Warga China Berburu Obat Penurun Demam-Alat Tes COVID hingga ke Australia

ADVERTISEMENT

Warga China Berburu Obat Penurun Demam-Alat Tes COVID hingga ke Australia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 16 Des 2022 16:38 WIB
Banyak apotek dan toko obat di Beijing dilaporkan kehabisan obat-obat penurun demam seperti Panadol sehingga warga harus antre panjang. (REUTERS TV via REUTERS/File Photo)
Jakarta -

Dilonggarkannya aturan 'lockdown' membuat kasus COVID di China meningkat.Warga kini berburu dengan obat penurun demam dan alat tes COVID, bahkan sampai mencari ke Australia.

Mereka meminta tolong keluarga dan kerabat yang tinggal di Hong Kong, Macau, dan Australia untuk membeli dan mengirimkan obat-obatan serta alat tes.

Hal ini terjadi setelah sejumlah apotek di kota-kota besar mulai kehabisan stok setelah antrean yang panjang.

Beberapa apotek dan toko mulai membatasi jumlah barang yang bisa dibeli, sementara perusahaan obat mulai meningkatkan produksinya/

"Warga China suka menimbun. Mana bisa ada yang tersisa? Mereka membeli obat-obatan bahkan sebelum mereka sakit," kata seorang dokter di Shanghai.

Chang Linyun seorang warga Beijing berusia 42 tahun mengaku ia sudah meminta kepada teman-temannya di Australia untuk membeli obat penurun demam untuk anak laki-lakinya.

Tapi ia pun harus bersaing dengan para penjual di jejaring sosial yang menawarkan barang-barang dari luar negeri, atau dikenal dengan sebutan 'daigou', yang mulai menjualnya dengan harga sangat tinggi.

"Saya tadinya mau titip dua botol Panadol dan dua botol Nurifen. Namun teman saya di Melbourne mengatakan obat penurun panas juga sudah habis di sana, karena begitu banyak daigou asal China yang memborongnya," kata Chang.

Seorang apoteker di Box Hill, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Melbourne, mengonfirmasi jika beberapa toko obat sudah kehabisan persediaan Panadol.

Di Hong Kong, dua staf di sebuah apotek mengatakan persediaan Panadol mulai menipis.

Padahal pekan lalu, menteri kesehatan Hong KongLo Chung-mau mengatakan pemerintah akan memastikan pasokan obat-obatan dengan kandungan paracetamol akan tetap ada agar warga tidak khawatir.

"Saya memiliki teman di Beijing yang meminta saya mengirimkan obat flu dan alat tes COVID. Mereka tidak bisa mendapatkannya di Beijing, mereka sudah memesan lewat online namun belum ada pengiriman" kata Lo, seorang perempuan warga Hongkong berusia 30 tahun.

Di Macau, pihak berwenang membatasi jumlah pembelian obat-obatan anti viral yang digunakan untuk mengobati gejala COVID.

Senin lalu, Xiangxue Pharmaceutical yang memproduksi obat-obatan anti viral mengatakan mereka meningkatkan produksi semaksimal mungkin untuk memenuhi meningkatnya permintaan.

Sementara Sinopharm Group, perusahaan farmasi yang didukung pemerintah, mengatakan sudah meningkatkan produksi tiga kali lipat, karena meningkatnya permintaan obat demam dan batuk.

Vaksinasi untuk lansia dipercepat

China juga sedang meningkatkan usaha untuk melakukan vaksinasi untuk kelompok yang memiliki risiko tinggi, termasuk warga yang berusia 60 tahun ke atas.

Sebelumnya China mengatakan 90 persen dari warga sudah mendapatkan vaksin pertama.

Vaksin kedua juga sudah dianjurkan bagi warga yang memiliki risiko.

Rabu kemarin, juru bicara Komisi Kesehatan Nasional di China, Mi Feng, mengatakan perlu ada lebih banyak kampanye untuk mempercepat proses vaksinasi bagi lansia.

Data resmi pemerintah China menunjukkan1,43 juta orang mendapatkan vaksinasi hingga Selasa kemarin, jauh di atas angka rata-rata setiap hari di bulan November yaitu 100 sampai 200 ribu dosis per hari.

China mengatakan30 persen dari warga berusia 60 tahun ke atas sudah mendapatkan vaksin ketiga.

Reuters

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT