Kepala Intelijen Inggris Tuding Putin Terlalu Meremehkan Pertahanan Ukraina

ABC Australia - detikNews
Jumat, 01 Apr 2022 08:10 WIB
Sir Jeremy menyatakan para penasehat Presiden Putin takut menyampaikan informasi tentang kekalahan Rusia dalam Perang Ukraina. (AP: Russian Defence Ministry Press Service)
Jakarta -

Kepala badan intelijen Inggris, Sir Jeremy Fleming, mengatakan Presiden Vladimir Putin telah "sangat keliru menilai" soal kesulitan yang akan dihadapi dalam menyerang Ukraina.

Ia juga menyebut tentara Rusia menyabotase peralatan militer mereka sendiri karena moral yang memburuk.

Sir Jeremy menyampaikan penilaian tersebut saat berpidato di National Security College (NSC) di Canberra dalam kunjungannya ke Australia.

Menurutnya Pemerintah Rusia mulai menyadari telah membuat kesalahan perhitungan strategis, namun penasihat Presiden Rusia "takut" untuk menyampaikan yang sebenarnya tentang tingkat kekalahan mereka.

"Jelas sekali [Putin] salah menilai perlawanan dari rakyat Ukraina," katanya.

"Dia meremehkan kekuatan koalisi dalam menghadapi tindakannya. Dia meremehkan konsekuensi ekonomi dari sanksi yang dijatuhkan," ujar Sir Jeremy.

"Dia melebih-lebihkan kemampuan militernya sendiri akan mengamankan kemenangan yang cepat," jelasnya.

"Kita percaya para penasihat Putin takut untuk mengatakan yang sebenarnya," tambahnya.

Sir Jeremy mengklaim tentara Rusia "menolak untuk melaksanakan perintah, menyabotase peralatan mereka sendiri dan bahkan secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat mereka sendiri".

Namun dia tidak menyebutkan informasinya berasal dari mana.

Sir Jeremy menilai Rusia tidak mengerahkan serangan 'cyber' besar-besaran di Ukraina untuk melumpuhkan negara itu dan mengatakan serangan semacam itu bukan bagian utama dari rencana Rusia.

Namun dia mengatakan masih ada "niat berkelanjutan dari Rusia untuk mengganggu sistem pemerintahan dan militer Ukraina".

Sir Jeremy juga memperingatkan negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat dan Australia mungkin menjadi sasaran berikutnya.

"Kita tentu telah melihat indikator yang menunjukkan bahwa aktor siber Rusia mencari target di negara-negara yang menentang tindakan mereka," katanya.

Dia juga menyampaikan penilaian yang blak-blakan tentang China, dengan mengatakan China memutuskan untuk mendukung Rusia saat ini sebagian karena berharap untuk merebut kembali Taiwan.

"[Presiden China Xi Jinping] tidak secara terbuka mengutuk invasi ini, mungkin menghitung bahwa hal itu membantunya menentang AS," katanya.

"Dan dengan tujuan untuk merebut kembali Taiwan, China tidak ingin melakukan apa pun yang dapat membatasi kemampuannya untuk bergerak di masa depan," katanya.

Namun Sir Jeremy mengatakan kemitraan itu memiliki risiko bagi kedua negara otoriter.

"Rusia memahami bahwa dalam jangka panjang, China akan menjadi semakin kuat secara militer dan ekonomi. Beberapa kepentingan mereka berkonflik. Rusia bisa tersingkir," katanya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News untuk ABC Indonesia

Lihat juga video 'Tentara Rusia Sudah Nggak Patuh, Pesawat Sendiri Ditembak Jatuh':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)