Layanan yang paling banyak disorot selama lima hari di Arafah-Mina (Armina) adalah katering. Bukan semata karena lokasinya di tengah padang gersang, sehingga akses makanan tidak mudah, tapi juga karena ada pengalaman kisruh katering Armina pada musim haji 2006/2007. Bila layanan katering terganggu, kekhu-syukan puncak ibadah juga terganggu.
Β
Menteri Agama Suryadharma Ali dan Menko Kesra Agung Laksono yang berada di Arab Saudi untuk mengendalikan langsung penyelenggaraan haji, terus menekankan pada Panitia Penyelenggaran Ibadah Haji (PPIH), agar memastikan layan-an katering Armina berjalan baik. Tim Pemantau DPR juga memfokuskan perhatian pada layanan ketering Armina, selain pemondokan dan layanan kesehatan.
Menurut keterangan sekretaris Ditjen PHU Depag RI, Drs. H. M.A. Ghafur Djawahir dalam acara Chief Editor Gathering pada pertengahan November di Jakarta, ada tiga kelompok layanan katering yang disediakan PPIH. Pertama, saat jamaah berada di Madinah selama delapan hari. Kedua, ketika jamaah berada di Armina selama lima hari. Ketiga, selama jamaah haji transit di Jeddah. Di Madinah, jamaah mendapat makanan dua kali sehari (siang dan malam). Di Armina, jamaah memperoleh makan tiga kali sehari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layanan katering di Madinah pada periode sebelum wukuf, untuk jamaah Gelombang I, berjalan baik dan tepat waktu. Kepala Daerah Kerja Madinah Drs H Cepi Supriatna memastikan situasi itu kepada Media Center Haji. Para jamaah pun mem-benarkan hal itu.
Kalaupun ada keluhan, lebih pada perbedaan cita rasa nasi yang disajikan dengan nasi yang biasa di makan jamaah di tanah air. Ada jamaah yang merasa, nasinya seperti raskin (beras gratis untuk penduduk miskin). Padahal, yang dimasak adalah beras bermutu, impor dari beberapa negara, seperti India, Thailand, juga Indonesia. Tapi beberapa jamaah belum bisa menyesuaikan cita rasa.
Sisi lain, banyak juga jamaah yang puas dengan sajian menunya. Bila ada beberapa menu yang kurang cocok, sebagian jamaah mengatasi dengan membeli lauk pauk dari rumah makan sekitar.
Ada usulan dari jamaah, agar pada periode mendatang, panitia haji juga menyediakan sarapan. Hal itu terutama di-butuhkan jamaah lanjut usia. Sekjen Depag, Bahrul Hayat, akan mengevaluasi dan mem-pertimbangkan usulan tersebut. Karena hal itu menyangkut pembiayaan, sehingga perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan DPR.
Layanan katering di Ma-dinah dikelola dua belas peru-sahaan. Porsi tanggungan tiap perusahaan berbeda. Ada yang menangani 8 ribuan jamaah, ada pula yang sampai 38 ribuan. Total jamaah yang dijamu di Madinah 194.500 orang.
Untuk memastikan higie-nitas makanan, ada Tim Sanitasi dan Surveilance dari Misi Haji Indonesia yang langsung meng-awasi ke dapur. Dalam salah satu inspeksi, pernah dijumpai dapur kotor dan bau karena saluran air mampet. Pihak peru-sahaan langsung merespons dengan menyedot saluran yang mampet.
Bertolak dari pengalaman sukses di Madinah sebelum wukuf, PPIH sudah melaku-kan berbagai langkah untuk menjamin sukses pula pada katering Armina. Sebelum Men-teri Agama dan Menko Kesra tiba, Amirul Haj yang juga Sek-jen Depag, Bahrul Hayat, dan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Slamet Riyanto, terus memimpin koordinasi, baik internal PPIH, maupun eksternal, dengan mitra pelaku usaha Saudi, untuk memastikan kelancaran katering Armina.
Tahun ini, sebagaimana tiga musim haji sebelumnya, katering Armina disajikan secara prasmanan. Agar menunya tidak mudah basi. Menurut Kepala Pengawasa Katering Armina PPIH, Sri Ilham Lubis, selama sehari di Arafah dan empat hari di Mina, jamaah menerima 16 kali makan.
Setibanya di Arafah pada malam sebelum wukuf, jamaah memperoleh makan malam. Seharian di Arafah, jamaah menerima makan pagi, siang, dan malam. Menjelang kebe-rangkatan ke Muzdalifah, jamaah mendapat kotak ma-kanan ringan berisi biskuit, jus, air mineral, dan buah. Saat di Mina, jamaah diberikan sarapan pagi, makan siang dan malam hingga selesai Nafar Sani, tanggal 13 Dzulhijah.
Penyedia katering Armina terbagi dua kategori. Pertama, disediakan oleh 13 perusahaan katering yang ditunjuk Misi Haji Indonesia. Kedua, disediakan oleh Muasasah, pelaku bisnis lama dalam katering Armina. Tahun 2006 lalu, kerja sama dengan Muasasah dalam penyediaan katering diputus, dialihkan ke perusahaan baru, tapi terjadi kisruh pasokan katering. Setahun setelah itu, penyedia katering dibagi dua. Muasaah masih diberi peran, dan hampir separuhnya dise-rahkan konsorsium kepada perusahaan lain.
Katering yang dipasok non-muasasah diperuntukkan buat 32 maktab (dari maktab 1 sampai maktab 32). Katering yang disediakan Muasasah untuk 38 maktab (dari maktab 33 sampai 70). Tiap maktab menampung 2.500 sampai 3.000 jamaah. Tiap maktab berisi 7-8 meja. Satu meja untuk 375 jamaah. Jadwal melempar jumrah disesuaikan jam makan.
Biaya untuk seluruh paket makan di Armina senilai SR 275 (Rp. 687,5 ribu) per jamaah. Rinciannya, SR 215 (Rp. 537,5 ribu) untuk makan dan SR 60 (Rp. 150 ribu) untuk melayani logistik, sarana, kebersihan dan penempatan bahan baku. Per porsi makan senilai SR 13,4 (Rp. 33,5 ribu). Ini lebih efisien di-banding sebelum 2006, yang harga per porsinya SR 20 (Rp. 50 ribu), dengan menu nasi putih berlauk sekerat daging dan kecap.
PPIH menyiapkan 2 orang pengawas katering untuk tiap maktab. Penyajian diharapkan cepat, karena lokasi dapur dekat dengan tenda jamaah haji. Dengan antisipasi tepat, layanan berjalan lancar, jamaah pun khusyuk beribadah. (adv/adv)











































