"Memang ada koreksi terhadap pertumbuhan perekonomian global. Namun, bukan berarti kita harus ketakutan atau trauma. Saya ingin tunjukkan ke kawan-kawan kenapa kita harus optimis," kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, awal pekan ini.
Menurut Hatta, optimisme Indonesia itu ditopang oleh setidaknya tiga alasan.
Pertama, apa yang terjadi pada perekonomian global tidak berkaitan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Kedua, Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup sehat, yakni di atas 100 miliar dollar AS, jauh lebih tinggi dibanding saat krisis 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua pihak ikut berperan, baik peran BUMN, APBN, maupun BI. Antara lain dalam aksi pembelian (surat berharga negara di saat terjadi gelombang penjualan oleh investor asing)," tutur Hatta.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi gangguan akibat melemahnya perekonomian global, terutama di sisi ekspor. Krisis di belahan bumi lain dapat membuat tingkat permintaan atas produk asal Indonesia menurun.
"Meski demikian, rasio ekspor terhadap PDB kita hanya 24 persen. Jadi dampak dari pelemahan ekspor tidak akan terlalu besar (terhadap perekonomian secara keseluruhan)," jelas Hatta.
Jika gangguan terjadap ekspor memang benar terjadi, pemerintah tengah mempersiapkan penguatan pasar domestik yang diharapkan akan mampu menyerap produk ekspor yang gagal diperdagangkan di negara tujuan ekspornya. Salah satunya adalah menghilangkan perdagangn antarpulau yang bersifat menutup.
"Bisa jadi ada pemerintah daerah yang menolak masuknya produk dari daerah lain. Ini harus dihentikan, sehingga flows of goods (aliran barang) di dalam negeri terua berjalan. Masyarakat terus belanja karena daya belinya terjaga. Kita bersyukur karena konsumsi dalam negeri kita tinggi mencapai 70 persen, hanya 30 persen mengandalkan ekspor," jelas Hatta.
G-20
Lebih jauh, Hatta sangat mengharapkan ada perbaikan kondisi di zona Euro. Meski demikian, harapan pun tidak hanya diserahkan kepada para pemimpin Eropa, tetapi juga pemimpin dunia yang lain, termasuk diantaranya negara-negara yang tergabung dalam kelompok G-20, salah satunya Indonesia.
"Sebetulnya, harus kita lihat bahwa persoalan itu ada di Eropa. Para pemimpin negara di zona Euro harus bisa selesaikan persoalannya, terutama bagaimana mencapai kesepakatan untuk melakukan bailout (penyuntikan dana darurat)," ujar Hatta.
(adv/adv)











































