Mubarok: SBY Tak Punya Anak Emas

Jelang Kongres II PD

Mubarok: SBY Tak Punya Anak Emas

- detikNews
Kamis, 20 Mei 2010 13:55 WIB
Mubarok: SBY Tak Punya Anak Emas
Jakarta - Layaknya seorang demokrat sejati, ketua dewan pembina partai Demokrat memberikan kesempatan bagi seluruh kader terbaik partainya untuk bertarung memperebutkan kursi ketua umum partai Demokrat dalam kongres II Demokrat tanggal 21-23 Mei 2010. Sikap tersebut menandakan SBY mempersilahkan semua calon untuk berkompetisi secara sehat. SBY bahkan menegaskan dirinya tidak memiliki anak emas yang diutamakan dan anak tiri yang dikesampingkan.

Keyakinan akan netralitas SBY tersebut dikemukakan wakil ketua umum partai Demokrat, Ahmad Mubarok. Ia meyakini bahwa SBY adalah sosok yang mampu menyelaraskan ucapan dan tindakan. Pasalnya saat Rapimnas PD, SBY telah mengeluarkan pernyataan bahwa Ia tidak memiliki anak emas. "dalam Rapimnas Demokrat lalu Pak SBY mengatakan tak memiliki anak emas" ujar Mubarok ketika dimintai tanggapan mengenai pernyataan kubu AM yang menyatakan didukung SBY. Pernyataan senada dengan Mubarok dikemukakan pengamat politik Bachtiar Effendi dalam satu media cetak. "Saya tidak percaya SBY menganakemaskan seseorang. Kalau ada salah satu kandidat yang mengakui itu, harus diklarifikasi dulu. Benar nggak. Baru masyarakat akan percaya," turur Bachtiar. Memang hingga kini tidak ada pernyataan SBY yang mendukung salah satu calon ketua umum PD. Sikap netral SBY tersebut mencerminkan komintmennya terhadap demokrasi di internal partai yang ia rintis itu.

Kalangan pengamat pun menilai sikap terbaik yang diambil SBY adalah netral. "Kalau SBY intervensi, DPC tidak akan dapat menyatakan pilihannya dengan bebas" Ujar Valina Singka Subekti yang juga direktur program pasca sarjana Ilmu Politik UI. Di tempat terpisah, Tjetje Hidayat Padmadinata juga satu pandangan dengan Valina. "SBY harus bersikap netral dalam pemilihan ketua umum, supaya tidak menimbulkan masalah baru di tubuh partai" papar pengamat politik itu.

Keselarasan ucapan dan tindakan SBY menjadi kunci demokrasi di tubuh demokrat. Netralitas ketua dewan pembina dengan tidak menganakemaskan satu calon Ketum dan membiarkan DPC dan DPD bebas menentukan pilihan mereka tanpa intervensi akan jauh lebih terasa bijak dan membuat publik menyadari bahwa demokrat mampu menjadi model demokrasi di Indonesia. (adv/adv)


Berita Terkait