Tapi, di mata para pengamat politik, perbedaan kualitas dan kans antar kandidat sebenarnya sudah jelas sekali. Andi dianggap lebih unggul dibandingkan Anas. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Maswadi Rauf termasuk meyakini penilaian tersebut. "Andi punya peluang lebih baik dari Anas, " tukas Prof Maswadi, mantap. Dosen senior Fisip UI ini memandang keduanya memang sama-sama punya semangat dan integritas. "Tapi tetap saja Andi lebih bagus secara politik dibanding Anas," terangnya tatkala ditemui di Jakarta (10/05).
Dalam pandangan Maswadi, Andi lebih punya jejak rekam yang cukup bagus selama menjadi fungsionaris Demokrat. "Pengalamannya juga luas, wawasan yang kaya, serta komunikasi politik yang intens dengan seluruh kalangan di Demokrat, termasuk dengan kader diseluruh daerah, itu tidak bisa dilakukan kandidat lainnya," paparnya lagi. "Dan, yang terpenting adalah Andi dikenal memiliki kedekatan emosional dengan SBY, di sini Anas lemah," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kacamata Maswadi, kemampuan Anas sebagai politisi cukup lumayan, namun itu saja sangat tidak cukup. Pasalnya, pengalaman makan asam garam, jejak prestasi menonjol juga perlu jadi ukuran kematangan memimpin parpol juara sekaliber Partai Demokrat "Jam terbang yang relatif kecil di Demokrat merupakan kelemahan Anas," katanya. Dalam politik, para politisi harus jeli dan cermat mengukur diri. Artinya, jangan terlalu "maksa" untuk duduki jabatan puncak. Maswadi sendiri menilai Anas lebih pantas duduk sebagai sekjen-nya Andi."Saya mengusulkan yang kalah jadi sekjen saja," kata Guru Besar UI ini lagi.
Sebelumnya, pengamat politik CSIS, J Kristiadi juga mengungkapkan, "Jangan sampai Andi dan Anas seperti cerita Mahabarata, Arjuna dan Karna yang saling menafikan," katanya di dalam acara diskusi di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Minggu (9/05) lalu. (irw) (adv/adv)











































