"Pelemahan nilai tukar rupiah hanya sesaat karena tidak berkaitan dengan fundamental ekonomi. Ini terjadi karena aksi ambil untung di pasar modal oleh para pemain luar negeri. Dan yang dilepas saham perbankan," kata Hatta sebelum mengikuti rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Senayan beberapa waktu yang lalu.
Menurut Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini, aksi ambil untung seperti itu sudah biasa. Perbankan nasional yang sahamnya dilepas sudah terbiasa dengan hal tersebut. "Saham yang dilepaskan itu saham perbankan, jadi kita harus sudah terbiasa. Anda tahulah kemana arahnya. Profit taking itu biasa," imbuh Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hatta melanjutkan, resesi AS dan Eropa tidak akan berimbas signifikan ke Indonesia. Tapi kalau China terpukul, maka gelombang berikutnya akan bisa mengganggu ekspor Indonesia. Karena itu, Indonesia harus memperkuat diversifikasi ekspor. Saat ini upaya itu sudah dilakukan. Perdagangan ekspor-impor di antara negara Asia semakin kuat.
"Indonesia juga terus meningkatkan nilai perdagangannya dengan negara-negara di Asia. Misalnya dengan Thailand sudah mencapai US$ 14 miliar per tahun. Perdagangan dengan Vietnam ditargetkan meningkat menjadi US$ 5 miliar pada 2015," jelas Hatta.
(adv/adv)











































