COVID Varian Campuran Menyebar di Asia Termasuk Indonesia

ADVERTISEMENT

COVID Varian Campuran Menyebar di Asia Termasuk Indonesia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 10:57 WIB
Para pekerja sektor pariwisata di Asia Tenggara yang banyak dikunjungi turis Australia menjalankan protokol kesehatan dengan mengenakan masker di tengah penyebaran varian campuran COVID-19 belakangan ini. (AP: Sakchai Lalit)
Jakarta -

Sejumlah negara di Asia termasuk Indonesia kini mengalami penyebaran COVID-19 varian campuran yang dikenal dengan Varian XXB. Kasusnya diprediksi meningkat menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah Indonesia melaporkan tambahan 7.822 kasus positif pada Kamis (17/11/2022), sehingga totalnya sejak Maret 2020 menjadi 6.590.113 kasus, dengan 6.370.351 orang telah sembuh.

Disebutkan, saat ini tercatat 60.471 kasus aktif, dan 38 pasien meninggal kemarin, menjadikan total kematian 159.291 orang.

Menurut pakar kesehatan masyarakat dari Australian National University Dr Sanjaya Senanayake, Varian XXB adalah campuran subvarian yang bersaing untuk mendapatkan dominasi.

"Semuanya masih Omicron, tapi subvariannya baru. Jadi mereka akan menantang sistem kekebalan tubuh kita, dan saya memprediksi terjadinya peningkatan kasus," kata Dr Senanayake kepada ABC News.

"Tapi karena kekebalan hibrida kita, ini akan menjadi penularan gelombang pendek dalam hal jumlah kasus dan rawat inap," tambahnya.

Secara terpisah, epidemiolog Jane Soepardi mengatakan Varian XBB sudah masuk ke Indonesia tapi belum dominan.

Meski demikian, ia menyebut faktor kualitas pengawasan yang tak memadai, dengan banyaknya kasus yang tidak dilaporkan secara resmi.

"Tes COVID di Indonesia ini sangat rendah. Sangat under diagnosed, under reported," kata Dr Jane kepada ABC News.

"Kasus tinggi selalu terjadi di Jakarta. Data ini sebenarnya sangat bias karena di Jakarta memang banyak sekali tes dilakukan, sedangkan di provinsi lain tidak demikian," jelasnya.

Dr Jane mengatakan pemerintah seharusnya mendorong tes COVID yang lebih banyak di daerah kawasan wisata.

"Sekarang kita melihat lebih banyak kasus, semakin meningkat. Masyarakat sepertinya sudah melupakan pandemi ini," katanya.

Dr Senanayake mengatakan Indonesia memiliki cakupan vaksinasi yang lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain.

Namun dia menambahkan pengembangan vaksin di Indonesia yang telah dinyatakan halal bagi umat Islam mungkin dapat membantu.

"Ini sangat baik untuk Indonesia – vaksin buatan mereka sendiri, sesuatu yang bisa mereka banggakan, dan tidak terlalu mencurigakan," katanya.

Situasi COVID di kawasan

Kondisi penyebaran virus corona saat ini bervariasi di kawasan, misalnya Singapura telah mereda dari puncak gelombang Varian XXB, sedangkan Jepang baru mengalami peningkatan kasus.

Jumlah kasus tampaknya cukup stabil di negara-negara Asia Tenggara, di mana banyak warga Australia mungkin bepergian selama masa liburan mendatang.

Sementara itu, banyak negara Pasifik melaporkan kasus yang rendah atau tidak ada kasus meskipun diperkirakan penularan masih terjadi di tengah kualitas pengumpulan data yang tidak memadai.

Di saat Australia bersiap menghadapi gelombang COVID keempat, kini Jepang sedang menghadapi gelombang kedelapan.

Panel pakar Kementerian Kesehatan negara itu telah memperingatkan lonjakan jumlah kasus terbesar sejak pandemi dimulai.

Bulan lalu Jepang mencabut pembatasan perjalanan bagi orang asing yang menyebabkan sekitar setengah juta pelancong luar negeri tiba di sana pada Oktober — lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.

Negara ini juga memasuki musim dingin, seperti negara belahan utara lainnya Korea Selatan dan Taiwan — meskipun untuk saat ini kasus di Taiwan telah menurun.

Menurut Dr Senanayake, penularan COVID akan terus terjadi tapi dapat menimbulkan lebih banyak masalah di musim dingin, sebagian karena alasan perilaku seperti orang berkumpul bersama di dalam ruangan untuk menghindari hawa dingin.

"Mereka juga harus khawatir tentang 'twindemic' dengan kebangkitan flu, seperti yang kita lihat di Australia," katanya.

Menurut pakar penyakit menular Profesor Kim Woo-joo dari Universitas Korea, twindemic diperkirakan terjadi juga di Korea Selatan.

"Sejak akhir Oktober, jumlah kasus harian COVID-19 yang baru terkonfirmasi terus meningkat," kata Dr Kim.

Hal ini karena beberapa penyebab seperti menjamurnya subvarian dari luar negeri, pertemuan massal untuk acara-acara dan pelonggaran pembatasan, meskipun penggunaan masker di dalam ruangan tetap diwajibkan dan masa isolasi tujuh hari tetap disarankan.

"Pemerintah tidak lagi ingin menerapkan langkah-langkah jarak sosial," kata Dr Kim.

Ada juga tingkat kepuasan dari individu, serta tingkat vaksinasi yang rendah untuk dosis keempat dan vaksin bivalen Omicron.

"Meningkatkan tingkat vaksinasi di masyarakat memang diperlukan, tapi tingkat penerimaannya sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat," ucapnya.

Dr Kim memperkirakan gelombang yang meningkat dengan BQ.1 dan BQ.1.1 muncul sebagai subvarian yang dominan.

Cabang BQ.1 juga diperkirakan akan menyebabkan peningkatan infeksi di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika, tapi ceritanya berbeda di Singapura baru-baru ini.

Negara kota itu mengalami penurunan setelah lonjakan kasus dan rawat inap yang dipicu oleh varian XBB yang sangat mudah menular.

"XBB adalah apa yang kami sebut galur rekombinan, jadi ini adalah dua galur atau subvarian COVID berbeda yang bersatu," jelas Dr Senanayake.

"Tapi kabar baiknya adalah bahwa Singapura mengalami peningkatan kasus yang singkat dan tajam, dan turun dengan sangat cepat, baik dalam hal kasus maupun rawat inap."

Baik BQ.1 dan XBB telah terdeteksi di Australia dan bisa menjadi dominan di sini.

Singapura adalah salah satu pusat penerbangan tersibuk di Asia, yang dapat membantu penyebarannya.

Meskipun Singapura mengalami peningkatan rawat inap dan XBB dilaporkan lebih mudah menular daripada subvarian sebelumnya, penyakit ini juga tidak terlalu parah.

Beberapa laporan menggambarkan XBB sebagai semacam "artis pelarian", tetapi Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan mengatakan "tampaknya tidak memiliki kekebalan yang lolos dengan BA.5 [subvarian Omicron], yang berarti individu yang sebelumnya terinfeksi BA. 5 akan mempertahankan kekebalan mereka terhadap subvarian baru".

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News yang selengkapnya dapat dibaca di sini.

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT