ADVERTISEMENT

Ratu Elizabeth II, Warisan yang Tak Ada Duanya

ABC Australia - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 10:14 WIB
Jakarta -

Di usianya yang baru 25 tahun, Ratu Elizabeth harus menerima takhta yang tak ia duga sebelumnya. Artinya ia harus mengabdikan dirinya untuk memberikan pelayanan kepada warganya dan menjaga monarki di saat dunia berubah.

Sepanjang 1.200 tahun peperangan, kematian, dan pengembangan kerajaan, suksesi dalam monarki Inggris jarang turun dalam satu garis darah yang lurus.

Ada takhta yang diwarisi dari ayahnya yang meninggal, ada pula yang harus merebutnya lewat perang, bahkan sampai pembunuhan.

Tapi bagi Elizabeth yang masih muda, mahkota emas dengan 440 batu berlian didapatkannya lewat sebuah skandal, 'royal scandal'.

Dengan berat 2,3 kilogram, mahkota St Edward yang disematkan saat ia dinobatkan menjadi Ratu Inggris, mengubah hidup Lilibet Windsor yang harus menanggung berat kedaulatan.

Di pundaknya, Elizabeth punya beban menanggung harapan dari kerajaan Inggris, orang-orang yang ia cintai, keinginan dan keinginan rakyatnya. Seringkali ia juga menanggung kekecewaan rakyatnya.

Tapi selama 70 tahun berkuasa, Ratu Elizabeth tetap teguh pada janjinya sendiri.

"Seluruh hidup saya, apakah itu panjang atau pendek, akan diabadikan untuk melayani Anda."

Ia hidup lebih lama dari yang ia bayangkan, tapi pengabdiannya tidak pernah goyah.

Tak dilahirkan jadi ratu

Elizabeth Alexandra Mary Windsor lahir pada 21 April 1926, di saat kakeknya, Raja George V berkuasa.

Sebenarnya ia berada di urutan ketiga dari garis penerus kerajaan, setelah ayahnya Albert, 'Duke of York' dan pamannya David.

Awalnya mungkin ia hanya jadi pelengkap di House of Windsor, di mana biasanya keturunan pria lebih mendapatkan pengakuan.

Tapi ada sesuatu dalam diri Elizabeth sejak kecil, sepertinya ia tahu jika ia ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang besar.

"Dia punya aura otoritas yang menakjubkan saat masih balita," kata Winston Churchill tentang Elizabeth yang berusia dua tahun, menggambarkannya sebagai seseorang yang memiliki "karakter".

Beberapa dekade kemudian, ketika Winston berusia 77 tahun dan Elizabeth berusia 25 tahun, Winston menjadi yang pertama dari 13 perdana menteri Inggris di bawah Elizabeth.

Apa yang sebenarnya mengubah takdirnya? Sebuah cinta terlarang.

Ketika Raja George V meninggal di tahun 1936, David mengambil takhta sebagai Raja Edward VIII, tapi kemudian mundur setahun kemudian hanya karena ingin menikahi Wallis Simpson, seorang janda dari Amerika Serikat.

Keputusannya untuk lebih memilih cinta dari pada mahkota membuat monarki Inggris terjebak dalam krisis. Albert, ayah Elizabeth terpaksa harus mengambil kekuasaan dan menjadi Raja George VI.

Elizabeth, usia 10 tahun, yang biasa dipanggil Lilibet oleh keluarganya tiba-tiba disiapkan untuk menjadi penerus kerjaan.

Masa depan untuk menyelamatkan kerajaan ada di tangan Albert dan Elizabeth.

15 tahun kemudian, Lilibet berganti panggilan, menjadi 'Her Majesty', yang juga melewati masa-masa jatuh cinta, bertahan dari perang, dan kehilangan orang-orang di sekelilingnya.

Menyemangati warganya saat perang

Elizabeth pernah menggambarkan penobatan dirinya ke singgasana kerajaan "sangat mendadak", tapi ia sudah terlatih sepanjang hidupnya.

Di bawah pengawasan guru privat, sang putri mempelajari segala hal, mulai dari geopolitik, sejarah konstitusional hingga agama, hukum, dan bahasa. Dia membaca surat-surat resmi dengan ayahnya dan bertemu secara informal dengan kepala negara.

Dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih bernama 'We Four' oleh ayah mereka, Elizabeth dan adik perempuannya, Margaret, juga meluangkan waktu untuk bermain.

Elizabeth berusia 13 tahun di tahun 1939, ketika Perang Dunia II pecah dan paham Nazi menyelimuti Eropa.

Ibunya, mendiang Elizabeth Bowes-Lyon, merasa yakin untuk menjaga keluarganya di Istana Buckingham saat Jerman menggempur London dengan serangan bom. Saat itu ibunya mengatakan, "anak-anak tak akan pergi tanpa saya. Saya tak akan pergi tanpa Raja, dan Raja tak akan pernah pergi".

Saat perang makin berkecamuk, kedua anak-anak itu dievakuasi ke Kastil Windsor dan di usia 14, Elizabeth tampil pertama kalinya di acara radio.

"Kita tahu dari pengalaman soal apa itu artinya jauh dari yang orang-orang yang kita paling cintai," kata Putri Elizabeth, yang memberikan semangat bagi anak-anak Inggris yang terpaksa terpisah dari keluarganya.

Di tahun 1945, di usia 18 tahun, Elizabeth ikut turun berperang. Ia dilatih untuk menjadi pengendara dan mekanis bersama 'Auxiliary Territorial Service'.

"Salah satu yang membuatnya senang adalah saat tangan dan kukunya kotor dan penuh dengan noda, menunjukkan dirinya sebagai buruh kepada teman-temannya," tulis Collier's Magazine beberapa tahun kemudian.

Sebuah romansa kerajaan

Di tahun 1947, saat berusia 21 tahun, Elizabeth menikah dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal. Warga Inggris berdarah Yunani, yang juga sepupu jauhnya.

Mereka pertama kali kenal di sebuah acara pernikahan di tahun 1934, saat ia baru saja berusia 8 tahun. Tapi baru di tahun 1939, saat Elizabeth berusia 13 tahun dan Philip berusia 18 tahun, cinta bersemi antara keduanya.

Putri yang pendiam, sementara Philip yang ramai, senang bermain kroket bersama. Sampai sepupunya Elizabeth, Margaret Rhodes mengatakan, "ia tak pernah melihat siapa pun lagi".

Philip, yang mengatakan dia "jatuh cinta sepenuhnya dan tanpa pamrih", merayu calon Ratu lewat surat-surat cinta. Pasangan itu bertunangan pada tahun 1946, meski tunangan tersebut dirahasiakan kepada publik sampai Elizabeth dewasa di tahun 1947.

Mereka menikah di Westminster Abbey pada bulan November tahun itu.

Elizabeth sangat populer di kalangan warga Inggris sehingga banyak yang menyumbangkan untuk membantu membayar gaun pengantinnya.

Kue pengantin, yang tingginya 2,7 meter dan beratnya hanya lebih dari 220 kilogram, dibuat dengan buah-buahan kering disumbangkan dari Australian Girl Guides.

Pangeran Philip memotong kue yang menjulang tinggi dengan pedangnya, dan satu potongan dikirim kembali ke Australia sebagai ucapan terima kasih.

Keduanya menikah selama lebih dari 73 tahun dan Ratu seringkali mengatakan Philip sebagai kekuatannya dan alasannya untuk bertahan.

"Saya berutang banyak darinya," ujar Elizabeth saat perayaan pernikahannya di tahun 1997.

Ikatan keduanya menjadi sebuah ujian, tapi juga membantu mereka melewati masa-masa sulit, seperti saat "annus horribilis" atau masa-masa kelam di tahun 1992 dan meninggalnya Putri Diana.

Dari putri menjadi ratu

Setahun setelah pernikahannya, anak pertamanya, Charles lahir. Kemudian dua tahun kemudian di tahun 1950, anak perempuannya lahir diberi nama Anne.

Sebagai pengantin baru, Elizabeth dan suaminya menghabiskan banyak waktunya di Malta, di mana Philip bertugas bersama angkatan laut. Elizabeth sibuk dengan belanja, jalan-jalan menjelajahi alam, piknik, atau menari samba.

Tapi kehidupannya sebagai istri dari anggota angkatan laut harus berhenti di tahun 1952.

Ada cerita saat itu ia sedang di pohon, sebagai seorang putri, tapi turun dari pohon ia menjadi seorang Ratu.

Ia dan Pangeran Philip berada di sebuah hotel di Kenya, and Prince Philip were in Kenya at the Treetops hotel, beginning a five-month tour of Africa and Australia.

Ia sedang mengamati dan merekam sekawanan gajah, ketika di Inggris sedang malam hari, Raja George VI meninggal karena penyakit kanker paru-paru.

Butuh waktu beberapa jam sampai berita tersebut sampai ke telinga Elizabeth dan Philip menjadi orang pertama yang mengatakan dirinya sekarang adalah seorang ratu.

Dilaporkan Elizabeth tetap bersikap tenang, mengesampingkan kesedihannya, lalu menulis surat permintaan maaf karena harus membatalkan kunjungan lainnya dalam tur tersebut.

Beberapa hari kemudian di London, dia berbicara kepada ribuan orang yang datang ke acara penobatannya.

"Banyak yang saya rasakan di dalam hati lebih dari apa yang saya katakan kepada Anda hari ini, tapi saya akan selalu bekerja, seperti yang ayah saya lakukan sepanjang masa pemerintahannya, untuk memajukan kebahagiaan dan kemakmuran rakyat saya, juga warga di seluruh dunia," katanya.

Ia naik takhta di usia 25 tahun, memiliki dua anak, dan mulai saat itu seluruh hidupnya adalah untuk melayani rakyatnya.

Sesuai permintaannya, penobatan Elizabeth menjadi ratu di tahun 1953 menjadi yang pertama disiarkan di televisi.

Saat itu Inggris masih berupaya pulih dari Perang Dunia II dan penobatannya menyatukan jutaan orang yang menontonnya.

"Saya dengan tulus berjanji untuk melayani Anda, karena begitu banyak dari Anda yang juga berjanji pada kami. Sepanjang hidup saya dan dengan sepenuh hati saya akan berusaha untuk membuat kepercayaan Anda menjadi berharga," kata Ratu kepada rakyatnya.

Penobatan itu ditandai dengan semaraknya tanggapan dari rakyat Inggris yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara 650 juta anggota negara Persemakmuran dan negara lainnya.

Demam penobatan Ratu Elizabeth II mencapai puncak luar biasa, sampai penulis biografi kerajaan yang setia, Hugh Montgomery-Massingberd, menggambarkannya sebagai "euforia berlebihan yang hampir memalukan".

Empat puluh tahun kemuan, Ratu Elizabeth II merefleksikan perannya dalam monarki Inggris.

"Ini adalah sebuah pertanyaan yang mendewasakan apa yang kita lakukan dan menerima keberadaan kita, ini adalah takdir. Keberlanjutan adalah sangat penting. Ini adalah pekerjaan seumur hidup.

Perjalanan ke Australia

Di tahu 1954, ditemani dengan suaminya, Elizabeth menjadi anggota kerajaan pertama yang datang ke Australia.

Saat itu televisi belum terlalu marak, jadi warga harus datang sendiri untuk melihat Ratu Elizabeth II.

75 penduduk Australia menyambutnya di jalanan, lebih dari sejuta orang berkumpul di Sydney untuk menghadiri acara tatap muka dengan Ratu.

"Saya bangga menjadi kepala dari negara yang sudah mencapai banyak hal," ujarnya kepada publik.

Dalam kunjungan 58 hari ke Australia, pasangan Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip melakukan 33 penerbangan, 207 perjalanan dengan mobil dan kereta, mendatangi semua ibu kota negara bagian, kecuali Darwin, dan 70 kawasan pedalaman.

Ia juga bertemu dengan perwakilan warga Aborigin, termasuk seniman Albert Namatjira dan keluarga Timbery dari La Perouse, yang melempar 'boomerang' saat Ratu berada di kawasan Wagga Wagga.

Selama delapan minggu berturut-turut wajah Ratu juga menghiasi halaman utama majalah Women's Weekly.

Ratu Elizabeth II sudah 16 kali datang ke Australia.

Kedatangannya selalu disambut meriah, dengan lambaian bendera, teriakan warga yang antusias, yang tentunya membekas di hati Ratu Elizabeth II.

"Ada dampak magnetis bagi mereka yang ingin hidupnya lebih dari sekedar aturan kaku keamanan dari sebuah suburban yang nyaman," katanya saat berada di Australia Tengah di tahun 1963, di kunjungannya yang kedua.

Ia disambut dengan penuh kehangatan di penjuru Australia dan memberikan inspirasi dari anak-anak sampai Robert Menzies, mantan perdana menteri Australia yang mengutip puisi karya Thomas Ford di abad 17, yang intinya mengatakan "saya mencintainya hingga saya mati".

Pemimpin bagi kerajaan dan keluarga sendiri

Di tahun 1960, 11 tahun setelah Charles lahir dan sembilan tahun setelah Anne lahir, ia melahirkan Andrew. Empat tahun kemudian, Edward lahir.

Tapi kesibukannya tidaklah berkurang selama beberapa puluh tahun.

Setiap harinya, mulai dari korespondensi, catatan dari rapat kabinet, hingga koran-koran, tiba di mejanya.

Di sore harinya, ia lebih menghabiskan waktunya untuk banyak melakukan acara tatap muka dan biasanya Selasa malam adalah waktunya untuk bertemu dengan perdana menteri.

Banyaknya kerjaan berarti Ratu Elizabeth II punya persamaan dengan ibu-ibu yang juga bekerja, bahkan dibandingkan ratu-ratu sebelumnya.

"Kebanyakan orang punya pekerjaan dan pulang ke rumah," ujarnya kepada BBC di tahun 1992.

"Saat ini, pekerjaan dan kehidupan berjalan bersamaan karena kita tidak bisa membaginya."

Di saat perempuan lebih diharapkan keberadaannya, ketimbang didengar suaranya, Elizabeth menjadi kepala bukan hanya kerajaan, tapi juga untuk keluarganya sendiri.

Tentu ada saat Philip berada di bawah bayang-bayangnya, selalu berjalan beberapa langkah di belakangnya, atau merasa energinya terbuang.

Ada pula tantangan saat Margaret ingin menikah seorang duda, Kapten Peter Townsend.

Keduanya menjadi pusat perhatian, karena saat itu anggota kerajaan menikah dengan duda atau janda menimbulkan pertanyaan. Selama beberapa tahun, Ratu, yang menyetujui atau tidak sebuah pernikahan, terjebakk antara kebahagiaan anggota keluarganya dan aturan yang berlaku.

Margaret tadinya mau melepaskan statusnya yang berhubungan dengan anggota kerajaan untuk menikahi Kapten Peter, dan ia sadar dengan ajaran gereja untuk menyerah dari pria yang dicintainya.

Kerajaan yang kuasanya berkurang

Saat ia naik takhta, Ratu Elizabeth II masih menguasai kerajaan Inggris yang meliputi Afrika, Asia, dan negara lainnya di dunia.

Di masa pemerintahannya, Ratu Elizabeth II menyaksikan bagaimana kerajaan Inggris mulai berjatuhan, dengan kemerdekaan India di tahun 1947 dan kembalinya Hong Kong ke China di tahun 1997.

Hanya ada 53 negara dan Australia termasuk di antaranya, yang ia anggap sebagai salah satu prestasi terbesarnya dan yang menyatukan saat dunia terpecah.

"Persemakmuran bukanlah organisasi dengan sebuah misi. Tapi sebuah kesempatan bagi warganya untuk bekerja sama demi mencapai solusi yang praktis untuk masalah-masalah," ujarnya di tahun 2009.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana nasib negara-negara persemakmuran tanpa Ratu Elizabeth, bahkan sebelum ia meninggal, beberapa negara mulai melepaskan Ratu sebagai kepala negara atau 'head of state'.

Ada juga upaya-upaya yang berisiko bagi hidupnya. Misalnya di tahun 1981, ia jadi target serangan saat upacara Trooping the Colour di London's Mall. Tapi tembakannya lebih membuat takut kudanya.

Atau pernah juga ada seorang pria yang masuk ke kamarnya dan duduk di tepian tempat tidurnya di Istana Buckingham dan berbicara dengannya selama 10 menit, kemudian untuk memberinya rokok, Ratu akhirnya keluar sambil minta tolong.

Sepanjang pemerintahannya, Ratu Elizabeth sudah mengunjungi 129 negara, termasuk para pemimpin negara, selebritas, dan orang-orang terkenal lainnya.

"Sepertinya saya tidak bisa menyebutkan ke tempat mana yang belum pernah ia kunjungi selama 90 tahun," kata Pangeran Harry di tahun 2015.

Tahun yang buruk dan kematian Diana

Cobaan terbesar bagi keluarga kerajaan Inggris di era Ratu Elizabeth adalah di tahun 1992.

Mulai dari pernikahan Pangeran Charles yang mulai menunjukkan kegagalan, Pangeran Andrew dan Sarah Ferguson yang berpisah, Perceraian Putri Anne dari Kapten Mark Phillips.

Belum lagi kebakaran yang terjadi di Windsor Castle di bulan November dengan kerugian mencapai 50 juta poundsterling, tahun 1992 disebutnya sebagai "tahun yang tak ingin ia lihat kembali" dan menyebutnya sebagai "annus horribilis" atau tahun yang buruk.

Tapi cobaan sebenarnya baru datang di tahun 1997, saat Diana meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris.

Ratu, yang sebenarnya ingin melindungi cucunya dari Diana dan Charles dan komitmennya terhadap protokol kerajaan, membuat dua kesalahan.

Ia menolak untuk memperpendek kunjungannya ke Balmoral dan tidak menurunkan bendera setengah tiang di Istana Buckingham.

Untuk pertama kali dalam era kekuasaannya, ia dihadapi dengan amarah warga yang menganggap Diana sebagai "People's Princess".

"Apakah House of Windsor punya hati?" tanya Daily Mail, sementara koran The Express mengeluarkan tajuk utama: "Tunjukkan Anda peduli". Koran The Sun bertanya: "Kemana Ratu kita, kemana benderanya?"

Baru seminggu kemudian, Ratu Elizabeth tampil di acara TV langsung, yang juga menjadi pertama kalinya dalam 38 tahun.

"Tidaklah mudah menyampaikan rasa kehilangan karena saat terkejut ada juga perasaan lain, tidak percaya, tidak bisa menerima, marah, dan khawatir dengan orang-orang yang ditinggalkan. Kita merasakan hal-hal itu dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Popularitas Ratu Elizabeth II setelah kematian Diana sempat menurun.

Masa-masa diliputi duka

"Kesedihan adalah harga yang harus dibayar saat kita mencintai," kata Ratu di tahun 2001, setelah serangan teroris di New York pada tahun 2001.

Setahun kemudian, ia juga merasakan dua kehilangan.

Puteri Margaret meninggal di usia 71 tahun karena stroke, padahal ia adalah teman paling dekatnya.

Meski ia dikenal sebagai orang yang bisa mengontrol emosinya, Ratu Elizabeth II terlihat sangat terpukul di acara pemakaman.

Tujuh minggu berselang, ibunya meninggal saat tidur di usia 101 tahun dan Ratu Elizabeth berada di sisinya.

"Banyak di antara kita tahu persis perasaan saat ditinggal oleh ibu atau saudara perempuan yang kita cintai. Bagi saya mereka adalah bagian dari hidup saya dan selalu memberikan dukungan dan dorongan," ujarnya.

Kesedihan tersebut membayangi saat akan digelar perayaan 'Golden Jubilee', yang menandai 50 tahun kekuasaannya di kerajaan Inggris.

Meski ada panggilan untuk turun dan diganti dengan Pangeran Charles, Ratu Elizabeth II tetap bertahan di takhtanya.

Tapi ia juga mulai menunjukkan kelembutannya, misalnya merestui pernikahan Charles dengan Camilla Parker-Bowles di tahun 2005.

Dikenal dengan sebutan 'Gan-Gan'

Bagi keluarganya, Ratu Elizabeth II lebih dari sekedar figur publik.

Ini adalah gelar resminya dalam bahasa Inggris: 'Elizabeth the Second, by the Grace of God of the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland and of Her other Realms and Territories Queen, Head of the Commonwealth, Defender of the Faith'.

Tapi bagi anak-anaknya, ia dipanggil 'mama'.

Charles adalah saksi yang paling awal melihat ibunya mencoba menyeimbangkan diri antara menjadi ibu dan seorang ratu.

"Saya ingat mama datang saat kita sedang dimandikan, ia sedang memakai mahkota. Terlihat lucu," katanya kepada BBC di tahun 2012.

Hidupnya semakin berwarna dengan kehadiran cicitnya. Ia sering terlihat bercanda dengan Pangeran Harry dan Pangeran William mengatakan ia sangat membantunya saat kehilangan ibunya, Putri Diana, sambil menyiapkan dirinya menjadi raja.

"Saya merasa dalam diri Ratu ada contoh yang luar biasa, melakukan banyak hal yang baik dan dia menjadi panutan yang saya miliki di depan mata."

Ada pula yang memanggilnya "Gan-Gan" atau mirip dengan buyut.

"George ... memanggil dia Gan-Gan. Ia selalu memberikan hadiah atau sesuatu di kamar mereka saat kita datang, itu menunjukkan cintanya kepada keluarganya," ujar Putri Catherine, istri dari Pangeran William.

'House of Windsor' diguncang dua wawancara

Pernikahan William dan Catherine di tahun 2011 seolah menjadi momen bagi kerajaan Inggris untuk kembali menjadi sorotan, di saat yang sama juga mencoba menemukan relevansinya dengan era modern.

Pangeran Harry menikah dengan Meghan Markle di tahun 2018 yang juga membantu status selebritas dari kerajaan di abad 21.

Tapi sorotan media kembali mengguncang Ratu dan keluarganya.

Yang pertama melibatkan Pangeran Andrew dan kaitannya dengan Jeffrey Epstein dengan skandal seksualnya.

Setelah Jeffrey ditemukan tewas di penjara di tahun 2019, Pangeran Andrew mengundang BBC ke Istana Buckingham, yang mungkin diketahui Ratu Elizabeth II, untuk membersihkan namanya.

Dalam wawancara selama 48 menit, ia mencoba meyakinkan ketidaktahuannya soal kejahatan Jeffrey, mengatakan ia tidak mampu secara psikologis untuk menanggapinya, tapi tidak menyampaikan simpatinya kepada para korban.

Baru tiga tahun kemudian, Ratu Elizabeth II mencopot gelar 'His Royal Highness' darinya.

Setahun setelah menikah, giliran Pangeran Harry yang meminta mundur dari kerajaan.

Mereka akhirnya tinggal di Los Angeles, tempat Meghan berasal, tapi membuat media di Inggris menaruh banyak perhatian.

Meghan selalu digambarkan sebagai perempuan berkulit hitam yang penuh amarah, dituduh membuat kakak ipar perempuannya menangis, meminta sejumlah tiara dari koleksi keluarga, dan mengirim pesan pendek ponsel sebelum jam 9 pagi kepada staff istana.

Dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey, Meghan mengaku banyak mengalami 'bullying' oleh tabloid dan sejumlah keluarga kerajaan yang membuatnya sempat terpikir untuk bunuh diri.

Harry dan Meghan mengatakan Ratu tetap berbuat baik kepada mereka.

Tapi kebaikan Ratu mungkin tidak cukup untuk membuat mereka ingin tetap bertahan di sebuah institusi yang kuno.

Anak mereka, Archie dan Lilibet, yang pertama kali jadi keturunan kerajaan dengan latar belakang ras berbeda, kini dibesarkan jauh dari kerajaan.

Akhir dari sebuah cinta

Seperti sebuah dongeng, percintaan antara putri dan pangeran selalu dipenuhi dengan intrik.

Di tahun 1954, saat kru berita Australia hendak meliput kunjungan Ratu Elizabeth II, ia melihat Philip keluar dari bungalow dengan perlengkapan raket tenis dan sepatunya.

Ratu yang masih muda meminta mereka untuk diam soal pertengkaran yang mereka baru saja lihat.

Philip tidak mengaku pertengakaran terjadi, tapi mengatakan: "toleransi adalah bumbu utama dalam pernikahan mana pun".

"Ratu memiliki kualitas toleransi yang banyak," ujarnya.

Tapi apapun yang terjadi kepada keduanya, Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip tetap menunjukkan ikatan yang kuat dan cinta.

Elizabeth bukan saja ratu baginya, tapi juga perempuan yang ia cintai

Di tahun 2020, pandemi COVID-19 melanda dunia/

Kedua pasangan kerajaan ini merayakan ulang tahun pernikahan platinum dengan perayaan yang dihadiri sedikit orang di Kastil Windsor.

Pangeran Philip hanya terlihat duduk di sebuah kursi menikmati sinar matahari dengan selimut yang menutupi kakinya dan orang yang dicintainya berada di sebelahnya.

Ia meninggal pada bulan April 2021, hanya beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-100.

Dalam upacara pemakamannya di St George's chapel, Ratu terlihat menggunakan masker dan duduk sendirian.

Saat itu ia menunjukkan dirinya bukan seorang ratu, tapi seorang istri yang sedih untuk menyampaikan salam perpisahan pada suaminya.

Seorang perempuan dengan misteri

Di tahun 2012, Ratu Elizabeth II merayakan 'Diamond Jubilee', dengan lebih dari 1 juta orang berkumpul di depan Istana Buckingham.

Lima tahun kemudian, ia merayakan 'Sapphire Jubilee', satu-satunya yang merayakan sepanjang sejarah kerajaan Inggris.

Di tahun 2022, tahun di mana seharusnya ia merayakan 'Platinum Jubilee', ia sudah menjadi ratu yang tua dan tak mampu berdiri lama.

Ia mengalami masalah dalam bergerak, sehingga mulai mundur dari acara-acara publik.

Tentunya sulit mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang sudah berkiprah di dunia selama hampir 100 tahun.

Ia bersama kita saat krisis misil Kuba, pendaratan di bulan, peperangan mengakhiri 'apartheid', kejatuhan tirani di dunia, dan serangan teror 11 September 2001.

Tapi tetap kita tidak tahu siapa sebenarnya dia.

Kehidupan privasinya yang begitu terjaga, jarang menjadi sorotan media karena ia juga jarang memberikan kesempatan wawancara kepada media.

Kita hanya tahu sedikit soal kehidupan pribadinya, ia mudah mendapatkan kesenangan lewat hal-hal kecil dan bahagia saat berada di alam.

Ia disebut-sebut sangat menikmati kebebasan saat berada di Kastil Balmoral, yang menanggalkan tekanan dari kerajaan.

Ia juga tidak menunjukkan sikap politiknya, tapi memiliki hubungan dekat dengan para pembuat keputusan.

Sumber dari kekuatan dan inspirasi, begitu banyak orang melihatnya, sebagai seorang ibu, nenek, dan Ratu Persemakmuran.

Saat dunia berubah, sang Ratu telah menggabungkan tradisi dan kemajuan, seperti dikatakan Pangeran William, ia mampu membawa keluarga bergerak seiring waktu.

"Perubahan adalah hal yang konstan, melakukannya membutuhkan kedisiplinan yang luas. Bagaimana kita menyikapinya akan menentukan masa depan," ujarnya di tahun 2002.

Di saat dunia baru saja keluar dari era 'Elizabethan', terlalu dini untuk mengatakan bagaimana era tersebut akan dikenang.

Ada momen kebahagiaan dan stabilitas bagi kerajaan Inggris, tapi ada juga kekecewaan dan kesedihan.

Melewati semuanya, perempuan kecil yang tak pernah menyangka akan jadi ratu sudah menunjukkan janjinya yang ia ucapkan saat masih menjadi seorang putri: "seluruh hidup saya, apakah itu panjang atau pendek, akan diabadikan untuk melayani Anda".

Kredit

  • Reporter: and
  • Riset tambahan:
  • Desainer:
  • Developer: ,
  • Editor:
(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT