Dampak COVID-19, Semakin Banyak Warga Australia Mengalami Kerawanan Pangan

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 30 Apr 2022 16:57 WIB
Annette Formosa {kanan) mengatakan sedih tidak bisa memberikan makanan yang layak bagi putrinya Hannah. (ABC News: Fletcher Yeung)
Jakarta -

Annette Formosa tidak pernah membayangkan dia harus menggantungkan diri pada komunitas lokal di Sydney Barat untuk memastikan dia dan keluarganya mendapatkan makanan.

Sekarang dia mengatakan hidupnya akan sangat berbeda bila tidak ada bantuan tersebut.

"Kami akan kelaparan. Tidak ada akan makanan di meja makan di rumah kami," katanya kepada ABC.

Meningkatnya harga kebutuhan pokok di Australia selama beberapa bulan terakhir yang dirasakan oleh semakin banyak warga Australia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Annette.

Ketika pandemi COVID varian Delta mulai melanda Sydney tahun lalu, dia kehilangan pekerjaannya di bidang hospitality.

Dia merasa semua kebutuhan semakin mahal dan membeli makanan pokok dengan uang A$50 (sekitar Rp500 ribu) per minggu tidaklah cukup, apalagi ditambah untuk putrinya yang masih remaja, Hannah.

Ketika belanja, Annette hanya mampu membeli makanan yang paling murah yang tersedia.

Karenanya tidak ada protein seperti daging, atau sayur dan buah segar, yang dibeli hanya pasta.

Daging steak yang dulunya bisa dibeli dengan harga A$5 sekarang sudah naik jadi A$10, dan bahkan dada ayam pun tidak terjangkau lagi harganya bagi Annette.

"Ketika kami hanya punya A$50 untuk seminggu, berarti satu hari sekitar A$10," katanya.

Laporan yang dibuat lembaga amal Foodbank tentang kelaparan tahun 2021 menyimpulkan bahwa satu dari enam warga Australia mengalami masalah kerawanan pangan, artinya mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan makanan yang cukup.

Sekitar 40 persen di antara mereka tidak pernah mengalami masalah tersebut sebelum pandemi terjadi.

Annette Formosa mengandalkan Pusat Komunitas Dundas di kawasan pemukiman Telopea, tempat tinggalnya di Sydney Barat.

Sebelum pandemi, Annette tidak pernah merasa memerlukan bantuan untuk mendapatkan makanan.

Kathryn Hammond manajer di pusat komunitas tersebut mengatakan bantuan makanan sudah menjadi bagian penting dari layanan yang mereka lakukan selama dua tahun terakhir.

"Begitu banyak warga dengan kenaikan harga kebutuhan pokok memerlukan bantuan tambahan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka," kata Hammond kepada ABC.

Meningkatnya biaya hidup ini diperparah lagi dengan penutupan supermarket lokal di dekat tempat tinggal Annette Formosa, hal yang digambarkannya sebagai hal terburuk yang terjadi.

Supermarket IGA di Telopea ditutup bulan Januari 2021 karena keputusan komersial pemiliknya, dan karena itu untuk belanja roti, susu dan telur, Annette harus naik bus satu jam lamanya.

"Susah sekali karenanya. Untung sekali kami memiliki pusat komunitas," katanya.

Pengeluaran pertama yang dikurangi adalah makanan

Menurut Christina Pollard, pakar masalah prioritas kesehatan publik di Curtin University, ketika harga kebutuhan hidup meningkat, maka makanan adalah komoditas pertama yang akan kita kurangi.

"Kita masih harus membayar sewa rumah, mereka masih harus bekerja. Semua pengeluaran itu sudah tetap," kata Dr Pollard kepada ABC.

"Jadi pilihan mereka adalah mengurangi makanan, dan mencari bantuan makanan."

Dr Pollard mengatakan mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau membayar cicilan rumah yang terlalu tinggi dari kemampuan, adalah mereka yang paling mungkin menghadapi kerawanan pangan.

"Ini kadang adalah hal yang memalukan. jadi masalah kerawanan pangan ini tidak tampak jelas, tidak dilaporkan dan cenderung ditutupi," katanya.

Jadi apa solusi yang ada?

Dr Pollard mengatakan salah satu hal yang tidak banyak membantu adalah keberadaan lembaga sosial untuk memberi bantuan.

"Kita tidak mau seperti Kanada, di mana ada lebih banyak lembaga sosial penyedia bantuan makanan dibandingkan supermarket.

"Karena itu tidak menyelesaikan akar permasalahannya."

Menurut Dr Pollard yang perlu dilakukan adalah menaikkan tarif upah gaji minimum, lebih banyak ladang pekerjaan tetap, memadainya bantuan sosial, dan yang lebih penting pemerintah memantau ketersediaan makanan.

"Memantau harga makanan adalah cara yang baik melihat dampak sebuah kebijakan," katanya.

"Bila harga makanan terlalu mahal, dan itu makanan yang bergizi tinggi, maka warga akan mengalami kerawanan pangan.

Kenaikan harga makanan sudah menyebabkan inflasi mencapai 5,1 persen sepanjang 12 bulan terakhir di Australia, kenaikan harga konsumen tertinggi sejak Juni 2001.

Tahun sebelumnya harga kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar dan sewa rumah naik sekitar 4,5 persen sementara dalam waktu bersamaan upah hanya naik 2,3 persen.

Ratusan keluarga di Melbourne perlu bantuan makanan

Imad Abulughud harus mengunjungi pusat komunitas lokalnya di Broadmeadows di Barat Laut Melbourne setiap minggu selama beberapa bulan terakhir untuk mendapat tambahan bahan makanan.

Imad sudah tinggal di Australia selama dua puluh tahun setelah melarikan diri dari Gaza sebagai pengungsi.

Namun, baru pertama kali inilah dia memerlukan bantuan makanan atau merasa khawatir tidak akan memiliki makanan untuk disantap.

"Susah sekali menemukan pekerjaan, juga susah mendapatkan makanan," katanya.

"Semua harga tinggi sekarang."

Imad tidak lagi bekerja sejak mobilnya rusak beberapa bulan lalu dan ia tidak punya uang untuk pergi ke bengkel.

Padahal, pekerjaannya mengharuskan dia berkendara berulang kali mengelilingi Melboune.

Kesehatannya juga terganggu karena dia harus mengurangi konsumsi makanan karena berkurangnya pendapatan.

Dia menderita diabetes tipe 2 sehingga dia sebenarnya memerlukan makanan tertentu yang terjaga kualitasnya.

"Saya harus membeli makanan tertentu sehingga saya bisa bertahan hidup," kata Imad.

"Saya menderita diabetes. Saya harus makanan karena tingkat diabetes saya naik turun. Kalau saya tidak makan, dan di rumah saja, mungkin saya bisa mati."

Imad Abulughud sangat berterima kasih dengan Layanan Komunitas Banksia Gardens di dekat rumahnya.

Lembaga tersebut memberi bantuan pasokan kebutuhan pokok kepada sekitar 300 keluarga setiap minggunya.

Meski direktur eksekutif layanan tersebut, GinaDougall, bangga bisa memberikan bantuan kepada orang-orang seperti Imad, ia mengatakan keadaan tidak baik-baik saja.

"Sangat mengkhawatirkan melihat begitu banyaknya mereka yang memerlukan bantuan," katanya kepada ABC.

Sampai saat ini, Imad Abulughud harus tetap berjalan kaki dari flatnya ke pusat komunitas tersebut.

Dia juga mengirimkan pesan pendek kepada para politisi Australia menjelang pemilu tahun ini yang akan diselenggarakan 21 Mei mendatang.

"Saya warga negara Australia. Bila mereka tidak mengurusi kami, saya tidak akan memberi suara kepada mereka," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News.

(ita/ita)