Anas Urbaningrum: Intelektual dan Aktivis yang Tak Henti Berkarya

Jelang Kongres II PD

Anas Urbaningrum: Intelektual dan Aktivis yang Tak Henti Berkarya

- detikNews
Selasa, 18 Mei 2010 10:24 WIB
Anas Urbaningrum: Intelektual dan Aktivis yang Tak Henti Berkarya
Jakarta - Di tengah hiruk pikuk persiapan Kongres PD II, Anas Urbaningrum yang merupakan salah satu calon ketua umum Demokrat justru mengguncang jagat intelektual dengan pidato kebudayaannya. Seolah tak mau larut dengan situasi politik yang kian menghangat, intelektual lulusan terbaik ilmu politik Universitas Airlangga ini berteriak lantang tentang demokrasi melalui pidato kebudayaannya yang bertajuk Membangun Budaya Demokrasi yang diselenggarakan di gedung teater Djakarta, Minggu (16/5).

Dalam pidatonya Anas menyebut beberapa hal yang mengganggu kultur demokrasi Indonesia, diantaranya adalah patronase, politik uang dan sub-nasionalisme atau syndrome kedaerahan, serta penghargaan yang lebih tinggi pada askripsi dibandingkan prestasi.

Anas juga memaparkan konsep demokrasi produktif, "demokrasi produktif adalah demokrasi yang dapat memberi solusi, insentif pada politisi yang berbuat bagi rakyat, dan demokrasi tersebut dapat membawa manfaat, terutama kesejahteraan bagi rakyat" papar Anas saat membacakan pidato kebudayaannya. Menurutnya juga, demokrasi yang produktif hanya akan dicapai bila benalu demokrasi dapat dihilangkan sehingga kompetisi tidak lagi menjadi zero sum game, dimana yang menang akan menyingkirkan yang kalah, serta yang kalah akan menjadi kecewa dan tidak lagi berkarya. " Idealnya kompetisi itu sebagai kontestasi ide, kemudian setelahnya yang menang harus dapat merangkul yang kalah untuk sama-sama bekerja" kata mantang ketua PB HMI itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata panasnya suhu politik internal Demokrat tidak menghentikan langkah laki-laki sederhana itu untuk terus berkarya menyumbangkan buah pikirannya bagi bangsa tercinta dan mewujudkan mimpi besarnya mengawal reformasi serta demokrasi di negara ini. Hal tersebut terungkap dari pernyataan Ryass Rasid yang mengatakan bahwa Anas itu sederhana dan tidak reaktif dalam menanggapi sesuatu, Ryass memilih Anas menjadi anggota tim tujuh bukan karena dia HMI, tapi karena ia tahu Anas adalah intelektual yang mau belajar dan berkarya. Selain pidato kebudayaan tersebut, kiprah Anas di dunia intelektual telah dibuktikan melalui sembilan judul buku yang dihasilkannya, dua diantaranya adalah Bukan Sekadar Presiden dan Takdir Demokrasi. (adv/adv)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait