Pemilu Malaysia Berakhir dengan Parlemen Gantung, Apa Selanjutnya?

ADVERTISEMENT

Pemilu Malaysia Berakhir dengan Parlemen Gantung, Apa Selanjutnya?

ABC Australia - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 14:43 WIB
Mantan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin (tengah) meneriakkan slogan-slogan dengan para pemimpin lainnya setelah pemilihan umum ke-15 Malaysia. (Reuters: Lai Seng Sin)
Jakarta -

Pemilihan umum di Malaysia diumumkan dengan hasil yang berujung pada 'hung parliament' atau parlemen gantung.

Pakar menilai ketidakjelasan pemenang pemilu dapat berpengaruh terhadap kondisi politik Malaysia di tengah pertumbuhan ekonomi yang terpantau lambat ditambah inflasi.

Bagaimana ini bisa terjadi dan seperti apa nasib Malaysia ke depannya?

Apa hasil sementara pemilu?

Pemilu Malaysia digelar pada tanggal 19 November lalu.

Beberapa petarung utamanya adalahkoalisi Barisan Nasional yang dipimpin Partai Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) yang saat ini berkuasa, koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin pemimpinoposisi Anwar Ibrahim, dan koalisi Perikatan Nasional di bawah mantan PM Muhyiddin Yassin.

Terdapat 220kursi pemerintahan yang diperebutkan di majelis rendah dalam pemilu ini, meski Malaysia sebenarnya memiliki 222 kursi.

Untuk membentuk pemerintahan, partai politik koalisi harus memenangkan setidaknya 112 kursi.

Hasil pemilu akhir pekan kemarin mencatat koalisi Pakatan Harapan memenangkan 82 kursi, sementara koalisi Perikatan Nasional sebanyak 73 kursi dan Barisan Nasional dengan 30 kursi.

Dengan tidak adanya partai yang memenangkan jumlah kursi absolut atau mayoritas, untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia menghadapi 'hung parliament' atau parlemen gantung.

Apa selanjutnya?

Karena hal tersebut, koalisi yang memegang suara unggul ini harus berhasil menggandeng koalisi atau partai lain.

Raja Malaysia yang memegang fungsi simbolis sebagai kepala negara, secara konstitusional juga memiliki kewenangan untuk menunjuk seorang perdana menteri dari kalangan anggota parlemen nasional yang "ia yakini dapat memimpin mayoritas".

Menurut pakar, pemerintahan Malaysia kemungkinan besar akan kembali jatuh ke tangan PM Muhyiddin, dengan koalisi Barisan Nasional dan lainnya.

Tapi pemerintahan partai dengan suara minoritas juga mungkin terjadi bila Anwar atau Muhyiddin tidak bisa memperoleh suara mayoritas.

Muhyiddin mengatakan terbuka untuk bekerja sama dengan partai politik manapun.

Sementara Anwar mengatakan akan mendiskusikan kerja sama dengan partai daerah di Sabah dan Sarawak di Borneo.

Jika Anwar menang, pemerintahan ini akan menjadi perjalanan luar biasa baginya dalam 25 tahun terakhir, beralih jabatan dari pewaris, perdana menteri, tahanan dengan tuduhan sodomi, lalu tokoh oposisi terkemuka negara itu.

Apa masalah dalam pemilu?

Pemilu ini tidak terlepas dari masalah ras dan agama yang kian memecah-belah Malaysia, di mana penduduk Muslim etnis-Melayu merupakan mayoritas.

Etnis China dan India masih merupakan minoritas.

Dalam pemilu ini, sejumlah pemilih menolak koalisi Barisan Nasional yang terdiri dari warga dari berbagai etnis dan sudah lama memegang kekuasaan politik.

Sementara itu, koalisi yang menargetkan pemilih Melayu Muslim, yaitu Perikatan Nasional banyak diminati.

Partai koalisi tersebut merupakan aliansi baru antara Partai Bersatu yang dipimpin Muhyiddin dan Partai Islam se-Malaysia (PAS).

"Saya pikir dari sini kita belajar bahwa negara ini makin terpecah," ujar Asrul Hadi Abdullah Sani, wakil direktur konsultan politik Bower Group Asia.

Ketidakstabilan politik diprediksi akan berlanjut di Malaysia, yang selama puluhan tahun hanya memiliki tiga orang perdana menteri.

Negara tersebut tengah beradaptasi dengan berkurangnya pengaruh koalisi UMNO dan Barisan yang telah memerintah selama 60 tahun, sejak kemerdekaan hingga tahun 2018.

Koalisi yang akan memerintah selanjutnya mungkin tidak akan memiliki mayoritas yang meyakinkan, sehingga para pengamat memperkirakan akanmengundang lebih banyak pertikaian dan mengorbankan perekonomian negara.

Diproduksi oleh Natasya Salim dari berbagai sumber

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT