Pertarungan Anas Vs Andi = Anak Guru Vs Anak Bupati

Jelang Kongres II PD

Pertarungan Anas Vs Andi = Anak Guru Vs Anak Bupati

- detikNews
Minggu, 16 Mei 2010 13:30 WIB
 Pertarungan Anas Vs Andi = Anak Guru Vs Anak Bupati
Jakarta - Menjelang Kongres II Partai Demokrat (PD) digelar, perhatian publik sering kali tercuri oleh hiruk pikuk pemilihan ketua umum PD yang akan diramaikan oleh Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng. Wacana seputar klaim dukungan Cikeas dan DPC, serta pemilihan secara aklamasi menjadi topik yang terus berkembang dan membingungkan masyarakat.

Publik pun dibikin lupa melihat siapa dan dari mana para calon ketua umum partai terbesar di Indonesia itu berasal. Hal ini sangat penting untuk membaca dan melihat siapa yang sesnungguhnya layak dan pas memimpin PD yang demokratis dan peduli rakyat kecil.

Mencermati kedua kandidat pemimpin partai yang identik dengan warnabiru itu, ada hal menarik yang jarang diketahui publik. Rupanya pertarungan ini adalah pertarungan antara seorang anak guru dari desa Ngaglik-Blitar melawan mantan putra Bupati Parepare.

Anas sang anak guru yang sederhana mengejar mimpinya melalui jurusan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Ia berhasil menjadi mahasiswa teladan dan lulusan terbaik ketika menyelesaikan studinya. Semasa kuliah, Anas muda mulai meniti karier organisasinya melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di tingkat kampus, lalu kinerjanya yang luar biasa menghantarkannya ke panggung aktivisme nasional, yaitu menjadi ketua PB HMI tahun 1997/1998.

Asyik dengan kegiatan organisasi dan politiknya, Anas Urbaningrum tak abai akan dunia pendidikan. ia melanjutkan studi magisternya di Universitas Indonesia pada tahun 2000. Dan kini ia sedang merampungkan studi doktornya di UGM.

Sementara Andi yang putra mantan Bupati Parepare merupakan alumnus jurusan ilmu pemerintahan UGM. Dia meraih gelar Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1997. Andi mengawali kiprahnya di ruang publik sebagai pengamat politik di tanah air sebelum dia bergabung dengan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) pimpinan Ryas Rasyid sebagai sekjen partai itu.

Dua orang calon kuat ketua umum PD tersebut pernah bekerja sama dalam tim tujuh dan tim sebelas di bawah Ryas Rasyid. Kebersamaan mereka berakhir ketika Anas menjadi anggota KPU dan Andi menjabat sekjen Partai Demokrasi Kebangsaan. Anas mengawal perubahan sistem pemilu dan Andi menjadi sekjen partai yang bahkan tidak lolos electoral threshold. Andi yang juga mencalonkan diri sebagai Caleg dari PDK juga tidak bisa mempertahankan dirinya bisa masuk senayan, alias gagal.

Kini dua sahabat lama itu lalu bertemu kembali di Partai Demokrat dengan sama-sama menjadi politisi yang mewarnai dinamika politik internal PD. Kini sang anak guru dan putra mantan bupati kembali bertemu, namun bukan dalam rapat tim tujuh atau tim sebelas, melainkan berhadapan di Kongres II PD untuk memperebutkan posisi ketua umum PD.

Ini adalah fakta yang memperlihatkan bahwa Demokrasi di Indonesia membuka kesempatan berkompetisi bagi siapa saja. Demokrat sebagai miniatur Indonesia tengah membuktikan bahwa di negara muslim terbesar ini kontestasi ide di buka lebar tanpa mempedulikan ide itu datang dari anak petani atau putra bupati. Semoga demokratisasi yang mulai terwujud ini tidak dicederai oleh prilaku politik kotor yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan sebagai ketua umum PD. (ddn/yid)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads