Pria Australia Ini Serahkan Jasadnya untuk Penelitian Kedokteran Ketika Meninggal Nanti

ADVERTISEMENT

Pria Australia Ini Serahkan Jasadnya untuk Penelitian Kedokteran Ketika Meninggal Nanti

ABC Australia - detikNews
Selasa, 01 Nov 2022 14:45 WIB
Brian Kershaw 58 tahun akan menyerahkan jasadnya untuk penelitian kedokteran ketika meninggal nanti. (ABC News: Brendan Mounter)
Jakarta -

Kita mungkin sudah terbiasa melakukan sendiri atau melihat orang lain menyumbangkan darah.

Bahkan mendonorkan organ pun sudah cukup biasa, dengan jumlah pendonor yang semakin banyak di Australia, sebanyak 350 ribu pendaftar baru sejak tahun 2021.

Namun sedikit sekali jumlah orang yang mau menyerahkan jasad mereka untuk penelitian kedokteran setelah mereka meninggal nanti.

Di Australia, jumlah ini tidak lebih dari dua ribu orang.

Salah satunya adalah Brian Kershaw, warga Towsnville, Queensland yang sudah menyerahkan jasadnya lewat program donor di James Cook University (JCU).

Pria berusia 58 tahun yang bekerja sebagai teknisi di perusahaan telekomunikasi tersebut memiliki alasan praktis mengapa dia melakukannya.

"Semua mahasiswa perlu menjalani pelatihan. Tentu saja ada boneka yang bisa digunakan menyerupai tubuh manusia namun dalam pelatihan apa pun kalau bisa melakukan dengan contoh nyata pasti beda," kata Brian.

James Cook University yang merupakan universitas di kawasan pedalaman Australia memiliki fakultas kedokteran di Townsville, sekitar 1.352 km dari Brisbane, dan membangun rumah sakit sebagian universitas di Cairns, sekitar 1.700km dari Brisbane.

Brian berharap sesudah meninggal, bagian tubuhnya bisa digunakan membantu para calon dokter yang nantinya akan memberi layanan kesehatan kepada masyarakat.

"Saya berharap para dokter, perawat, dokter gigi akan bisa berlatih dengan jasad manusia sebenarnya. Tentu saja yang sudah meninggal," katanya.

Brian mengatakan banyak orang Australia belum menyadari bahwa mereka bisa menyerahkan tubuh mereka untuk penelitian kedokteran setelah meninggal.

Dia salut pada keputusan keluarga Paul Green, mantan atlet rugby NRL yang bunuh diri Agustus lalu, untuk menyerahkan otaknya untuk penelitian dokter terhadap kondisi chronic traumatic encephalopathy (CTE)

Dia berharap keputusan mereka akan membuat yang lain melakukan tindakan yang sama.

"Kita bisa melihat manfaat dari sains dan apa yang dipelajari oleh para ilmuwan," kata Brian.

"Mereka tidak bisa melakukannya ketika kita masih hidup namun mereka bisa melakukannya ketika kita tidak ada lagi."

Jasad memang diperlukan untuk penelitian

Koordinator program penerimaan tubuh manusia untuk penelitian di JCU Rod Cook mengatakan universitas tersebut memerlukan antara 30-40 tubuh manusia setiap tahun untuk pendidikan dan penelitian.

"Kebanyakan jasad diperlukan untuk mengajar anatomi dasar dan patologi bagi mahasiswa jurusan ilmu kesehatan untuk mengetahui struktur dan fungsi organ tubuh, juga jaringan dan susunan tulang dan yang lain," kata Rod.

"Beberapa jasad juga digunakan untuk mata pelajaran ilmu bedah. Misalnya kami memiliki jurusan saraf di mana mahasiswa perlu belajar bagaimana melakukan pembedahan dengan membuka tempurung kepala.

"Kami lebih suka berlatih menggunakan jasad orang yang meninggal karena tidak bisa lagi merasakan sakit."

Rod mengatakan meski donor tubuh manusia jumlahnya hanya sekitar dua ribuan setiap tahunnya, namun kegunaannya sangat besar bagi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran.

"Semua penelitian kedokteran sangat tergantung pada jumlah kasus," katanya,.

"Semakin banyak penelitian kita terhadap sesuatu, semakin mudah untuk mengerti dan hasilnya akan bermanfaat bagi mereka yang masih hidup."

Rod mengatakan ada juga beberapa penelitian khusus seperti bagaimana dampak benturan terhadap otak bisa mendapatkan manfaat lebih besar dengan mempelajari otak mereka yang sudah meninggal dibandingkan yang masih hidup.

"Kadang pemindaian dengan MRI dan CT, walau sudah canggih kita masih belum bisa melihat keseluruhan, baru setelah kita membuka otak sebenarnya kita bisa melihat perubahan drastis yang terjadi," katanya.

"Itulah yang terjadi ketika kita melakukan penelitian," katanya.

"Ketika kita membuka tempurung otak, kadang kita menemukan hal yang tidak kita duga sebelumnya, dampak dari penyakit yang ada sebelumnya.

"Itulah uniknya tubuh manusia dan tidak ada dua tubuh yang akan sama."

Manfaat mendonorkan jasad

Rod Cook mengakui walau ada banyak hal yang kadang menjadi pertimbangan bagi seseorang dan keluarga mereka untuk mendonorkan jasad, termasuk misalnya tidak bisa melakukan upacara pelepasan jenazah secara tradisional, dia melihat banyak manfaat bagi keluarga.

"Ketika kami mendapatkan jasad tersebut, kami membayar seluruh ongkos pengiriman jasad ke tempat kami," katanya.

"Setelah kami selesai, kami akan melakukan kremasi dan mengirimkan abu kepada keluarga, jadi mereka tidak mengeluarkan biaya sama sekali," katanya.

"Itu manfaatnya bagi keluarga, sementara bagi kami adalah penelitian medis dan pembelajaran bagi mahasiswa.

"Mahasiswa yang belajar hari ini akan menjadi dokter di masa depan, dan mereka akan bekerja untuk masyarakat lima atau enam tahun lagi."

Brian Kershaw yang akan menyumbangkan jasadnya juga melihat manfaat lain.

Sejak memutuskan untuk memberikan jasadnya, dia berusaha untuk hidup lebih sehat dan mengatakan donor tubuh manusia ini akan memberikan manfaat kepada lingkungan juga.

"Area pemakaman tradisional semakin terbatas dan pemerintah lokal harus mencari lokasi baru untuk menguburkan orang," katanya.

"Donor ini akan menjadi cara yang lebih efisien, mendaur ulang."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari laporan ABC News

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT