Seperti dilakukan salah satu tim pendukung pasangan no 3 Arsid-Andre yang mengatas namakan JPTS. Mereka memfitnah pasangan no 4 telah mebagi-bagikan uang untuk mendongkrak suara. Padahal bila mereka memang benar-benar memiliki bukti seharusnya laporkan langsung ke Panwaslu, bukan memainkan opini masyarakat.
“Ini permainan yang tidak sehat. Menuduh tanpa bukti, dan tidak menghormati prosedur yang ada. Harusnya bila mereka punya bukti, ya laporkan saja ke Panwaslu. Mereka telah melakukan pembohongan besar, karena kami tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Dan kami siap membuktikan kalo kami memang tidak melakukannya”, kata salah satu tim pemenangan pasangan no 4 Eddy Yus Amirsah di Pisangan Ciputat timur, (26/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada, Direktur Visi Indonesia Abdul Hamied mengatakan, pasangan no 3 memang lihai memainkan opini publik. Tidak hanya melalui media massa, tapi juga selebaran dan famplet yang sudah bisa dikategorikan kampanye hitam.
“Hingg kini saya sudah punya seabrek bukti, baik selebaran, famplet, maupun buletin. Paling parah kemarin mereka menyebarkan buletin yang mengumbar kebencian terhadap Airin dan selebaran yang berisi gambar Airin yang diberi taring. Sungguh ini berbahaya bagi masa depan demokrasi, bahkan bisa merusak solidaritas warga Tangsel,” kata Hamied.
Karena itu, Hamied mengajak masyarakat agar rasional menyikapi berbagai isu dan tidak mengorbankan solidaritas warga. Menurut Hamied, mendekati hari H, para kandidat semakin gencar memainkan emosi dan menumpulkan rasio warga.
“Berbagai cara dilakukan untuk itu. Salah satunya ya seperti dilakukan JPTS ini, menyebar kebohongan, fitnah, dan kebencian terhadap calon terkuat Airin-Benyamin. Kita hanya berharap, masyarakat tidak terpengaruh dengan permainan kotor mereka,” tandasnya. (adv/adv)











































