Warga China Australia Masih Terus Alami Serangan Rasisme Setelah Pandemi COVID

ABC Australia - detikNews
Jumat, 27 Mei 2022 10:09 WIB
Cassandra Au mengatakan dia berulang kali mengalami tindakan rasisme di Australia. (Supplied)
Jakarta -

Cassandra Au dan suaminya terpaksa meninggalkan liburan mereka di Cook Islands ketika Australia menutup perbatasan internasional di awal 2020, namun pandemi bukan satu-satunya hal yang dialaminya dalam perjalanan pulang dengan pesawat.

Cook Islands adalah sebuah negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan dengan penduduk sekitar 17 ribu orang, sekitar 6730 km dari Australia.

"Saya bilang ke suami saya mengapa semua orang di pesawat ini memandang saya dengan kebencian?' kata Cassandra.

"Perempuan yang duduk di depan saya bahkan sengaja beberapa kali berdiri dari kursinya dan batuk ke arah saya selama penerbangan."

Apa yang dialaminya tersebut masih diingat oleh Cassandra Au sampai sekarang.

"Kejadian kecil seperti itu, sikap rasis di sana sini yang sangat melelahkan bagi warga keturunan Asia di Australia," katanya.

Terus berlangsungnya serangan rasisme

Penelitian yang dimuat dalam laporan Being Chinese in Australia (Menjadi Warga China di Australia) yang dibuat oleh The Lowy Institute menunjukkan bahwa satu dari lima warga China di Australia mengalami serangan rasis lebih dari dua tahun setelah dimulainya pandemi COVID-19.

Pekerja sosial yang tinggal di Launceston di negara bagian Tasmania Yanqi Wang mengatakan latar belakang etnisnya masih menjadi masalah bagi beberapa kliennya, yang kemudian meminta agar pekerja sosial lain setelah berbincang dengan Yangi Wang.

Dia mengatakan diskriminasi juga dialaminya di luar kerjaan.

"Ada seorang pria yang mengendarai scooter ke arah kami," kata Yangi.

"Tanpa basa basi, dia kemudian berteriak mengeluarkan kata-kata kotor mengenai orang Asia (f***king Asians).

"Ada juga yang mengatakan 'kembali saja ke negeri asal kamu" or mengatakan kata berkonotasi menghina seperti 'chinks'."

The Lowy Institute melaporkan adanya penurunan sedikit dalam tindakan diskriminasi yang lebih nyata dengan warga China Australia melaporkan 'mereka mendapatkan perilaku berbeda' karena faktor etnis mereka, turun dari 37% menjadi 35%.

Banyak yang juga tidak melaporkan

Namun Erin Chew dari lembaga Aliansi Asia Australia mengatakan angka yang ada mungkin belum menggambarkan keadaan sebenarnya dengan banyak insiden yang tidak dilaporkan karena masalah bahasa atau karena tidak tahu harus melapor ke mana.

"Banyak di antara mereka menderita tanpa berani melapor, atau mereka tidak mengerti ke mana untuk melapor ketika menghadapi insiden rasisme," kata Erin Chew.

"Kebencian terhadap bangsa kulit kuning (Yellow peril) sudah ada sejak warga asal China pertama kali tiba di Australia di masa pencarian emas di pertengahan 1800-an.

"Sampai sekarang terus terjadi. Yang adalah adalah bentuknya yang berubah dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan dunia."

Pakar studi China di University of Adelaide Professor Mobo Gao mengatakan insiden ini sering kali banyak terjadi di transportasi publik.

"Kita cenderung melihat lebih banyak wajah Asia di bus atau kereta, contohnya misalnya di Adelaide karena banyak mahasiswa internasional cenderung tidak memiliki kendaraan atau SIM untuk berkendara," katanya.

"Di tempat kerja orang enggan menyampaikan pendapat buruk mengenai orang lain, juga misalnya di perumahan, namun di transportasi publik orang merasa lebih bebas."

Dalam penelitian yang dilakukan sendiri oleh Aliansi Asia Australia, Erin Chew mengatakan 61% insiden rasisme yang dilaporkan terjadi pada wanita Asia.

"Ada pendapat bahwa perempuan Asia lebih mudah dijadikan sasaran karena mereka tidak berani melawan, karena mereka lebih lemah, dan mereka tidak berani menentang pihak yang memiliki otoritas," katanya.

"Rasisme akan terus berlanjut dan bahkan sebenarnya tidak pernah berhenti.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

Lihat juga video 'Aplikasi Peta untuk Warga China Hindari Virus Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)