Dunia Hari Ini: Singapura Tak Lagi Anggap Hubungan Homoseksual Langgar Hukum

ADVERTISEMENT

Dunia Hari Ini: Singapura Tak Lagi Anggap Hubungan Homoseksual Langgar Hukum

ABC Australia - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 11:10 WIB
Setelah berkampanye selama 15 tahun, para aktivis Singapura berhasil mendesakkan agenda dekriminalisasi LGBT, meski parlemen belum melegalkan pernikahan sesama jenis. (Reuters: Edgar Su)
Jakarta -

Masih semangat di pekan dan hari terakhir di bulan November?

Kami sudah menyiapkan laporan utama dari sejumlah negara untuk Dunia Hari Ini, edisi 30 November 2022.

Kita akan mengawalinya dari Singapura

Seks sesama jenis bukan lagi pelanggaran hukum

Parlemen Singapura memutuskan untuk mendekriminalisasi hubungan seks sesama jenis, namun mereka mengamandemen konstitusi untuk mencegah gugatan hukum terkait melegalisasi pernikahan sesama jenis.

Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan calon penggantinya Wakil PM Lawrence Wong, menolak adanya perubahan definisi hukum pernikahan, yaitu antara pria dan perempuan.

Sementara Menteri Dalam Negeri K Shanmugam mengatakan pemerintah mencoba menjaga keseimbangan di masyarakat.

"KIta akan mencoba dan menjaga keseimbangan ... untuk membuat masyarakat yang stabil dengan nilai-nilai tradisional dan keluarga heteroseksual, sembari memberi ruang bagi homoseksual untuk menjalani kehidupannya dan berkontribusi bagi masyarakat," ujarnya.

Meski tidak bisa digugat ke pengadilan, perubahan konstitusi ini tetap memberikan peluang bagi parlemen di masa depan untuk memperluas definisi pernikahan yang mencakup pernikahan sesama jenis.

Kesaksian warga yang berunjuk rasa di China

Aksi unjuk rasa telah terjadi di sejumlah kawasan di China, yang disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak terakhir kali terjadi di Lapangan Tianamen, tahun 1989.

Wumu, seorang pengacara di Beijing yang ikut turun ke jalan, mengaku tidak tahu siapa yang menggerakkan demo.

"Saya tergerak setelah menyaksikan konferensi pers pihak berwenang yang menyalahkan para korban di Urumqi karena tak bisa meloloskan diri dari kebakaran," tegasnya.

Shiyi, seorang warga Shanghai, mengaku sengaja datang ke pusat kota dan menyaksikan kerumunan massa yang mengacungkan kertas kosong sebagai bentuk protes.

"Sebagian berteriak 'kami ingin kebebasan'; 'tolak pembatasan COVID yang terlalu ketat'," jelasnya.

Lily, seorang jurnalis di Beijing, menyebut kebanyakan peserta demo adalah anak muda yang mendatangi Kedubes Lebanon untuk meletakkan karangan bunga bagi para korban di Urumqi namun mereka dihalangi oleh aparat polisi.

China kirim tiga astronot ke stasiun luar angkasa

Masih dari China, pesawat ruang angkasa berawak Shenzhou-15 berhasil diluncurkan Selasa malam, dengan membawa tiga astronot yang akan bertemu dengan tiga rekan mereka di stasiun ruang angkasa negara itu untuk melakukan serah terima kerja.

Tiga anggota kru Shenzhou-15, yakni Fei Junlong, Deng Qingming dan Zhang Lu, akan tinggal di stasiun luar angkasa China Space Station selama enam bulan.

Roket Long March 2F Y-15, yang membawa pesawat ruang angkasa Shenzhou-15, diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di barat laut China.

Kuil Budha di Thailand kosong setelah semua biksunya positif narkoba

Sebuah kuil Buddha di Thailand tengah dibiarkan kosong tanpa pemimpin agama setelah semua biksunya dipecat karena positif narkoba.

Pejabat setempat menyebut empat biksu, termasuk seorang kepala kuil di Bung Sam Phan, Provinsi Phetchabun, dinyatakan positif methamphetamine, Senin lalu.

Keempatnya kemudian dikirim ke klinik kesehatan untuk menjalani proses rehabilitasi narkoba.

"Kuil itu sekarang kosong dari biksu dan penduduk desa kini khawatir, karena tidak dapat melakukan upacara keagamaan apa pun," katanya.

Thailand merupakan negara transit peredaran pil ekstasi yang datang dari wilayah Shan di Myanmar melalui Laos, dengan harga tidak sampai 20 baht, atau sekitar Rp10 ribu, per tablet.

NATO tuding Rusia manfaatkan musim dingin sebagai senjata

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menuding Presiden Rusia Vladimir Putin memanfaatkan musim dingin sebagai senjata untuk menghancurkan Ukraina.

Dalam pertemuan dengan para menteri luar negeri anggota NATO di Bucharest, Jens menegaskan mereka akan terus membela Ukraina, termasuk memberikan bantuan berupa uang tunai, peralatan transmisi elektronik, dan lebih banyak senjata.

"Presiden Putin dan Rusia telah menunjukkan kesediaan untuk menimbulkan penderitaan dan kebrutalan yang belum pernah kita lihat di Eropa sejak Perang Dunia Kedua," katanya.

Seorang diplomat Eropa menyebut musim dingin kali ini akan mengerikan bagi warga Ukraina, karena Rusia menyerang infrastruktur listrik dan energi negara itu setiap minggu sejak Oktober.

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT