Apakah Pembelian Twitter oleh Elon Musk adalah Keputusan Bisnis yang Tepat?

ABC Australia - detikNews
Rabu, 27 Apr 2022 14:01 WIB
Elon Musk banyak dilihat sebagai pengusaha yang memiliki visi jauh ke depan namun banyak juga yang tidak percaya dengan pendekatannya. (Reuters:Patrick Pleul)
Jakarta -

Berita bahwa Elon Musk membeli Twitter mendominasi dunia dalam beberapa hari terakhir namun Editor Bisnis ABC Ian Verrender mengatakan banyak pendukung Musk mempertanyakan apakah langkah tersebut merupakan keputusan bisnis yang tepat

Dalam beberapa tahun terakhir Elon Musk sudah sering menjadi pemberitaan global karena selain ia adalah salah satu orang terkaya di dunia, beberapa langkah bisnisnya kadang juga kontroversial.

Selain dikenal dengan bisnis mobil listriknya, Tesla, di mana keseluruhan nilai perusahaan tersebut melebihi kombinasi perusahaan pembuat mobil lainnya, Elon Musk juga memiliki dua bisnis lain yang menarik perhatian.

Pertama adalah bisnis penerbangan angkasa luar (dengan SpaceX) dan kedua melakukan pembuatan terowongan di bawah tanah (dengan The Boring Company).

Berbagai perusahaan itu belum meraih keuntungan, sementara Tesla baru dalam 18 bulan terakhir meraup profit.Namun, banyak orang melihat Elon Musk sebagai pengusaha yang visioner dan mampu melihat jauh ke depan.

Ini yang membuat keputusannya membeli Twitter, selain menarik perhatian media, juga diterpa gelombang pertanyaan besar.

Apa yang dilihat Elon Musk di Twitter?

Pertanyaan pembelian Twitter senilai A$61,1 miliar tersebut timbul di kalangan analis saham.

Masalahnya,sampai sekarang Twitter belum menghasilkan keuntungan dan banyak yang mengatakan besar kemungkinan Twitter tidak akan pernah bisa mencapai keuntungan karena model bisnisnya yang keliru.

Memang kerugian Twitter hanya A$307 juta tahun lalu, angka yang lebih baik dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang mencapai A$ 1,58 miliar.

Dibandingkan pesaing utamanya di media sosial, Facebook, Twitter sejauh ini gagal mendapatkan pemasukan besar dari iklan. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah Elon Musk tidak tahu bagaimana memperbaiki situasi ini.

Selain itu, keadaan ekonomi dunia saat ini juga tengah berubah arah secara drastis.

Setelah selama tiga puluh tahun terakhir perekonomian dunia ditandai dengan turunnya inflasi dan tingkat suku bunga, sekarang keadaan tiba-tiba berubah dengan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat di berbagai negara.

Situasinya akan menyulitkan berbagai perusahaan yang selama ini belum untung, termasuk Twitter.

Dengan pembelian ini Twitter tidak lagi menjadi perusahaan terbuka secara publik sehingga keuangan media sosial ini lebih tertutup dan juga tidak begitu terpengaruh dengan pergerakan saham dari hari ke hari.

Berbagai bank yang mendukung Elon Musk mendanai pembelian Twitter sebesar A$32 miliar pasti akan dengan seksama memperhatikan langkah yang diambil olehnya.

Perhatian Elon Musk terkait kebebasan berpendapat

Elon Musk sudah lama memiliki hubungan benci tapi cinta dengan Twitter.

Dia adalah salah satu pengguna Twitter yang populer dengan 83 juta pengikut di seluruh dunia dan menggunakan platform ini untuk mengumumkan berbagai langkah bisnisnya.

Baru-baru ini Elon Musk mengkritik Twitter yang berusaha membungkam kebebasan berpendapat, terutama yang menyangkut usahanya.

Apa yang dilakukan Elon Musk sebelumnya tidak disukai oleh Komisi Pemantau Keuangan Saham Amerika Serikat dan sekarang pembelian Twitter semakin menambah kekhawatiran tersebut.

Banyak taipan dunia kadang tertarik untuk menguasai media, tapi mereka kebanyakan membeli media tradisional.

Pemilik Amazon, Jeff Bezos, misalnya, yang perusahaannya, Nash Holdings, menguasai media The Washington Post.

Dengan kepemilikan Twitter ini, Elon Musk akan mengurusi media yang sudah mendapatkan banyak kritikan karena membiarkan berbagai disinformasi, mulai dari politik sampai ke pandemi, memenuhi platform tersebut.

Baru-baru ini, Elon Musk telah memimpin tuntutan untuk mengurangi beberapa pembatasan yang diberlakukan sendiri oleh Twitter, sebuah perubahan yang dikhawatirkan banyak orang dapat menjadikan platform ini alat yang mempengaruhi perpecahan sosial dan pergolakan politik.

Berisiko secara bisnis

Dari sisi bisnis, hal seperti itu bahkan semakin menimbulkan kekhawatiran.

Para pemasang iklan, terutama mereka yang tidak suka dengan kontroversi, mungkin akan enggan memasang iklan di Twitter, hal yang bisa semakin mempersulit neraca keuangan media sosial tersebut.

Waktu juga bisa jadi masalah. Salah satu pendiri Twitter, Jack Dorsey, baru-baru ini harus membagi waktu untuk mengurusi Twitter dengan perusahaan barunya Block.

Diperkirakan dia tidak akan memiliki waktu cukup untuk sepenuhnya mengurusi Twitter.

Dan walau dikenal dengan berbagai pemikiran cemerlangnya, keterlibatan Elon Musk di Twitter bisa juga mempengaruhi konsentrasinya di bisnis utamanya yaitu Tesla, SpaceX dan The Boring Company.

Tesla mendapatkan penghasilan A$7,6 miliar tahun lalu setelah hanya mendapatkan penghasilan A$1 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan itu sudah cukup untuk menutupi kerugian di tahun-tahun sebelumnya.

"Inilah yang membuat kita sekarang benar-benar terasa sebagai sebuah perusahaan saat ini," kata Elon Musk bulan Januari tahun 2022.

Elon Musk sudah berjanji untuk mengeluarkan dana A$29 miliar bagi pembelian Twitter dengan sisanya berbentuk utang dari bank investasi Morgan Stanley.

Untuk mendanai pembelian Twitter, Elon Musk harus menjual sebagian sahamnya di Tesla.

Nilai kekayaannya sekarang ini diperhitungkan sekitar A$367 miliar namun kekayaan bersih itu berdasarkan nilai saham Tesla yang saat ini sedang berada di titik tertinggi.

Dan seperti yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan teknologi yang nilainya terlalu tinggi seperti Netflix bisa mendadak terjun bebas, setelah saham perusahaan tersebut jatuh 38 persen minggu lalu.

Ini bisa terjadi jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News.

Simak Video 'Sejumlah Hal yang Ingin Diubah Elon Musk dari Twitter':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)