Setiap warga Australia akan dapat memilih apakah mereka ingin konten media sosial mereka disajikan melalui algoritma atau tidak.
Hal ini sedang diusulkan oleh Pemerintah Australia dengan tujuan agar masyarakat lebih memiliki kekuatan di dunia maya.
Partai Buruh akan mengupayakan sistem opt-in/opt-out (pilihan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan fitur).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Platfrom seperti TikTok, Instagram, atau Facebook diwajibkan mengirimkan notifikasi (push notification) kepada pemilik akun untuk meminta mereka memutuskan apakah mereka ingin menerima konten yang direkomendasikan.
Pengaturan algoritma media sosial ini merupakan bagian dari rancangan undang-undang "Digital Duty of Care" yang mengalihkan tanggung jawab kepada perusahaan teknologi besar untuk secara proaktif mengurangi risiko bahaya, dengan ancaman denda lebih dari AU$100 juta jika tidak melakukannya.
Bagi anak-anak, kewajiban yang diusulkan mencakup isu-isu seperti perundungan, pornografi, misogini, dan gangguan makan, sementara bagi orang dewasa, fokusnya adalah pada kriminalitas, kekerasan, dan ancaman.
Rancangan undang-undang yang dirilis untuk konsultasi awal pekan ini, akan memungkinkan pemerintah Australia mewajibkan platform untuk memberikan pilihan kepada warga Australia untuk melihat konten yang direkomendasikan algoritma atau hanya menampilkan akun-akun yang mereka ikuti.
Menteri Komunikasi Australia, Anika Wells, mengatakan masyarakat akan dapat memilih "berkali-kali" jika mereka berubah pikiran.
"Kenyataannya akan banyak orang memilih untuk menggunakan algoritma," ujarnya.
"Itu adalah pilihan mereka. Kami menghormati pilihan tersebut."
Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan inisiatif baru "My Feed, My Way" bukan berarti konten media sosial dikendalikan pemerintah.
"Ini memberikan kendali kepada masyarakat," ujar PM Albanese.
"Ini mengembalikan pilihan ke tangan warga Australia saat mereka daring."
'Sebagian pengguna mungkin tidak suka'
Di saat parlemen Australia sedang mempertimbangkan aturan baru terkait algoritma, pimpinan Instagram, Adam Mosseri, memperingatkan sebagian besar pengguna tidak akan menyukai apa yang mereka lihat tanpa algoritma.
Adam menanggapi usulan pemerintah Australia secara tidak langsung dalam sebuah sesi jumpa pers yang jarang dilakukannya, Kamis kemarin (10/09).
Acara tersebut bertujuan mempromosikan serial baru berdurasi pendek Algo Confessions, serta fitur Your Algorithm di platform milik Meta, yang akan memungkinkan pengguna melihat dan bahkan mengubah algoritma mereka.
Juru bicara Meta mengatakan kepada para wartawan bahwa Adam tidak akan berkomentar mengenai usulan pemerintah Australia, namun ia menyampaikan pandangannya tentang tampilan beranda atau feed yang kronologis.
Merujuk pada pengalaman Meta di negara-negara lain, ia mengatakan "pengalaman rata-rata pengguna menjadi jauh lebih buruk".
"Jika Anda beralih ke tampilan kronologis, feed Anda akhirnya akan dibanjiri konten dari perusahaan, merek, dan penerbit," katanya.
"Konten kreator akan tenggelam, dan konten dari teman-teman Anda akan semakin tenggelam lagi."
Alasannya, menurut Adam, adalah karena cara terbaik untuk menjangkau audiens dalam tampilan kronologis adalah dengan lebih sering mengunggah konten, dan pelaku bisnis memiliki kemampuan untuk mengunggah lebih sering konten dibandingkan pembuat konten biasa.
Meski tidak menyebutkan angka spesifik, ia mengatakan tingkat interaksi atau engagement pada akhirnya turun hingga 50 persen.
"Anda melewatkan jauh lebih banyak konten… dan menghabiskan waktu yang jauh lebih sedikit di platform tersebut," ujarnya.
Bagi pihak-pihak yang merancang aturan ini di Australia, mereka ingin pengguna menghabiskan lebih sedikit waktu di platform media sosial seperti Instagram.
Namun Adam menekankan kepuasan pengguna juga ikut menurun.
"Kami menanyakan kepada pengguna setiap hari seberapa puas mereka dengan pengalaman yang mereka dapatkan," katanya.
"Baik secara keseluruhan, 'apakah Anda puas?'" atau melalui pertanyaan spesifik, 'apakah ini sepadan dengan waktu Anda?', angka-angka tersebut merosot tajam.
"Jadi, ada perbedaan yang menarik antara apa yang mungkin diinginkan oleh seorang individu dan apa yang terjadi ketika hal itu diterapkan pada seluruh komunitas."
Adam mengatakan ia berasumsi hanya "segelintir orang yang sangat antusias", yang benar-benar ingin keluar dari sistem algoritma, jumlahnya hanyalah minoritas.
Pengaturan algoritma di negara lain
Hal yang jarang disadari pengguna adalah pilihan untuk tampilan timeline secara kronologis sebenarnya sudah tersedia di Instagram secara global, termasuk di Australia.
Di Instagram, pengguna dapat mengetuk logo Instagram di bagian atas untuk mengakses menu drop-down yang menyediakan pengaturan "mengikuti" (following).
Jika opsi ini dipilih, tampilan timeline pengguna akan berubah menjadi deretan unggahan dari akun-akun yang mereka ikuti berdasarkan urutan kronologis terbalik, tanpa disertai rekomendasi berbasis algoritma.
Namun, berbeda dengan di Belanda, tampilan feed akan kembali menggunakan algoritma saat pengguna menutup dan membuka kembali aplikasi tersebut.
Sejak tahun 2023, Uni Eropa telah memberlakukan aturan bagi 27 negara anggotanya yang mewajibkan platform besar seperti Instagram untuk memberikan opsi tampilan feed secara kronologis kepada pengguna.
Berdasarkan aturan tersebut, pilihan itu juga harus mudah diakses oleh pengguna, bukan disembunyikan di dalam menu pengaturan yang mungkin tidak akan bisa ditemukan oleh banyak pengguna.
Tetapi pada bulan Oktober 2025, pengadilan Belanda mengambil langkah lebih jauh dengan memerintahkan platform untuk menyediakan feed kronologis sebagai pengaturan default (bawaan).
Pro dan Kontro proposal pemerintah
Menteri Komunikasi Bayangan dari pihak oposisi, Sarah Henderson, mengatakan pihak oposisi akan menelaah rinciannya namun merasa yakin jika rancangan aturan ini bisa menjadi "ancaman mutlak terhadap kebebasan berpendapat."
"Hal ini memberikan wewenang tak terbatas kepada kementerian untuk membuat peraturan mengenai apa pun yang ia anggap sangat berbahaya atau merugikan anak-anak," ujarnya.
"Sejauh yang saya amati, ini adalah rancangan undang-undang yang cukup berbahaya."
Sarah juga mengakui "tentu saja" ada bahaya serius yang harus dihindari demi melindungi warga Australia, namun ia berpendapat hal tersebut harusnya "diatur secara eksplisit" dalam undang-undang.
Selasa lalu (08/09), PM Albanese dan Menteri Komunikasi Anika Wells menyampaikan usulan aturan ini didampingi oleh para orangtua serta aktivis yang selama ini menyerukan perlindungan daring yang lebih baik bagi anak muda.
Wayne Holdsworth, seorang ayah yang kehilangan putranya, Mac, akibat bunuh diri pada tahun 2023, menyatakan dukungannya "sepenuh hati" terhadap kewajibanuntuk menjaga keselamatan pengguna medsos atau duty of care.
"Kami tidak ingin menengok ke belakang dan melihat masa ini sebagai era di mana sebenarnya kita bisa menghitung dampak buruk mengerikan akibat media sosial," ujarnya.
"Kami ingin mengenang masa ini ketika Australia memimpin dunia dalam meningkatkan peluang bagi anak-anak kita, sekaligus menjaga keselamatan mereka."
Kepala Eksekutif lembaga Butterfly Foundation, Jim Hungerford, juga mendukung rancangan undang-undang tersebut.
Ia mengatakan organisasinya setiap hari menerima laporan dari warga Australia yang feed media sosialnya dipenuhi oleh "konten yang menampilkan standar yang tidak realistis serta berfokus pada berat badan".
"Kami tahu hal-hal ini merupakan salah satu pemicu utama timbulnya gangguan makan," ujarnya.
Diproduksi oleh Hellena Souisa dari laporan ABC News dalam bahasa Inggris.
Simak juga Video 'Spam Komentar di Medsos Jadi Modus Promosi Judi Online':










































