Saat Berkampanye, PM Australia Malah Dimaki Warga yang Kecewa

ABC Australia - detikNews
Kamis, 07 Apr 2022 14:23 WIB
Jakarta -

Perdana Menteri Australia mendapat teguran dan makian dari seorang warga soal kenaikan biaya hidup yang makin membebani.

Saat PM Scott Morrison melakukan kunjungan ke pub bernama Edgeworth Tavern di kawasan Newscatle, New South Wales, ia didatangi seorang pensiunan.

Pria pensiunan itu memaki PM Morrison soal bantuan keuangan yang diterima oleh warga lanjut usia seperti dirinya.

"Ini 'kan yang Anda katakan ketika Anda terpilih waktu itu: 'Kami akan membantu semua orang yang telah bekerja sepanjang hidupnya, membayar pajak mereka'," kata pria tersebut.

"Ya saya sudah bekerja sepanjang hidup dan membayar pajak."

Kepada PM Morrison, pria ini mengatakan sudah bekerja di pertambangan selama 30 tahun, tapi masa pensiunnya malah terdampak dari pembatasan pembayaran uang pensiun.

"Kamu bisa punya rumah satu senilai juta dolar, punya AU$250.000 dengarkan saya tabungan $250.000 di bank, punya pengurangan pajak atau pajaknya dibayarkan, tapi seorang pensiunan disabilitas tak bisa punya penghasilan apa pun," katanya.

Ketika ia hendak dipisahkan dari PM Morrison, pria itu menolaknya dan malah menunjukkan jarinya ke muka Perdana Menteri Australia dengan menyampaikan kekecewaan lainnya.

Pada bulan November lalu Jaksa Agung mengindikasikan jika Pemerintah Australia di bawah pimpinan PM Morrison tidak akan punya waktu untuk memenuhi janji mereka pada pemilu 2019.

Janji tersebut adalah mendirikan komisi anti-korupsi sebelum pemilu 2022 dengan rancangan undang-undang yang akan dikeluarkan pada November 2000.

Warga pensiunan tersebut juga merasa PM Morrison tidak memenuhi janjinya dan malah seperti rubah yang mengawasi kandang ayam, alias malah akan memangsanya.

PN Morrison menawarkan beberapa kali kesempatan agar pria itu berbicara dengan salah satu anggota stafnya untuk membahas hal-hal yang ia ingin sampaikan.

"Sebaiknya kamu melakukan sesuatu saya muak dengan omong kosongmu," teriak pria itu dan saat itu PM Morrison juga pergi darinya.

Kampanye Pemilu belum dimulai secara resmi, tapi PM Morrison dan Pemimpin Oposisi Anthony Albanese sudah berkeliling selama beberapa minggu untuk bertemu warga dan mengumumkan rencana kebijakan mereka.

Pekan ini diperkirakan Perdana Menteri akan mengumumkan Pemilu, yang kemungkinan digelar pada 14 atau 21 Mei.

Masalah biaya hidup di kalangan warga sudah menjadi perhatian utama oleh koalisi Partai Liberal dan Nasional serta oposisi Partai Buruh.

Sebelumnya, Pemerintah Koalisi mengumumkan pemberian bantuan tunai sebesar AU$250 untuk penerima pensiun dalam anggaran federal.

Tapi kebijakan ini dikritik oleh sejumlah organisasi layanan sosial karena dianggap tidak akan cukup.

Sementara Partai Buruh berjanji untuk meninjau tunjangan kesejahteraan. Mereka berniat untuk menaikkan jumlahnya jika memenangkan Pemilu. Tapi mereka selalu menolak untuk menyebutkan seberapa banyak kenaikannya.

Menghadapi makian dari warga di sebuah pub bukanlah satu-satunya tantangan yang dihadapi PM Morrison pekan ini.

Tingkah laku dan karakternya juga dipertanyakan berkaitan dengan persaingan dalam penentuan calon anggota legislatif (caleg) yang terjadi di New South Wales.

Intervensi pengurus Partai Liberal tingkat federal oleh PM Morrison dan dua orang lainnya yang mengabaikan pengurus tingkat negara bagian dalam penunjukan beberaoa caleg untuk daerah pemilihan (dapil) di New South Wales kini digugat ke Mahkamah Agung (High Court) Australia.

Pencalegan PM Morrison sendiri untuk Dapil Cook pada tahun 2007 kini diperiksa kembali, karena munculnya tuduhan penggunaan isu ras untuk menyingkirkan saingannya.

Michael Towke, bakal caleg Partai Liberal yang akhirnya dikalahkan PM Morrison saat itu, menyebutkan bahwa statusnya sebagai keturunan Lebanon telah digunakan untuk menyerangnya.

PM Morrison sudah berulang kali membantah tuduhan itu dan menjelaskannya sebagai sebuah "penghinaan yang jahat".

Tapi Michael mengatakan kepada acara The Project dari Channel Ten jika Perdana Menteri "saat ini tidak cukup memiliki kredibilitas dalam soal kebenaran".

"Maksud saya, pihaknya sendiri sudah mengatakannya [Wakil Perdana Menteri] Barnaby Joyce menyebutnya bukan hanya pembohong, tapi pembohong yang berulang-ulang," kata Michael Towke.

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporan dalam bahasa Inggris

(ita/ita)