Adegan mengharukan - yang luput dari sorotan kamera - tersebut terjadi Rabu (1/7) sore, ketika putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo itu hendak meninggalkan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, usai menghadiri acara Istighosah yang dilakukan para kyai, habib, mubalig, dan pimpinan majelis taklim.
Ketika itu - sembari berjalan meninggalkan tempat - Prabowo terlibat pembicaraan denganΒ 'Kyai Sejuta Umat' Zainuddin MZ dan KH Nuril Arifin, pengasuh Ponpes Soko Tunggal Semarang. Mendadak, seorang pemulung datang menghampiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesaat kemudian - di tengah linangan air mata - si pemulung itu berucap lirih, "Saya ini seorang pemulung Pak. Mau makan saja susah. Saya sebenarnya tidak mau jadi pemulung... Saya mendoakan Mega Prabowo menang." Mendengar doa tersebut, Prabowo tampak menitikkan air mata.
"Terimakasih Ibu telah mendoakan saya menang. Mudah-mudahan nasib Ibu dan yang lainnya bisa berubah," kata Prabowo dengan wajah berkaca-kaca, sambil tetap menggenggam tangan si pemulung.
Si pemulung itu lantas berkeluh kesah sebentar, sebelum kemudian - sembari menenteng karung - kembali meneruskan pekerjaannya: mengais gelas dan botol air mineral yang berserakan di sekitaran Tugu Proklamasi. (adv/adv)










































