berhasil diselesaikan menjadi undang-undang, salah satunya adalah Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Industri aviasi di Indonesia berubah seiring dengan diimplementasikannya UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan ini. Undang-undang ini adalah undang-undang yang sangat modern. Undang-undang ini menurut saya sudah dapat menjadi pijakan kita dalam memasuki ASEAN Single Aviation Market, kata Marketing and Business Development Business Angkasa Pura I Robert D Waloni.
Angkasa Pura I pada tahun 2013 lalu telah melayani sebanyak 71,9 juta penumpang di 13 bandara yang dikelolanya, tumbuh 9,7 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat 65,5 juta orang penumpang. Sementara untuk pergerakan pesawat tumbuh 7,3 persen, dari 642.446 pergerakan di tahun 2012 menjadi 689.526 pergerakan di 2013.
(adv/adv)











































