"Andi tak pernah memimpin sebuah organisasi besar, dengan tingkat potensi konflik yang tinggi. Ia lebih sering berkomentar dan berbicara atas nama orang lain," ujar pengamat plitik dari LIPI Siti Zuhroh, di Jakarta siang tadi.
Menurutnya, dengan posisi Partai Demokrat sebagai partai terbesar saat ini, dibutuhkan seorang Ketua Umum yang tahu bagaimana menggerakkan mesin partai secara efektif. Selain itu, dibutuhkan juga sosok yang punya keahlian memperkuat infrastruktur partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dibandingkan dengan Anas, kapabilitas Andi sebagai seorang organisatoris masih dipertanyakan. "Pada saat konflik pansus Century, Anas berhasil menjaga keutuhan suara Partai Demokrat. Sementara kader-kader Demokrat lain yang lebih senior, seperti Hayono Isman, gagal memberikan kontribusi untuk meyakinkan mantan koleganya di Golkar untuk sejalan dengan Demokrat," lanjut Siti.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPR-RI Benny K Harman mengatakan, baik Andi maupun Anas sama-sama berotak cerdas. "Namun untuk urusan kepemimpinan, pengalaman dan visi, Anas jauh lebih baik meskipun secara usia Andi jauh lebih tua," tandas Benny. (adv/adv)











































