Dari Burger Unta Sampai Martabak Telur, Pasar Ramadan di Sydney Kembali Dibuka

ABC Australia - detikNews
Senin, 11 Apr 2022 17:31 WIB
Keramaian pasar ramadhan di Lakemba di tahun 2022 kembali diraskan warga Muslim di kawasan Sydney dan sekitarnya. (Foto koleksi Canterburry-Bankstown)
Jakarta -

Salah satu kegiatan terbesar di Australia sedang berlangsung di kawasan Lakemba, yakni Pasar Malam Ramadan yang digelar selama sebulan penuh.

Lakemba adalah kawasan yang letaknya tidak jauh dari Sydney, ibu kota New South Wales. Kawasan ini dikenal dengan penduduknya memiliki latar belakang sangat beragam.

Setelah sempat dihentikan selama dua tahun karena awal pandemi COVID-19, acara Ramadan Nights Lakemba digelar kembali.

Menurut walikota setempat diperkirakan ada 1 juta pengunjung yang akan datang ke pasar tersebut.

"Dari awalnya cuma satu jalan yang menjual makanan, Lakemba sekarang sudah menjadi tempat yang dikunjungi banyak orang sebagai tempat terbaik di Australia untuk merayakan dan merasakan suasana Ramadan," kata Khal Asfour, walikota Canterbury-Bankstown, yang membawahi kawasan Lakemba.

Nick Molodysky adalah seorang 'content creator' yang tinggal di Sydney dan fasih berbahasa Indonesia.

Pemilik akun Instagram-nya@masak2dengannick yang banyak berbagi cerita soal makanan dan jajanan mengatakan kalau pasar malam di Lakemba menunjukkan keberagaman masyarakatnya.

"Pasar Ramadan ini juga bagus untuk komunitas Islam, karena orang dari latar belakang yang berbeda-beda bisa mencicipi makanan khas daerah lain di pasar tersebut," ujarnya.

"Contohnya, orang Islam dari Pakistan mungkin jarang makan martabak telur, atau orang Islam dari Indonesia juga bisa mencicipi makanan khas Pakistan," jelasnya kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.

Sementara bagi warga yang bukan beragama Islam, menurut Nick menjadi kesempatan untuk merasakan suasana Ramadan, sekaligus mengenal kuliner halal dari berbagai negara.

Dari pengamatannya, Nick mengatakan martabak telur adalah salah satu yang paling diincar oleh pengunjung asal Indonesia.

Martabak Telur memang dicari oleh Fery Ripai, warga Indonesia yang sedang sekolah dan juga bekerja tidak jauh dari Lakemba.

"Namun saya lihat yang jualan martabak telur ini bukan orang Indonesia tapi orang Burma," katanya kepada ABC.

Fery mengaku jika ia benar-benar merasakan suasana Ramadan di kawasan Lakemba, meski umat Muslim adalah minoritas di Australia.

Mencicipi burger unta

Seorang warga asal Indonesia lainnya, Hafiz Lidinillah, sudah hampir empat tahun tinggal di Lakemba.

Ia sedang menempuh studi doktoral di bidang hukum di Western Sydney University.

"Selama masa Ramadan, saya beberapa kali dalam seminggu ke sana untuk beli makanan. Dari tempat tinggal saya jalan kaki sekitar 10 menit," katanya.

Seperti kebanyakan warga lainnya, Hafiz juga menanti-nantikan pasar malam Ramadan karena bisa menemukan banyak ragam makanan.

Salah satu makanan yang disukainya dari pasar malam Ramadan adalah hidangan burger unta.

"Itu kan kita tidak menemukannya di Indonesia. Dan juga saya suka spinning potato (kentang yang digoreng ditusuk seperti sate."

Hafiz mengatakan apa yang dilihat dan dialaminya di Lakemba mengingatkan dirinya dengan pasar Bendungan Hilir di Jakarta.

"Asal saya dari Jakarta, saya lahir di Karet Tengsin Jakarta Pusat. Pasar Ramadan di Lakemba mirip sekali dengan kondisi pasar Ramadan di Pasar Benhil,"katanya.

Penasaran setelah lihat di TikTok

Wendi Wijarwadi dan keluarganya baru tiba di Sydney sebulan yang lalu.

Wendi sedang melanjutkan pendidikan doktoralnya di bidang pendidikan di University of New South Wales (UNSW).

"Pertama datang ke Sydney, saya langsung ke Lakemba karena kebetulan ada kawan yang melanjutkan PhD di Western Sydney Uni," ujarnya.

"Juga teman-teman NU Australia banyak bermukim di sana. Dari mereka-lah saya tahu bahwa akan ada Ramadan Nights Lakemba."

"Infonya juga kebetulan banyak muncul di Tiktok. Jadi saya semakin penasaran dengan kemeriahan Lakemba Night."

Menurut Wendi, akses ke Lakemba dengan transportasi umum dari Sydney juga mudah.

"Dari kampus saya akses melalui tram ke Central Stasiun dan lanjut kereta menuju Lakemba. Perjalanan sekitar 1 jam," kata Wendi.

Wendi mengatakan makanan yang dijual sangat istimewa dan enak, kebanyakan tidak bisa ditemukannya di Indonesia.

Ia menjelaskan kebanyakan jajanan yang dijual memang berasal dari Timur Tengah, seperti kopir pasir dari Yordania atau Kunefa dari Palestina.

Tapi ada juga masakan dari negara lain, seperti India, yang menawarkan hidangan kari atau masalah.

Soal harga, Wendi mengatakan jika makanan dan minuman yang ditawarkan terjangkau.

"Harganya juga murah. Minuman kisaran AU$5 [lebih dari Rp 50 ribu] dan makanan antara AU$8-10 [lebih dari Rp80-100 ribu."

Sejak tiba di Australia, Wendi mengaku lebih dari sekali datang ke pasar malam Lakemba dan rencananya ia akan kembali lagi.

"Masih banyak makanan yang belum dicicipi," katanya.

(ita/ita)