Pasca serangan, kawasan umum di Gaza nyaris rata dengan tanah, menyisakan puing-puing gedung yang tak lagi bisa digunakan. Kesengsaraan yang nyaris rutin, disikapi dengan ketabahan luar biasa warga Palestina. “Perang, tak membuat rakyat Palestina di Gaza meninggalkan Gaza. Bagi mereka, bertahan Gaza adalah kawajiban meski harus menghadapi risiko diserang musuh,” ungkap Doddy CHP, ketua Tim SOS Palestine I – 2012 yang baru kembali dari Gaza, Palestina.
Kehadiran tim kembali di Indonesia, membawa sejumlah agenda jangka menengah dan panjang. “Salah satu rencana yang perlu dukungan kita, pembangunan sekolah menengah atas putri. Soalnya, di lokasi sekitar Jabaliya, tak ada sekolah menengah atas untuk putri. Yang ada, sekolah menengah untuk putra, itupun letaknya jauh dari pemukiman. Akibatnya, remaja putri Palestina selepas ibtidaiyah (sekolah dasar) dan tsanawiyah (menengah pertama), berhenti bersekolah,” ungkap Doddy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini mendorong ACT mendesain sekolah menengah atas putri di Gaza. “Kami mengajak berwakaf untuk pendidikan. Mendidik generasi putri Palestina, langkah penting bagi kemajuan dan pembenahan sumber daya manusia di Gaza. Betapa berarti, dukungan banyak pihak menghadirkan sekolah menengah putri di Gaza. Bantuan ini insyaAllah akan menggulirkan kemaslahatan jangka panjang,” ujar Doddy. Pembangunan sekolah putri setingkat SMA ini, sejalan dengan permintaan dari masyarakat dan dinas pendidikan setempat.
SOS Palestine, www.act.or.id
twitter:@SOS_Palestine
Call Center 021-741 4482
REKENING WAKAF UNTUK GAZA:
BNI SYARIAH 009 611 0239
PERMATA SYARIAH 0971 001 224
BSM 101 000 5557
BCA 676 030 0860
MUAMALAT 304 0023 015
a/n : Aksi Cepat Tanggap
(adv/adv)











































