Kurang dari 24 jam lagi tahun 2012 akan berakhir. Segenap masyarakat telah bersiap untuk merayakan pesta detik-detik akhir tahun dengan berbagai cara. Jalan-jalan protokol dipersiapkan untuk menampung pesta rakyat, tempat-tempat hiburan bersolek bahkan arena lapangan kosongpun terkadang berubah wajah menjadi arena pasar malam.
Pemandangan kontras menyambut pergantian tahun terjadi di Pandeglang Banten. Akibat hujan yang terus mengguyur sejak 28 Desember 2012, warga desa di Pandeglang terpaksa melewati akhir tahunnya dengan tetesan air mata.
Berdasarkan pantauan tim lapangan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dilapangan, kondisi banjir bukan hanya melanda Kecamatan Patia namun sudah meluas ke kecamatan lainnya, antara lain Kecamatan Pagelaran. Belasan desa di kecamatan Pagelaran telah rusak parah antara lain Desa Rurianeun, Desa Idaman, Desa Patia, Desa Rahayu, Desa Cimoyan, Desan Babakan Keusik, Desa Ciawi, Desa Pasir Gadung dan Desa Turus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Musibah banjir yang melanda warga Pandeglang, menjadi ujian kepedulian masyarakat Indonesia untuk menandai suasana tutup tahun.
Masih bertahankah kegembiraan dalam pesta ria, saat menyaksikan ada orang lain justru tengah berjuang meregang nasib dan nyawa ditengah banjir yang menggelora?
(adv/adv)











































