Bukan itu saja, Nova juga punya pengalaman tersendiri. Kisahnya, tahun 2006 lalu Nova bersama sejumlah dokter spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas Indonesia (UI) bertemu dengan AM di Istana Negara. "Kala itu dia masih menjabat sebagai juru bicara presiden," ceritanya. Kebetulan yang beraudiensi itu adalah akademisi "kesehatan jiwa". Topik yang dibincangkan pun seputar "kesehatan jiwa". Nova tergaket, ternyata AM bersedia. "Kok dia mau terima, padahal ‘kesehatan jiwa’ itu sangat tidak populis sekali, tapi tetap dia anggap itu penting" tuturnya.
Sejak itulah Nova memandang AM bukanlah sosok sembarangan. Karena biasanya tokoh politik hanya mau menerima dan memainkan isu yang berguna bagi kepentingan politiknya saja. "Hebatnya, ternyata dia juga memahami soal ‘kesehatan jiwa’, itu yang membuat kami kaget," cerita Nova lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beda halnya dengan AM. Nova memuji AM yang berhasil total menjadi juru bicara SBY. "Dia jadi jubir total betul, mendalami dengan baik SBY," katanya. Bahkan, sambungnya lagi, AM bisa membahasakan masalah kenegaraan dengan gaya bicara yang bisa dicerna oleh seluruh lapisan masyarakat. "Itu keahlian yang tidak dimiliki sembarang orang," ucapnya.
Selain itu, bagi Nova, sosok AM itu sangat luar biasa dalam menjaga popularitasnya. "Bila orang populer tapi tak punya prestasi, tentu akan redup, tapi dia ini tidak tenggelam-tenggelam, malah terus berjaya", katanya sambil tertawa. Untuk bisa mencapai itu, sambungnya, tentu dibutuhkan keahlian besar."Bayangkan bila hal itu dilakukannya untuk Demokrat," ujarnya.
Satu hal yang menarik, Nova berkisah bahwa dia mengenal AM yang berasal dari keluarga atlet tenis. "Dia pasti berjiwa sportif, karena dari keluarga atlet, sudah terlatih dengan baik jiwa sportifitasnya," tegasnya. (irw) (adv/adv)










































