Saat awal pemulangan jamaah haji awal Desember 2009, lalu lintas di bandara King Abdul Azis, Jeddah mengalami frekuensi kedatangan dan keberangkatan yang sangat padat.
Setiap hari terjadi sekitar 200 hingga 260 penerbangan di bandara tersebut untuk mengangkut pemulangan jamaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Padatnya aktivitas di bandara tersebut membuat seluruh jadwal penerbangan angkutan haji Garuda maupun Saudi Airlines mengalami keterlambatan antara tiga sampai empat jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keterlambatan penerbangan tahun ini ditengarai juga karena adanya banjir besar di kota Jeddah yang mengakibatkan rusaknya sistem informasi penerbangan, demikian ujar Sekretaris Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), drs HA. Ghafur Djawahir.
Delay atau keterlambatan juga dialami Menteri Agama Suryadharma Ali saat mengawali pemulangan rombongan jamaah haji Rabu (2/12) dari Jeddah. Pesawat Garuda dengan kloter JGK-01 ketika itu terlambat sekitar tiga jam. Keterlambatan juga dialami sejumlah rombongan jamaah haji lain menuju beberapa debarkasi.
Untuk mengantisipasi terjadinya delay penerbangan kepulangan itu, pihak PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji) Daerah Kerja Jeddah meningkatkan koordinasi dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines (SAA), terutama dalam hal mempercepat informasi tentang keterlambatan penerbangan. Langkah ini terbukti mampu memberikan ketenangan kepada para jamaah haji yang terkena keterlambatan penerbangan menuju Tanah Air.Β "Jika pesawat delay, maka jamaah kloter yang terkena delay tetap di hotel transit," ujar Subhan Cholid, Kadaker Jeddah.
Terkait dengan persoalan keterlambatan penerbangan, menurut Subhan Cholid, pihak Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines (SAA), menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan memperbaikinya.
Keterlambatan penerbangan pun mulai berkurang setelah selesainya pemulangan jamaah haji dari negara berkuota sedikit, seperti Australia, Inggris dan Kanada serta jamaah dari negara tetangga Arab Saudi, karena kepadatan di Bandara KAA juga telah berkurang.
Sejak awal pemulangan jamaah haji, 2 Desember 2009, Garuda dan SAA telah menerbangkan 77.800 jamaah haji kembali ke Tanah Air dalam 216 kloter atau sekitar 40,5% (data per 17 Desember 2009).
Sisanya, akan diterbangkan dalam kurun waktu hingga 31 Desember 2009. Jika sejak tanggal 2 Desember 2009 keberangkatan hanya dari bandara KAA, Jeddah, maka mulai 17 Desember 2009 keberangkatan penerbangan menuju Tanah Air juga dilakukan melalui bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMMA), Madinah.
Pelayanan transportasi menjadi perhatian Departemen Agama. Maklum, moda transportasi darat dan udara merupakan kunci kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Upaya peningkatan pelayanan yang senantiasa dilakukan dari waktu ke waktu oleh Departemen Agama.
Pihak Garuda misalnya, untuk melayani penerbangan haji menggunakan 15 pesawat jenis Boeing 747, Boeing 767 dan Airbus 330 yang usianya relatif masih muda. Demikian pula yang dilakukan Saudi Arabian Airlines.
Sedangkan peningkatan pelayanan transportasi darat selama di Arab Saudi menggunakan bis-bis yang dilengkapi AC. Armada bus disediakan oleh pihak Naqaba. Selain memberikan kenyamanan selama perjalanan, peningkatan pelayanan juga ditujukan untuk menjaga ketenangan jemaah. (adv/adv)











































