Hatta : Indonesia tidak selamanya impor beras

Hatta : Indonesia tidak selamanya impor beras

- detikNews
Kamis, 15 Sep 2011 11:17 WIB
Hatta : Indonesia tidak selamanya impor beras
Jakarta - Indonesia dan Vietnam sepakat meningkatkan volume perdagangan hingga mencapai US$ 5 miliar sebelum tahun 2015. Target tersebut lebih tinggi dari realisasi 2010 yang hanya US$ 3,3 miliar. Demikian diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung di Istana Negara, kemarin (14/9)

Menurut Hatta, Vietnam memiliki keunggulan dalam hal produksi beras. Indonesia pun mengimpor beras dari Vietnam dalam dua tahun terakhir. Saat ini Vietnam dengan Indonesia mempunyai perjanjian yang setiap tahun menyediakan 1 juta ton beras untuk kepentingan darurat masing-masing negara jika sedang membutuhkan. Kerja sama serupa terjalin antara Indonesia dengan Thailand.

"Kita harus meningkatkan kerjasama di bidang beras dengan Vietnam, jangan hanya soal perdagangan. Kita jangan berpikir Indonesia akan mengimpor beras terus. Suatu saat kita tentu akan ekspor juga," jelas Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hubungan dagang dengan Vietnam, lanjut Hatta, Indonesia memiliki banyak keunggulan, seperti potensi perikanan yang melimpah. Ke depan akan diatur bagaimana Vietnam dan Indonesia bisa menangkap ikan di koridor yang ditetapkan bersama.

"Di bidang kelautan dan perikanan, kedua negara akan segera menuntaskan kerangka kerjasama yang lebih konkret. Hal ini akan mencegah terjadinya penangkapan ikan illegal yang tidak dikehendaki," kata Hatta. Seperti diketahui, kekayaan laut Indonesia sering dijarah oleh para pencuri ikan. Sebagian mereka berasal dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Hatta melanjutkan, Indonesia juga akan menggenjot ekpor produk makanan dan minuman ke Vietnam untuk pencapaian target total perdagangan US$ 5 miliar sebelum tahun 2015. Indonesia sangat unggul di bidang produksi makanan dan minuman, di samping produk industri manufaktur lainnya seperti perkakas dan otomotif.

"Untuk meningkatkan volume perdagangan Indonesia-Vietnam, banyak yang bisa disumbangkan. Makanan dan minuman Indonesia sangat unggul di Vietnam. Kita tidak ingin terjebak pada ekspor batubara tetapi juga industri makanan dan minuman, industri manufaktur, perkakas, dan otomotif," jelas Hatta.

Pada prinsipnya, lanjut dia, Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan masing-masing. Dan setiap keunggulan kedua negara akan dipaketkan menjadi satu dalam kerja sama, yaitu kerjasama pangan. Dalam jangka panjang Indonesia dan Vietnam menjadi pilar bagi ASEAN untuk menyuplai pangan.


(adv/adv)


Berita Terkait