Penduduk Dunia Capai 8 Miliar, PBB Minta Dunia Beralih dari Bahan Bakar Fosil

ADVERTISEMENT

Penduduk Dunia Capai 8 Miliar, PBB Minta Dunia Beralih dari Bahan Bakar Fosil

ABC Australia - detikNews
Rabu, 16 Nov 2022 13:21 WIB
Jakarta -

Jumlah penduduk dunia sekarang mencapai delapan miliar orang namun pejabat PBB mengatakan dunia "tidaklah mendekati hari kiamat" dengan menyerukan tindakan guna mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan emisi.

Memutuskan hubungan antara kerusakan lingkungan dan barang ekonomi dibutuhkan agar populasi dunia semakin sejahtera, kara Maria-Francesca Spatolisano dari Departemen Ekonomi dan Masalah Sosial PBB.

"Memang benar bila tingkat pertambahan penduduk lebih lambat dan bisa dipertahankan selama beberapa dekade mendatang, hal ini akan membantu mengurangi kerusakan lingkungan, karena pertumbuhan penduduk menjadi salah satu penyebab meningkatnya emisi," katanya hari Selasa (15/11).

"Padahal negara yang memiliki tingkat konsumsi dan emisi tertinggi adalah negara-negara di mana tingkat pertumbuhan penduduk sudah melambat, bahkan negatif."

Pekan ini jumlah penduduk dunia mencapai 8 miliar orang dan PBB memperkirakan jumlah penduduk akan mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050.

Spatolisano mengatakan mayoritas pertumbuhan penduduk dunia akan terkonsentrasi "di kalangan negara-negara termiskin di dunia."

"Negara-negara yang memiliki tingkat emisi lebih rendah akan lebih sengsara karena perubahan iklim, sebagian karena mereka kekurangan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri.

"Dalam usaha agar dunia di mana 8 miliar penduduknya bisa lebih sejahtera, kita memerlukan memutus dengan cepat aktivitas ekonomi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil, juga perlunya efisiensi dalam penggunaan sumber daya seperti itu."

"Negara-negara kaya dan masyarakat internasional bisa membantu negara berkembang untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan sehingga ekonomi mereka bisa tumbuh."

"Namun mereka harus melakukannya dengan menggunakan teknologi yang memperkecil emisi gas rumah kaca di masa depan."

Ada 17 target penting bagi kemanusiaan

Spatolisano juga menyerukan kepada seluruh negara untuk "melipatgandakan" usaha mereka supaya target pembangunan berkelanjutan (SDG) bisa tercapai pada tahun 2030.

PBB memiliki 17 target penting yang harus segera ditindaklanjuti oleh semua negara, seperti memberantas kemiskinan, kelaparan, dan ketimpangan, menciptakan perdamaian dan keadilan, serta institusi yang kuat secara global.

"Dalam situasi dunia yang kini mengalami krisis multidimensi, aspirasi yang dicanangkan dalam Agenda SDG 2030 sedang terancam," tulis Sekjen PBB Antonio Guterres dalam laporan tahun 2022.

Ia menyebut pandemi COVID yang memasuki tahun ketiga, perang di Ukraina yang menyebabkan krisis makanan, energi, kemanusiaan dan pengungsi, dan keadaan darurat iklim.

'Kisah sukses, bukan skenario hari kiamat'

Sementara itu Wakil Direktur Eksekutif Badan Kependudukan PBB (UNFPA) Ib Peterson mengatakan keberagaman yang dialami oleh setiap negara "sangat unik."

"Kami melihatnya sebagai kisah sukses, bukan sebagai skenario hari kiamat," katanya.

"Usia rata-rata penduduk Eropa adalah 41, sementara usia rata-rata penduduk Afrika Sub-Sahara adalah 17 tahun. Ini berarti penduduk dunia sekarang ini memiliki kebutuhan dan kesempatan yang sangat berbeda-beda."

Dia mengatakan, dengan perbedaan antarnegara tersebut, solusi yang dibutuhkan harus bisa diterapkan di tingkat lokal.

UNFPA adalah badan PBB yang menangani masalah kesehatan reproduksi yang bertujuan untuk memperbaiki kesehatan reproduksi, kontrasepsi, dan kesehatan perempuan di seluruh dunia.

Ketika ditanya bagaimana negara bisa membantu negara lain dalam menangani jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi mereka, Peterson mengatakan "ada sejumlah tantangan yang saling bentrok."

"Secara historis, yang sudah berjalan dengan baik adalah dengan memberikan pilihan pada orang-orang dan kemampuan untuk mengimplementasikan pilihan mereka."

"Khususnya bagi perempuan dan remaja putri, dengan memberikan pendidikan kepada mereka, memberikan akses layanan kesehatan reproduktif sehingga mereka bisa memutuskan sendiri kapan dan berapa anak yang mereka inginkan, dan lain sebagainya.

"Inilah kebijakan besar dan penting yang harus dilakukan negara-negara di dunia."

"Tentu saja ada tantangan lain yang harus diselesaikan namun ini pun sudah memberikan dampak."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT