SBY ketika berkampanye di GOR Flobamora, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/6) dalam orasinya mengatakan tidak mengharapkan ada kapitalisme rambut hitam yang mendominasi perekonomian dalam negeri. SBY secara gamblang menolak dominasi asing sejalan dengan penolakannya terhadap dominasi dalam negeri yang tidak memberi rasa kedailan untuk semua.
Soni menganalisis, melalui pernyataannya SBY mencoba menepis serangan yang datang dari dua pasangan capres-cawapres yang lain. Tapi, pendefinisian yang dibuat SBY keliru. Lanjut Soni, "SBY mengacaukan makna kapitalisme dan kapitalis." Soalnya imbuh asisten Mubayarto itu, pedagang kaki lima juga kapitalis. Padahal, semua pasangan, bahkan yang neolid sekalipun berupaya menarik empati mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsekuansi paling krusial, kalau SBY menerima kapitalisme, baik asing maupun pribumi, jelas itu tidak memenuhi amanat konstitusi. " Ya bahaya. Kalau SBY terima kapitalisme, ya itu melanggar konstitusi. Soal dominasi pribumi adalah amanat konstitusi," kunci Soni mengingatkan (adv/adv)











































