Dunia Hari Ini: WHO Sebut Data COVID China Tak Gambarkan Situasi Sebenarnya

ADVERTISEMENT

Dunia Hari Ini: WHO Sebut Data COVID China Tak Gambarkan Situasi Sebenarnya

ABC Australia - detikNews
Kamis, 05 Jan 2023 17:21 WIB
Penyebaran virus COVID-19 terus meningkat di China sejalan dengan dihentikannya kebijakan pembatasan sosial ketat pada Desember 2022. (AP:Ng Han Guan)
Jakarta -

Anda sedang membaca Dunia Hari Ini, edisi Kamis, 5 Januari.

Semoga pekan pertama Anda sejauh ini berjalan lancar dan jika masih kurang semangat, mungkin Anda bisa menelepon saudara atau teman untuk membuat acara di akhir pekan nanti

Berita utama dari sejumlah negara yang terjadi dalam 24 jam terakhir telah kami rangkum agar Anda bisa 'up to date'.

Kita awali dengan perkembangan terbaru soal COVID-19 di China. Kenapa masih membicarakan COVID?

WHO meragukan data COVID China

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan data COVID-19 China tidak menggambarkan situasi sebenarnya dengan jumlah pasien, jumlah yang dirawat di rumah sakit, dan angka kematian.

Para ilmuwan China sudah menunjukkan data COVID di negaranya kepada penasihat WH dengan mengatakan tidak ada varian virus corona baru yang ditemukan di negara berpenduduk 1,4 miliar itu.

"Kami percaya angka yang dirilis China kurang mewakili dampak sebenarnya dari penyakit ini dalam hal perawatan pasien di rumah sakit, pasien ICU, dan terutama dalam jumlah kematian," kata Mike Ryan, direktur kedaruratan WHO.

Pemerintah China telah mempersempit definisinya kematian terkait COVID, hanya menghitung kasus yang melibatkan pneumonia atau kegagalan pernapasan yang disebabkan COVID, sehingga membuat pakar kesehatan dunia terheran-heran.

WHO menyatakan kematian disebut sebagai terkait COVID jika disebabkan oleh "penyakit yang kompatibel secara klinis" pada pasien dengan kemungkinan atau infeksi yang dikonfirmasi, dan tidak ada penyebab kematian lain - seperti trauma - yang terlibat.

Australia beli sistem roket canggih

Angkatan Darat Australia akan segera memiliki sistem serangan jarak jauh dengan pembelian Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) buatan Amerika Serikat.

Sistem serangan ini sudah teruji dalam Perang Ukraina, karena efektivitasnya dalam menghancurkan pasukan Rusia.

Pemerintahan PM Albanese setuju membeli 20 peluncur roket pada truk pada tahun 2026, selain pembelian Naval Strike Missiles (NSM) buatan Norwegia untuk kapal perang Australia tahun depan.

"Kita akan meluncurkan rudal darat Angkatan Darat yang dapat mencapai target hingga 300 kilometer jauhnya, dan kita jadi bagian pengembangan rudal serangan presisi yang akan mencapai target lebih dari 499 kilometer.Ini akan memberi kemampuan menyerang yang belum pernah dimiliki tentara Australia sebelumnya," kata Menteri Pertahanan Pat Conroy kepada ABC.

Bantuan Untuk Sensus Penduduk Papua Nugini

Sensus Penduduk Papua Nugini yang dijadwalkan pada 2021 gagal dilaksanakan akibat pandemi COVID, namun saat ini muncul spekulasi mengenai ledakan populasi yang telah mencapai 17 juta jiwa, dengan mayoritas generasi muda.

Australia diminta untuk membantu pelaksanaan sensus berikutnya, yang direncanakan pada tahun 2024. Sementara sebuah penelitian badan PBB United Nations Population Fund (UNPF) menempatkan populasi Papua Nugini hampir dua kali lipat dari perkiraan pemerintah sebesar 9,4 juta jiwa.

Tapi Perdana Menteri James Marape menyebut angka UNPF itu sebagai "asumsi", menyebut data BPS memperkirakan jumlahnya antara sembilan hingga 11 juta jiwa.

"PBB telah menyebutkan jumlahnya 17 juta jiwa, tapi inti dari penilaian itu adalah fakta bahwa populasi kita terus bertambah," ujarnya.

Iran bebaskan artis pendukung aksi demonstrasi

Pemerintah Iran membebaskan Taraneh Alidoosti, 38 tahun, artis dari film The Salesman yang memenangkan Piala Oscar, tiga minggu setelah dia dipenjara karena mengkritik tindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah.

Alidoosti termasuk di antara beberapa selebritas Iran yang menyatakan dukungan terhadap aksi demonstrasi nasional dan mengkritik tindakan keras pihak berwenang terhadap perbedaan pendapat.

Unggahannya di media sosial menyebabkan dia ditahan, salah satunya menyatakan solidaritas dengan pria yang dieksekusi karena terlibat aksi demo yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini.

Aksi-aksi demo itu menjadi tantangan terbesar bagi Republik Islam Iran sejak didirikan setelah Revolusi 1979.

Pasukan keamanan menggunakan peluru tajam, tembakan senapan burung, gas air mata dan pentungan untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

Ikuti informasi menarik lainnya dari ABC Indonesia.

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT