Evaluasi dan permintaan maaf itu perlu dilakukan, karena kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah terbukti tidak bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat secara signifikan. Bahkan, kata Capres dari Partai Gerindra itu, Indonesia telah jatuh miskin selama lima kali.
"Kalau dilihat 32 tahun orde baru, berpuncak di Mei 1998 dengan hilangnya 85 milliar dollar karena ribuan perusahaan bangkrut dan nilai tukar rupiah turun, maka sampai saat ini telah ada lima kali depresiasi. Artinya apa? Kita semua telah jatuh miskin lima kali,β ujar Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ironisnya, pemerintah tidak saja diam, tapi malah bertekad untuk melanjutkan program privatisasi terhadap sejumlah BUMN.
Selain itu, elit pemerintahan juga kurang memiliki kepekaan, termasuk dalam merespon krisis finansial yang terjadi belakangan ini. Amerika sebagai kiblatnya neo leiberal, kata Prabowo, sudah mengoreksi kebijakan ekonominya dengan mengambil alih perusahaan-perusahaan swasta. Sementara Indonesia, elitnya hanya diam.
"AS saja sudah melakukan nasionalisasi besar-besaran, tapi para elite kita tetap diam dan masih belum sadar juga akan hal ini," ujar Prabowo. (adv/adv)











































