Kasus COVID di China Terus Bertambah Jelang Pembukaan, Warga Tetap Ingin Berkunjung

ADVERTISEMENT

Kasus COVID di China Terus Bertambah Jelang Pembukaan, Warga Tetap Ingin Berkunjung

ABC Australia - detikNews
Rabu, 04 Jan 2023 12:02 WIB
Karena mahalnya tiket pesawat ke China, Emma Wei akan berangkat sendirian. (Supplied)
Canberra -

Emma Wei warga asal China yang tinggal di Australia dievakuasi dari Wuhan bersama kedua anaknya tiga tahun lalu, namun kini sudah membeli tiket pulang demi bertemu kakeknya yang sakit di saat China mulai membuka diri bagi perjalanan internasional.

Untuk perjalanan ke China, Ema harus menjalani beberapa kali tes COVID dan juga tidak keberatan dengan aturan tambahan yang harus dijalaninya ketika nanti kembali lagi ke Australia, karena adanya aturan baruyang diumumkan oleh Menteri Kesehatan Australia.

"Pemerintah China mengharuskan tes PCR 48 jam sebelum keberangkatan untuk masuk ke China," kata Emma.

"Sekembalinya, saya harus menjalani tes dalam waktu 48 jam juga yang diharuskan oleh pemerintah Australia."

Jumlah kasus baru COVID di China sudah melambung tinggi dan mulai hari Kamis (08/01), mereka yang tiba dari China seperti nantinya Emma Wei, harus menunjukkan hasil tes negatif sebelum bisa kembali ke Australia.

"Saya kira ini aturan yang adil kecuali nantinya ada aturan karantina paksa. Saya tidak melihat aturan ini bersifat diskriminatif tetapi hal yang diperlukan karena buruknya situasi COVID di China saat ini."

Awalnya Emma Wei berencana membawa seluruh keluarganya pulang namun mahalnya harga tiket pesawat membuatnya berpikir ulang.

"Saya tidak sanggup membayar tiket untuk seluruh keluarga untuk pergi yang semuanya bisa di atas A$ 10 ribu (sekitar Rp 100 juta), terlalu mahal bagi saya," katanya.

Warga asal China yang tinggal di Australia lainnya yang ingin segera mengunjungi China adalah seorang pengusaha di Sydney, Jeff Suo.

Dia sudah memesan tiket pesawat ke China segera setelah mendengar negara tersebut mencabut aturan pembatasan kedatangan warga asing ke sana.

"Kedua orang tua saya sudah sepuh, dan adalah tradisi China untuk pulang ke rumah di hari raya Imlek untuk berkumpul bersama keluarga," kata Jeff Suo.

"Ada pepatah China yang mengatakan ketika orang tua kita masih hidup, selalu ada tempat bagi kita untuk dikunjungi."

"Saya ingin selalu merayakan kebersamaan dengan mereka setiap kali di rumah."

Ketika tiba di China, Jeff akan bergabung dengan ratusan juta warga China lainnya yang melakukan mudik untuk merayakan dimulainya musim semi di China yang dimulai 7 Januari dan berpuncak pada hari raya Imlek 22 Januari.

Warga China tahun ini akan menyambut Tahun Kelinci dan merayakan pembukaan China untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir dengan tidak adanya pembatasan lagi berkenaan dengan COVID.

Namun dengan peningkatan kasus karena dicabutnya pembatasan dan dibukanya China bagi warga asing mulai 8 Januari, perayaan Imlek tahun ini juga masih akan berbeda dari yang sebelumnya.

Bobo Law pindah ke Melbourne dari Hong Kong dan berencana kembali ke sana dalam beberapa bulan mendatang.

Dia mengatakan mengerti aturan baru yang diterapkan oleh pemerintah Australia dan juga tidak menginginkan adanya varian COVID baru masuk ke Australia.

"Saya kira pemerintah melakukannya untuk melindungi warga di Australia. Ya mengapa tidak?"

Bobo juga mengatakan masalah lain yang dilihatnya adalah bagaimana statistik jumlah kasus dan kematian dari China tidak bisa dipercaya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah meminta pemerintah China menyediakan informasi mengenai gelombang penularan kasus saat ini termasuk tes genome untuk menemukan apakah ada varian baru.

Para pakar memperkirakan sekitar 9 ribu orang meninggal karena COVID setiap harinya di China namun angka resmi dari pemerintah menunjukkan angka yang sangat rendah.

China: pembatasan 'tidak diperlukan'

Dengan kurangnya data akurat dari China pemerintah di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jepang, Prancis, Israel, Spanyol, Italia, India, Taiwan dan Korea Selatan sudah menerapkan aturan baru berkenaan dengan mereka yang datang dari China.

Di Australia mulai 5 Januari mereka yang tiba dari China harus melakukan tes PCR sebelum terbang yang menunjukkan hasil tes negatif.

"Ada kekhawatiran, di tengah peningkatan kasus yang naik dengan cepat, kemungkinan munculnya varian baru," kata Menteri Kesehatan Australia Mark Butler hari Minggu.

Namun pada Senin lalu, Kepala Bidang Kesehatan Australia Profesor Paul Kelly mengatakan kepada Mark Butler bahwa "tidak ada alasan kesehatan yang cukup" untuk melakukan hal tersebut.

Profesor Kelly mengatakan dengan tidak adanya "ancaman spesifik: dari varian COVID, dan dengan tingginya tingkat vaksinasi di Australia, pembatasan atau pun aturan tambahan bagi kedatangan dari China merupakan hal yang tidak diperlukan.

Ketika ditanya berulang kali mengenai aturan baru yang diterapkan oleh beberapa negara tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan dalam beberapa hari terakhir "para pakar kesehatan dari berbagai negara mengatakan pembatasan perjalanan bagi mereka yang datang dari China adalah hal yang tidak diperlukan."

"Bagi semua negara, kebijakan berkenaan dengan COVID harus berdasarkan sains dan proporsional dan diterapkan adil bagi warga dari semua negara agar tidak mempengaruhi perjalanan normal, pertukaran antar warga dan kerja sama," katanya.

"Kami berharap semua pihak mengikuti pendekatan berbasis sains dan bekerja sama guna memastikan perjalanan antar lintas negara aman, keadaan pasok global industri stabil, dan berkontribusi pada solidaritas global melawan COVID dan usaha pemulihan ekonomi dunia."

'Saya menunggu dulu'

Dengan peningkatan kasus, dan reaksi dunia internasional banyak warga asal China di Australia ragu-ragu apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengunjungi China.

Bing Liu yang sudah tinggal di Australia lebih dari 20 tahun adalah salah seorang di antaranya.

"Situasi COVID di China saat ini masih tidak stabil jadi saya mau menunggu dulu," kata Bing.

Pembatasan bagi mereka yang setelah berkunjung ke China akan mendapatkan aturan tambahan untuk pulang ke Australia membuatnya berpikir dua kali untuk mengunjungi China saat ini.

Bing Liu terkena COVID di Australia dan kedua orang tuanya yang sudah sepuh terkena COVID di rumah perawatan lansia di China.

"Sekarang ini rumah perawatan lansia di China ditutup untuk pengunjung dari luar, jadi kalau pun saya bisa mengunjungi China, saat mungkin tidak akan bisa bertemu mereka," katanya.

Setelah beberapa tahun bekerja dari rumah selama COVID, Bing memutuskan untuk mengambil cuti panjang tahun ini untuk melakukan perjalanan keliling Australia dan beberapa negara Asia.

'Belum terlintas di pikiran saya'

PutriYan Wei baru saja lulus ujian sekolah menengah kelas 12 tahun lalu dengan nilai yang bagus, dan bila tidak ada pandemi Yan Wei pasti akan mengajak seluruh keluarganya untuk mengunjungi China berlibur.

Yan Wei berada di Shanghai di akhir tahun 2019 dan di awal 2020 ketika kasus COVID pertama dilaporkan muncul di Wuhan.

Setelah tiga tahun berlalu, Yan Wei masih belum tahu kapan dia akan mengunjungi China lagi.

"Jujur saja, saat ini belum terlintas di pikiran saya sama sekali."

Yan Wei mengatakan hampir seluruh anggota keluarga besarnya di China terkena COVID sejak awal Desember ketika China melonggarkan pembatasan pergerakan warga.

"Syukurnya sekarang mereka dalam proses penyembuhan," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT