Mahasiswa Asal Indonesia Mulai Kesulitan Cari Akomodasi di Australia

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Asal Indonesia Mulai Kesulitan Cari Akomodasi di Australia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 15 Des 2022 14:26 WIB
Rizal Edy Halim bersama putrinya Rizky Anatasha Halim yang akan melanjutkan pendidikan S1 di Monash University dan masih mencari tempat tinggal di Melbourne. (Supplied: Rizal Halim)
Jakarta -

Saat tiba di Kota Adelaide, Australia Selatan,pada Oktober lalu, Yohan sangat kaget karena harus menyisihkan setidaknya sekitar Rp100 ribu setiap kali mau mencuci baju.

"Saya tinggal di student accommodation seharga 264 dolar per minggu, termasuk biaya listrik, air, internet. Tapi harus bayar 5 dolar untuk nyuci dan 5 dolar untuk drier," ujarnya kepada Farid Ibrahim dari ABC Indonesia.

"Untuk berhemat, saya terpaksa nyuci sekali dalam dua minggu, tapi jadinya harus memakai semua persediaan baju," kata Yohan, yang tak bersedia disebutkan nama lengkapnya.

Mahasiswa S2 di Kaplan Business School Adelaide ini mengaku tak punya pilihan selain tinggal di asrama yang berupa satu unit apartemen dengan empat kamar.

Dia menempati salah satu kamar dengan biaya sewa , yang jika dirupiahkan, mencapai lebih dari Rp10 juta per bulan.

Persaingan dan mahalnya akomodasi bagi bagi mahasiswa internasional, seperti Yohan, saat ini semakin terasa, karena mereka mulai datang kembali setelah perbatasan Australia dibuka.

Data terbaru dari Pemerintah Australiamenunjukkan jumlah mahasiswa pemegang Visa Pelajar selama periode Januari-September 2022 sudah mencapai569.204 orang.

Yohan mengaku sudah berusaha mencari tempat tinggal yang harganya terjangkau sejak masih berada di Indonesia, namun agen properti dan pengiklan perorangan yang dihubunginya tak begitu menanggapi.

"Setelah dapat visa pelajar dua bulan sebelum datang ke sini, saya mulai mencari tempat tinggal.Saya juga join grup komunitas Indonesia di Facebook dan di grup WA [WhatsApp]. Semua cara yang saya tahu sudah saya lakukan," katanya.

"Akhirnya saya ambil yang sekarang meski mahal karena hanya tempat inilah yang menerima saya," tambah Yohan.

Gelisah belum menemukan tempat tinggal

Sulitnya untuk mendapat akomodasi bagi mahasiswa internasional juga sedang dialami Rizal Edy Halim, dosen Universitas Indonesia.

Anaknya, Rizky Anatasha, diterima kuliah di Monash University untuk program kedokteran.

"Rizky akan memulai perkuliahan pada 19 Februari tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan tempat tinggal untuk dia," kata Rizal kepada ABC Indonesia.

"Kami mendapat informasi jika bulan Februari biasanya banyak mahasiswa internasional tiba sehingga persaingan akan ketat," tambahnya.

Rizal mengaku gelisah sampai akhirnya menjalin komunikasi dengan dua mahasiswa asal Indonesia yang menyewakan kamarnya untuk kos-kosan.

Ia mengatakan sudah mulai mencari-cari rumah sewa di Melbourne sejak bulan Oktober lalu, termasuk mengecek situs yang disediakan pihak universitas untuk layanan asrama di kampus dan di luar kampus.

"Rizky sudah mendaftar di situ, tapi sampai sekarang belum ada pemberitahuan," ujarnya.

Sebagai orang tua, Rizal menginginkan anaknya nge-kos bersama orang Indonesia, karena dia baru lulus SMA dan baru pertama kali tinggal di luar negeri.

"Dari segi biaya kami sudah coba simulasi di sekitar angka 700-800 dolar per bulan untuk sewa kamar kos," jelasnya.

Pilih lokasi yang agak jauh

Mahasiswa S2 di Australian National University (ANU) Adrian Wirawan berbagi tips bagi calon mahasiswa Indonesia yang sedang mencari akomodasi atau tempat kost.

"Kalau mau dapat lebih mudah dan juga lebih murah, pilih lokasi yang agak jauh," katanya kepada ABC Indonesia.

Tiba di ibukota Australia sejak Februari lalu, bersama istri dan anaknya yang masih balita, keluarga Adrian sekarang tinggal di daerah Weston Creek, sekitar 13 kilometer dari kampusnya.

"Saya sudah mencari akomodasi sejak bulan November 2021 melalui platform-platform online serta koneksi dari jejaring beasiswa," jelasnya.

"Sampai akhirnya saya harus menyewa Airbnb untuk satu bulan dengan biaya senilai seluruh settlement allowancedari beasiswa saya," tambahnya.

Pada bulan Juli 2022, saat harga sewa mulai menurun karena banyak mahasiswa sudah lulus, Adrian akhirnya mendapatkan akomodasi bertarif 200 dollar per minggu.

"Ini termasuk murah untuk ukuran Canberra, tapi dengan trade off di lokasi yang cukup jauh dari kampus ANU," ucapnya.

Adrian menyewa satu kamar di rumah orang Indonesia yang tidak meminta adanya uang jaminan, atau bonds.

"Landlord saya ini motivasinya menolong para mahasiswa asal Indonesia," katanya.

Buka kos-kosan agar uang beasiswa tak habis

Salah satu mahasiswa yang menyewakan kamar untuk kos-kosan mengaku melakukannya agar santunan beasiswa yang diterimanya tidak habis hanya buat bayar sewa dan tagihan bulanannya.

Nurfita, mahasiswa S2Monash Business School, menyewa satu rumah, karena ia datang ke Melbourne dengan keluarganya.

"Tapi kalau menyewa satu rumah sendiri, uang beasiswa tidak mencukupi karena harus mempertimbangkan biaya hidup yang lain," ujarnya.

"Kami memutuskan memasukkan aplikasi sewa rumah berdua dengan teman, dan mendapat persetujuan dari agen rumah," katanya kepada ABC Indonesia.

Rumah empat kamar yang mereka sewa seharga sekitar AU$2.300per bulan, lalu ada satu kamar yang disewakan kepada mahasiswa lainnya.

Fita, panggilan akrabnya, mengaku hasil dari uang sewa tersebut bisa untuk menutupi tagihan keperluan seperti air dan listrik.

Fita mengaku dengan uang beasiswa sebesar AU$1.150per dua minggu akan habis untuk sewa rumah dan biaya keperluan bulanan lainnya.

Untuk mendapatkan rumah sewa ini, Fita mengaku tidaklah mudah karena harus bersaing dengan warga setempat dan mahasiswa asing lainnya.

"Aplikasi kami sempat ditolak oleh agen, tapi kemudian mengajukan kembali dengan menemui dan meyakinkan pihak agen saat sesi inspeksi rumah bahwa penghasilan kami cukup untuk membayar sewa rumah bulanan selama setahun ke depan," ujarnya.

Fita menyarankan agar calon mahasiswa menyiapkan dana untuk hidup selama satu bulan ke depan, karena adakalanya pencairan tempat tinggal butuh waktu meskipun mahasiswa telah sampai di Australia.

"Dana di awal itu dibutuhkan, selain untuk melunasi sewa kamar, juga diperlukan untuk membayar uang jaminan (bonds) yang harus dibayarkan sebelum menempati kamar atau rumah sewa," katanya.

"Sistem kontrakan di Australia sangat berbeda dengan sistem kos-kosan di Indonesia yang memungkinkan kita untuk menunggak pembayaran," paparnya.

Simak artikel lainnya dari ABC Indonesia

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT