China Protes Perlakuan Terhadap Mahasiswa China yang Visanya Dibatalkan Saat Tiba di Sydney

ABC Australia - detikNews
Rabu, 30 Mar 2022 14:01 WIB
Wang Wenbin juru bicara Deplu China mengecam tindakan Dinas Perbatasan Australia. (China MOFA)
Jakarta -

Lembaga 'Australian Border Force' (ABF) yang menjaga perbatasan Australia menegaskan mereka memiliki hak dan akan membatalkan visa mereka yang memberikan informasi palsu.

Pernyataan ini diberikan setelah China mengajukan nota diplomatik terkait perlakuan yang diterima seorang mahasiswa asal China di bandara Sydney.

Mahasiswa asal China tersebut sempat diinterogasi saat tiba di bandara Sydney, kemudian visanya dibatalkan.

Menurut Kementerian Luar Negeri Cina, ABF menuduh mahasiswa tersebut tidak menyebutkan pelatihan militer yang pernah dijalaninya yang berujung ke pembatalan visanya.

Beijing mengatakan petugas imigrasi di Bandara Sydney tersebut salah mengartikan pelatihan militer yang wajib dijalani oleh setiap mahasiswa di universitas China dengan pelatihan militer negara.

Pelatihan militer yang dijalankan para mahasiswa tersebut berjalan selama dua sampai empat minggu dan para mahasiswa mengenakan seragam seperti militer dan menjalani latihan seperti baris berbaris.

"Apa yang dilakukan Australia bertentangan dengan dasar prinsip pertukaran budaya antara China dan Australia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin.

"Kami mendesak Australia untuk menghentikan tindakan ini yang hanya merugikan,tanpa memberi manfaat bagi diri sendiri," katanya.

Media milik pemerintah China, China Daily, sehari sebelumnya menerbitkan sebuah artikel yang melaporkan ada mahasiswa lain yang mengalami kejadian serupa sebulan sebelumnya ketika mencoba masuk ke Australia.

Untuk kedua kasus tersebut, pihak berwenang China tidak memberikan rincian khusus mengenai kapan kejadian itu berlangsung, atau usia dan jenis kelamin mahasiswa yang bersangkutan.

Pihak ABF menolak memberikan komentar atas kasus perorangan tetapi telah membantah kemungkinan pembatalan visa seseorang.

"Mereka yang melakukan perjalanan harus menyadari bahwa Australian Border Force bisa dan akan membatalkan visa di pemeriksaan imigrasi bila seseorang memberikan informasi palsu," kata lembaga tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Kami berkomitmen memfasilitasi masuknya pemegang visa yang sah ke Australia namun tidak ragu-ragu untuk menggunakan kuasa kami guna melindungi kepentingan nasional Australia ketika dibutuhkan."

Ini bukanlah untuk pertama kalinya China menyampaikan nota diplomatik kepada Australia terkait perlakuan yang diterima mahasiswa China di Australia.

Dalam dua tahun terakhir, Kementerian Pendidikan China sudah mengeluarkan dua peringatan tentang keamanan mahasiswa China di Australia.

Peringatan itu antara lain menyangkut beberapa insiden serius yang dialami oleh mahasiswa asing di sejumlah tempat di Australia, serta peringatan umum mengenai perlunya sikap hati-hati melakukan perjalanan selama pandemi.

Peringatan ini dilakukan saat Pemerintah China menerapkan berbagai sanksi perdagangan terhadap berbagai produk ekspor Australia sehingga terlihat sebagai ancaman berlatar ekonomi terhadap universitas Australia yang sangat bergantung pada mahasiswa asal China.

"Tuduhan terbaru ini bisa dikategorikan sebagai usaha pemerintah China untuk secara tidak benar menggambarkan Australia sebagai tempat yang berbahaya bagi mahasiswa China," kata Alex Joske peneliti independen mengenai aktivitas militer China di beberapa universitas di negeri-negeri Barat.

Pernyataan adanya perlakuan tidak adil yang dilakukan pemerintah China juga terjadi di tengah meningkatnya sorotan terhadap mereka yang memiliki hubungan dengan militer China dan melakukan penelitian atau mendapatkan bantuan teknologi dari universitas asing.

Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump sebelumnya sudah menerapkan pembatasan terhadap mahasiswa pascasarjana China untuk masuk ke Amerika Serikat karena khawatir mereka memiliki hubungan dengan militer sehingga 'berisiko lebih besar ' untuk dipaksa bekerja sama dengan Pemerintah China.

"Walau kasus yang sekarang ini masih belum jelas, militer China mengirim sejumlah besar ilmuwannya untuk mendapatkan pelatihan dan bekerja di universitas asing," kata Joske.

"Secara terpisah pula mahasiswa memang umumnya diharuskan menjalankan pelatihan gaya militer ketika masuk universitas," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News.

(ita/ita)