Hatta : jilin horoc investasi 6 Miliar dollar

Hatta : jilin horoc investasi 6 Miliar dollar

- detikNews
Selasa, 20 Sep 2011 01:00 WIB
Hatta : jilin horoc investasi 6 Miliar dollar
Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Jilin Horoc Non-Ferrous Metal Group Ltd dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, kemarin (19/9). Perusahaan asal Tiongkok itu menanamkan modalnya sebesar US$ 6 Miliar untuk membangun tambang nikel di kawasan industri berbasis mineral di Sulawesi Tenggara. Pendanaannya didukung oleh Bank of Tiongkok.

Penandatanganan MoU itu dihadiri Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, Presiden Direktur Jilin Horoc Non-Ferrous Metal Group Ltd Wu Shu, dan perwakilan PT Billy Indonesia sebagai mitra lokal.

Selain membangun tambang nikel, Jilin Horoc membangun pula pembangkit listrik 1000 watt. Energi listrik yang dihasilkan dari pembangkit tersebut rencananya akan digunkan untuk kebutuhan di pabrik pengolahan nikel. Misalnya pengolahan 100.000 ton nikel. Sedangkan sisa listrik sekitar 300-350 watt disalurkan untuk kebutuhan listrik masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pembangunan tambang nikel tahap pertama sudah realisasi, termasuk pembangunan pembangkit listrik. Mereka sudah mulai bergerak dengan pertambangan nikelnya. Tapi industri pengolahannya belum," kata Hatta.

Rencananya Jilin Horoc Non-Ferrous Metal Group Ltd, perusahaan asal Tiongkok dan mitra lokalnya, PT Billy Indonesia serta perusahaan pemerintah daerah Sulawesi Tenggara akan membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral dan batu bara pada 2012. "Saya minta dipercepat pembangunan industri pengolahannya, jangan menunggu tahun 2012. Supaya bisa lebih cepat menyerap banyak tenaga kerja," kata Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Menurutnya, tambang nikel yang disertai pembangunan industri pengolahannya akan menyerap ribuan tenaga kerja lebih banyak. Lebih penting lagi, hasil kekayaan alam yang dikeruk tidak langsung dijual ke negara lain dalam bentuk mentah. Melainkan diolah dulu di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah. Semua perusahaan tambang juga akan dilarang mengekspor bahan mentah mulai 2014. Mereka harus membangun pabrik pengolahan dan mengolahnya terlebih dahulu di dalam negeri.

Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam meminta pemerintah pusat menetapkan daerahnya sebagai salah satu pusat pertambangan nasional. Karena Sulawesi Tenggara memiliki banyak cadangan mineral. Misalnya cadangan nikel saat ini sebanyak 97,4 miliar ton, emas 1,125 juta ton, dan aspal 3,8 miliar ton. "Kekayaan alam di daerah kami belum tergali secara optimal," katanya.


(adv/adv)


Berita Terkait