Pasalnya, kata Yunarto lagi, sejak awal AM sudah mendapat restu SBY, "Walau tak secara implisit," tandasnya. "Tapi dengan banyaknya elit Demokrat dan keluarga Cikeas yang mendukung Andi itu bukti bahwa memang sejak awal SBY menginginkan Andi," tukasnya. Selain itu, sambungnya lagi, kubu AM juga ditopang oleh iklan serangan udara yang dahsyat. Kubu Anas, menurutnya, baru melakukan ‘serangan udara’ dalam sepekan sebelum Kongres. "Iya apakah waktunya cukup (untuk membalikkan keadaan)? Saya rasa tidak," jelasnya.
Tak heran Yunarto menggambarkan, metode yang paling memungkinkan adalah lewat money politics. Pertanyannya, Yunarto lagi, bila melihat dari sisi keuangan, justru kubu AM yang paling mungkin lakukan money politics, tapi ini malah sebaliknya. "Angelina (Sondakh) tim sukses Anas keberatan atas metode e-voting dalam kongres, ini kan aneh," urainya. Justru, kubu AM tidak merasa keberatan sama sekali. "Karena bila pakai e-voting, money politics akan susah dilakukan," tukasnya. "Kok kubu Anas yang takut e-voting?" Yunarto lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Justru, dia membenarkan yang dilakukan kubu AM. "Uang besar itu lebih bagus untuk iklan, kampanye di berbagai media," tambahnya. Memang, Nachrowi Ramli, ketua tim pemenangan "AM for PD-1" menerangkan, maraknya iklan AM di berbagai media cetak dan televisi, termasuk baliho yang menguasai hampir se-Indonesia, "Untuk membuktikan bahwa AM bukan hanya milik Demokrat, tapi seluruh rakyat Indonesia," terangnya. Soal money politics,"Kami tidak akan melakukannya, karena Ketua Dewan Pembina, Pak SBY secara tegas melarang demikian," tambah Radityo Gambiro, Ketua DPP PD yang juga tim sukses AM. (irw) (adv/adv)










































