Hatta: Payung Stimulus Tak Perlu Dibuka Sekarang

Hatta: Payung Stimulus Tak Perlu Dibuka Sekarang

- detikNews
Selasa, 18 Okt 2011 14:00 WIB
Hatta: Payung Stimulus Tak Perlu Dibuka Sekarang
Jakarta - Sikap pada saat berhadapan dengan krisis sangat penting sebagai bagian dari upaya pemulihan krisis itu sendiri. Atas dasar itu, pemerintah bersikap siaga dalam menghadapi potensi pemburukan ekonomi dunia, dengan menyediakan "payung" kebijakan, antara lain mempersiapkan kemungkinan pemberian stimulus fiskal pada penduduk miskin yang perlu ditopang daya belinya.

"Pada krisis ekonomi saat ini, stimulus itu ibarat belum hujan tetapi sudah membentangkan payung. Meski demikian, kami sudah memiliki payung (kebijakan sejenis stimulus). Namun, payungnya sudah dipegang menkeu," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Senin (17/10/2011) usai menghadiri Rapat Koordinasi Penyelesaian Rancangan Undang-undang APBN 2012.

Menurut Hatta, penguatan benteng pertahanan ekonomi terhadap krisis global tetap dilakukan meskipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menata kabinet. Itu dimungkinkan karena pemerintah sudah memiliki protokol manajemen krisis yang sangat baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Komunikasi kami dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sangat baik, saling menukar informasi kami sangat baik, fundamental ekonomi kita juga baik, dan saya tetap percaya capital akan tetap flight to quality. Sepanjang kualitas pertumbuhan kita bagus, momentum pertumbuhan bagus, daya beli masyarakat kami jaga, inflasi kita rendah. Saya kok yakin kita akan jauh lebih baik daripada ketika kita menghadapi krisis 2008," ujarnya.

Meskipun modal perekonomian Indonesia sangat baik, namun Hatta meminta semua pihak tetap waspada pada dampak pemburukan ekonomi global terhadap Indonesia. Sebab, secara fundamental, perekonomian Indonesia jauh lebih baik, namun yang penting jangan menganggap enteng.

"Jangan anggap enteng karena bagaimana pun juga kami tetap mewaspadai, terutama kalau terjadi pelemahan permintaan di Eropa dan Amerika Serikat, dan India akan kena, berikutnya adalah kita (Indonesia). Itulah yang penting kita menjaga, yakni market domestik kita," tuturnya.

Penguatan pasar domestik dilakukan dengan memperluas pasar dan menjaga agar daya beli tetap kuat, yakni menahan laju inflasi. Dana APBN dialirkan dengan aliran deras ke masyarakat yang rentan tertekan daya belinya.

"Jangan sampai ada sumbatan dan efisiensi. Jangan lagi ada macam-macam pungutan di daerah. Industri kita tetap jalan, stimulus yang langsung mendorong daya beli masyarakat bawah sangat diperlukan agar daya belinya tertopang," ungkapnya.


(adv/adv)


Berita Terkait