Keharuan kian terlihat tatkala seniman Bandung, Wawan Sofwan, membacakan sebagian dari pledoi Bung Karno yang saat itu diadili bersama tokoh nasionalis lainnya, yakni Gatot Mangkoepradja, Soerpriadinata, dan Maskoen. Toean-toean Hakim, demikian Wawan menirukan pledoi Bung Karno, imperialisme boekan sadja sistem ataoe nafsoe menakloekkan negeri dan bangsa lain. Tapi imperialisme bisa djoega hanja nafsoe ataoe sistem mempengaroehi ekonomi negeri dan bangsa lain.
"Saya merasa, seakan roh dan jiwa Bung Karno masih di sini," ujar Prabowo, yang datang untuk menjadi pembicara dalam dialog "Nasionalisme dan Kedaulatan Ekonomi" yang diikuti tokoh-tokoh Sunda dan para akademisi. Kepada para peserta dialog, Prabowo menyatakan, kondisi bangsa Indonesia pada abad ke-19 - yang digambarkan dalam pledoi Bung Karno - tidak jauh berbeda dengan keadaan sekarang.
"Pada saat ini, bangsa Indonesia tidak menguasai kekayaan alamnya sendiri. Sistem ekonomi kita yang sangat liberal saat ini seperti penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh VOC dulu," kata Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut.
Untuk mengakhiri itu, Prabowo mengingatkan pentingnya berkiblat pada ekonomi kerakyatan yang dirancang oleh para pendiri bangsa. "Ini masalah hati nurani dan kemauan untuk menjaga dan mempertahankan kekayaan alam kita demi kesejahteraan rakyat," ujarnya.
(adv/adv)











































