Kemenangan Anak Muda dan 'Partai Kecoak' yang Lengserkan Menteri India

Kemenangan Anak Muda dan 'Partai Kecoak' yang Lengserkan Menteri India

ABC Australia - detikNews
Jumat, 31 Jul 2026 16:52 WIB
Unjuk rasa berakhir ricuh antara aparat dan anak-anak muda di India
Unjuk rasa berakhir ricuh antara aparat dan anak-anak muda di India
Jakarta -

Penantang terbesar Perdana Menteri Narendra Modi saat ini mungkin bukanlah dari kalangan elit politik, melainkan dari anak-anak muda.

Sejak bulan Juni lalu ribuan anak-anak muda turun ke jalanan di kota-kota di India menentang pemerintahan di bawah kepemimpinan PM Modi.

Mereka berunjuk rasa atas sistem pendidikan di India yang dianggap gagal dan menjadi penyebab kurangnya lapangan kerja bagi anak-anak muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anak-anak muda ini kemudian mengklaim kemenangan perjuangan mereka setelah salah satu menteri dalam kabinet PM Modi mundur.

Partai kecoak bukan sembarang partai

Anak-anak muda di India sudah gerah dengan sulitnya mencari kerja dan pernyataan-pernyataan pejabat.

Dalam sebuah sidang, ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, pernah menyebut anak-anak muda yang pengangguran sebagai "kecoak" yang menyerang lembaga pemerintahan.

Pernyataan ini mendorong Abhijeet Dipke, seorang lulusan Amerika Serikat mengunggah di media sosial ajakan "bagaimana kalau semua kecoak berkumpul?"

Bulan Mei lalu, Abhijeet membuat situs dan akun media sosial bernama "Cockroach Janta party", atau CJP, sebagai sindiran terhadap partai Bharatiya Janata (BJP), yang berkuasa di bawah pimpinan PM Modi.

Dengan slogan "partai politik untuk rakyat yang dilupakan oleh sistem", pengikut Partai Kecoak ini langsung mendapat lebih dari 22 juta pengikut, melebihi partai BJP.

Lewat akun media sosial juga, Partai Kecoak mengangkat masalah kebocoran ujian masuk sekolah kedokteran.

Ujian masuk sekolah kedokteran

Menjelang akhir bulan Juni lalu, lebih dari 2 juta anak-anak muda harus kembali duduk mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran, atau National Eligibility Entrance Test.

Mereka terpaksa mengikuti ujian kedua kalinya setelah ada tuduhan jika soal-soal ujian sudah bocor, sehingga hasil ujian yang pertama dibatalkan.

Ujian yang diulang berarti menambah biaya dan beban mereka yang ingin sekolah kedokteran.

Hal ini sangat berdampak bagi sejumlah anak muda, termasuk Sheikh Sana, yang berusia 19 tahun, yang menulis sebuah pesan "saya minta maaf" sebelum mengakhiri hidupnya.

Ujian nasional masuk kedokteran di India bukan hanya menjadi yang paling sulit di India, tapi juga salah satu yang terberat di dunia.

Dilaporkan setidaknya ada 12 orang yang berakhir dengan cerita yang sama dengan Sheikh.

Ada juga dugaan jika soal-soal ujian untuk masuk sekolah lainnya bocor.

Inilah yang membuat ribuan anak-anak turun ke jalan, meminta pertanggungjawaban dari pemerintahan PM Modi soal sistem pendidikan di India.

Menurunkan seorang menteri

Sejak awal bulan Juni, jutaan anak muda yang tergabung dalam Partai Kecoak mulai menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan untuk mengundurkan diri karena soal-soal ujian masuk sekolah kedokteran yang bocor.

Di ibu kota New Delhi, ratusan anggota kepolisian dan paramiliter dikerahkan untuk mencoba menghentiakn para demonstran saat mereka meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera India.

Kepolisian New Delhi mengatakan unjuk rasa tersebut tidak mendapat izin dan harus ditertibkan.

Namun, anak-anak muda ini terus berteriak, "mundur, mundur".

"Dharmendra Pradhan mundur", "Narendra Modi mundur," ujar mereka.

Juru bicara CJP, Saurav Das, menuduh kepolisian dan militer menindak para pengunjuk rasa yang damai dengan brutal.

Aakar Patel, ketua Amnesty International India, mengatakan foto-foto dan video dari sejumlah unjuk rasa menunjukkan "bagaimana perbedaan pendapat yang damai ditekan di India".

"Polisi dilaporkan menggunakan kekerasan yang tidak perlu dan berlebihan terhadap pengunjuk rasa damai dan memasang barikade untuk mencegah mereka datang ke parlemen," katanya.

"Pihak berwenang juga menangguhkan layanan [kereta] metro dan internet seluler, yang semakin membatasi pelaksanaan hak untuk berkumpul secara damai."

Hingga pekan lalu dilaporkan setidaknya 180 orang hampir terluka, termasuk apparat kemanan, yang harus dibawa ke rumah sakit.

Menteri Kesehatan India, Jagat Prakash Nadda, menemui dua pemimpin dari Partai Kecoak untuk membahas tuntutan mereka, termasuk meminta pembasan aktivis bernama Sonam Wangchuk yang melakukan aksi mogok makan sejak 28 Juni.

Mereka juga menuntut Menteri Pendidikan mundur, serta memberi kompensasi sebesar 10 juta rupee, atau hampir Rp2 miliar untuk anak-anak muda yang meninggal karena bunuh diri setelah soal ujian yang bocor.

Setelah berminggu-minggu unjuk rasa di seluruh penjuru negeri, Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri akhir pekan lalu.

Anak-anak muda menyebutnya sebagai sebuah "kemenangan".

"Kita telah berhasil," kata Abhijeet Dipke, pendiri Partai Kecoak.

Dalam pernyataan yang diunggah di X, Dharmendra mengatakan ia "bertanggung jawab" atas kebocoran ujian masuk kedokteran.

"Saya sangat menghormati aspirasi, perasaan, dan harapan yang sah dari kaum muda negara ini," tulisnya.

PM Modi memuji Dharmendra atas "upaya terpujinya dalam implementasi kebijakan pendidikan nasional" dalam sebuah unggahan media sosial.

Pemerintah India juga kemudian mengumumkan rancangan undang-undang untuk mengubah undang-undang soal ujian sekolah, untuk meningkatkan hukuman bagi pelanggaran terkait kebocoran soal ujian.

Menurut laporan media lokal, mereka yang terlibat dalam kebocoran soal ujian akan menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda hingga lebih dari Rp900 juta.

Diproduksi oleh Erwin Renaldi dari berbagai laporan ABC News

Tonton juga video "Menteri Pendidikan India Akhirnya Nyerah Juga Didemo Partai Kecoak"

(ita/ita)


Berita Terkait