Versi pertama menyoal masalah pendidikan gratis - yang belakangan gencar dipromosikan pemerintah lewat aneka rupa media. Versi kedua terkait utang luar negeri yang sontak melonjak. Sementara versi ketiga memotret buramnya perekonomian Indonesia.
Sebagaimana iklan-iklan terdahulu - yang juga sempat dicekal penayangannya oleh Trans TV, Trans 7, Tv One, dan RCTI - ketiga versi iklan itu juga memotret fakta, disertai dengan data. "Apa yang kami tayangkan berdasarkan fakta, bukan rekayasa," tandas Fadli Zon, Sekjen Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cuplikan visual dan narasi dalam iklan tersebut, antara lain, sebagai berikut: "Saudara-saudara, Merdeka! Mulai tahun 2009 sekolah gratis." Narasi ini menggambarkan promosi pemerintah tentang sekolah gratis - yang belakangan ini getol dilakukan.
Si anak, yang kebetulan mendengarkan pemberitahuan - yang disiarkan lewat radio - tersebut langsung bersorak gembira. Namun, tiba-tiba radio diambil orang tuanya sembari berucap " Maaf ya nak, radio ini harus dijual. Ini semua untuk membeli buku sekolahmu," kata ibunya. Si anak pun kemudian menyahut, "Lho, tapi berita di radio katanya..."
Sulit dimungkiri, iklan Mega-Prabowo yang menyoal pendidikan gratis itu sebintang dengan kenyataan yang ada di lapangan. Hingga kini, faktanya para orang tua murid di berbagai daerah terus saja mengeluh, lantaran masih dipungut rupa-rupa biaya sekolah: mulai dari uang gedung, buku paket, hingga seragam. Belum lagi biaya untuk kegiatan ekstra kurikuler.Β
Bahkan, belum lama ini di Mungkid Magelang, ratusan orang tua murid menggelar aksi demo di depan Kantor Pemkab menyoal iklan pendidikan gratis karena mereka nilai bohong. "Program pendidikan gratis itu bohong. Tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya," tandas Wahyu Sukmo Hadi, koordinator aksi.
Karena itulah, Fadli mengaku heran dengan ditolaknya penayangan ketiga versi iklan Mega-Prabowo tersebut oleh sejumlah stasiun tv. Pasalnya, yang diungkap dalam iklan itu adalah fakta. Padahal, iklan pendidikan gratis dari pemerintah yang tidak sesuai dengan kenyataan justru gencar ditayangkan.
Fadli menengarai ada pihak tertentu di luar stasiun tv yang berada di balik pelarangan iklan kampanye Mega-Prabowo tersebut. "Apalagi, sesuai aturan main, iklan-iklan kami sudah lolos Lembaga Sensor Film," katanya. (adv/adv)











































