Sensus Tunjukkan Banyak Migran di Australia Berpendidikan, Tapi Kenapa Susah Dapat Kerja?

ADVERTISEMENT

Sensus Tunjukkan Banyak Migran di Australia Berpendidikan, Tapi Kenapa Susah Dapat Kerja?

ABC Australia - detikNews
Senin, 24 Okt 2022 15:15 WIB
Amin Niazai adalah doktor bidang lingkungan asal Afghanistan namun di Australia dia harus bekerja sebagai magang. (Supplied)
Canberra -

Di Australia, mungkin hanya sedikit orang yang punya tingkat pendidikan seperti Amin Niazai.

Warga Melbourne kelahiran Afghanistan, berusia 35 tahun ini, adalah pakar soal perubahan iklim dan ekologi hutan.

Ia punya gelar S2 dan doktor dari Kyoto University di Jepang.

Amin juga pernah memimpin proyek manajemen sumber daya alam di Afghanistan, terlibat dalam berbagai proyek bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Departemen Pendidikan Amerika Serikat dan AusAid.

Ia juga menguasai empat bahasa.

Tapi di Australia Dr Niazai malah kesulitan menemukan pekerjaan sesuai bidang dan tingkat pendidikannya.

Data sensus Australia yang dikeluarkan bulan ini menunjukkan rata-rata migran, seperti Dr Niazai, memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan warga kelahiran Australia sendiri.

Namun banyak di antara mereka mendapat pekerjaan di bawah tingkat pendidikannya,bahkan kesulitan mendapatkan kerja sama sekali.

Menurut sensus, ada lebih dari 11 juta warga di Australia yang bergelar sarjana saat ini, atau naik 20 persen sejak tahun 2016.

Mereka yang lahir di Australia, 56 persen di antaranya memiliki gelar dari pendidikan tinggi setelah SMA. Bandingkan dengan mereka yang lahir di luar Australia, jumlahnya mencapai 63 persen dan 82 persen sarjana bagi warga Australia yang lahir di India atau Bangladesh.

Sulit mencari kerja

Dr Niazai pernah bermimpi ingin menghentikan kerusakan alam akibat penebangan hutan, serta mengubah wilayah yang sering kekeringan menjadi lahan yang produktif.

Namun impiannya buyar, ketika Taliban mengambil alih Afghanistan bulan Oktober lalu, sehingga ia harus melarikan diri ke Australia.

Keluarganya mulai betah tinggal di sini, anak-anaknya sudah mulai sekolah dan memiliki teman-teman.

Tetapi setelah tujuh bulan mencari kerja, Dr Niazai baru akan memulai magang tiga bulan di Departemen Lingkungan, Lahan, Air dan Perencanaan.

Dr Niazai senang mendapatkan kesempatan ini, tapi sebenarnya ini adalah langkah mundur dari kariernya.

"Ini membuat frustrasi bagi orang seperti saya yang pernah bekerja sebelumnya di posisi manajemen dengan bertahun-tahun melakukan penelitian penting, yang juga sudah diterbitkan salah satu jurnal berkualitas tinggi di dunia," kata Dr Niazai.

"Tetapi ini tetap jadi peluang bagus, bisa membantu saya mendapatkan pengalaman baru, membangun jaringan dan koneksi profesional, serta belajar soal budaya kerja di sini."

"Saya rasa peluang ini akan membantu menghidupkan kembali karier profesional saya."

Kenapa bisa sulit?

Eddy Ng, seorang profesor di James Cook University, melakukan penelitian mengenai pengalaman pekerja terampil dalam mencari pekerjaan di Australia.

Dia sudah mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab sulit mendapatkan pekerjaan.

Pertama adanya ketidakpercayaan akan lulusan luar negeri.

"Meski pun sebenarnya sudah ada pengecekan dan penyataan dari pemerintah bahwa lulusan tersebut setara dengan gelar yang sama di Australia," kata Professor Ng.

Menurutnya perusahaan-perusahaan di Australia lebih cenderung menerima orang yang belajar di universitas yang mereka pernah dengar atau tahu sebelumnya.

Kedua, "informasi dari mulut ke mulut penting", karenanya tanpa jaringan koneksi akan sulit untuk menemukan kesempatan.

Pandemi COVID-19 juga mengubah lapangan kerja di Australia, di mana bidang layanan jasa, seperti 'hospitality' lebih banyak diperlukan dibandingkan pekerjaan berketerampilan tinggi lainnya.

Menurut Professor Ng, program 'Skilled Worker Visa' membuat para migran datang ke Australia untuk mencari pekerjaan yang lebih tinggi, sehingga ada"ketidakcocokan di pasar tenaga kerja".

Kebanyakan perusahaan atau pebisnis juga lebih suka dengan pelamar yang berlatar belakang sama dengan mereka, walau hal tersebut mungkin tidak disadari.

"Ketika kita ditanya soal hobi dan minat, mungkin kita tidak diterima karena tidak memiliki hobi yang sama,meskipun kita punya kualifikasi yang dibutuhkan," ujarnya kepada ABC.

Bisa dimulai dari jadi relawan

Professor Ng mengatakan untuk mendapatkan pengalaman kerja di Australia, bisa dimulai dengan jadi 'volunteer' atau relawan.

Inilah yang dilakukan oleh Dr Niazai.

Ia bergabung jadi relawan bersama kelompok bernama 'Wyntree at Wyndham', dengan membantu membuat sebuah "hutan kecil", seluas lapangan tenis dipenuhi tanaman asli Australia.

Dr Niazai mengaku ia bisa beradaptasi dengan baik untuk memulai hidup barunya di Australia, tapi yang dirasakannya kurang adalah bantuan untuk mendapatkan pekerjaan.

"Ada lembaga yang bisa menjadi mentor bagi kita, namun tidak banyak untuk mereka yang sudah memiliki pendidikan tinggi," katanya.

Sejumlah lembaga, seperti AMES Australia, menjalankan program seperti yang diinginkan. Tapi karena dananya terbatas, jumlah peserta juga menjadi terbatas.

Program Migran Profesional Terampil dari AMES Australia adalah kursus singkat, yang mencakup pendampingan, pembinaan, konseling karir dan jaringan, seperti dikatakan Catherine Scarth,kepala eksekutif AMES.

Kursus selama empat minggu akan menghubungkan calon pekerja dengan seorang mentor dari profesi sesuai pilihan mereka.

Mereka juga bermitra dengan organisasi yang membantu wawancara, memeriksa CV, dan membantu pencari kerja memahami apa yang dicari oleh karyawan Australia.

"Hasilnya fantastis, kira-kira 80 persen orang mendapatkan pekerjaan setelah program ini," kata Catherine.

Ia mengatakan idealnya kursus seperti ini harus tersedia bagi semua migran terampil yang tiba melalui program pemerintah.

Artikel ini diproduksi dan dirangkum oleh Sastra Wijaya dari laporanABC News

(nvc/nvc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT