Mahalnya Perawatan Gigi di Australia Sampai Harus Berpikir Sebelum ke Dokter Gigi

ABC Australia - detikNews
Senin, 28 Mar 2022 11:19 WIB
Jane Bridges menangis terharu saat mendengar seorang yang tidak dikenal ingin membelikannya set gigi baru. (ABC News:Alexandra Alvaro)
Jakarta -

Hampir 16 tahun yang lalu, warga Australia bernama Jane Bridges menyadari jika salah satu sisi wajahnya bengkak.

Ia dilarikan ke rumah sakit di Hobart dan pada pukul 21:30, semua giginya terpaksa dilepaskan.

"Saya diberikan set gigi yang diproduksi oleh rumah sakit publik di New Town dan saya meminta mereka membuatkan set yang sekecil mungkin," ujarnya.

"Mulut saya kecil, namun set yang saya dapatkan membuat saya terlihat seperti punya mulut kuda."

"Set itu terlalu besar, tidak nyaman, namun saya tidak ingin meminta yang baru pada mereka."

Meski sempat terlintas untuk membuat set gigi di klinik pribadi, Jane membatalkan niatnya karena harus membayar A$3,000-$4,000 , atau berkisar lebih dari Rp30-40 juta, yang seharusnya bisa dipakai untuk membayar sewa rumah dan bensin.

"Jadi selama 16 tahun, saya tidak punya gigi," katanya.

Setelah pemberitaan ABC tentangnya, seorang yang tidak dikenal di Queensland mengontak Jane dan menawarkan untuk membiayai set gigi barunya.

"Saya menangis mendengarnya," katanya.

"Saya sekarang bisa tersenyum dengan indah dan percaya diri."

Setelah usahanya untuk mencari pekerjaan selama bertahun-tahun tidak berhasil, Jane pada akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di bidang 'customer service', yang menurutnya adalah berkat kepercayaan diri tambahan dari giginya.

Mempengaruhi kesehatan mental

Menyadari besarnya pengaruh memiliki gigi kepada kehidupannya, Jane berandai punya banyak uang.

Ia juga terdorong untuk menolong orang lain, seperti perempuan Queensland yang menolongnya.

Ia meminta agar lembaga asuransi kesehatan Australia, yaitu Medicare, juga membiayai prosedur gigi, karena kondisi gigi bisa menyulitkan seseorang yang ingin bekerja dan menikmati hidup.

"Saya punya teman yang punya masalah gigi bungsu. Ia bekerja paruh waktu dan ingin mencari pekerjaan lain ... ia tidak bisa melakukannya karena sakit gigi," katanya.

Selain itu, Jane juga memiliki teman yang tidak banyak tersenyum karena sudah mulai ompong.

"Hal seperti ini bisa mempengaruhi kesehatan mental mereka dan membuat mereka malas untuk keluar-keluar," katanya.

"Pemerintah harus tahu hal ini, ujarnya.

"Inilah cara saya berterima kasih pada perempuan yang membiayai gigi saya dengan membantu orang lain."

Asuransi kesehatan negara tidak membiayai keperluan gigi

Dewan Perwakilan Independen di Australia, Andrew Wilkie, mengatakan "sudah terlalu lama" Pemerintah dan pihak oposisi tidak berkomitmen menambahkan keperluan gigi dalam program Medicare.

"Tidak ada penjelasan logis mengapa saat ini keperluan gigi tidak termasuk dalam asuransi, dan perawatan gigi gratis hanya tersedia untuk anak-anak," katanya.

Penyediaan layanan gigi untuk seluruh masyarakat Australia membutuhkan biaya besar, tapi menurut Andrew Australia adalah negara yang kaya.

"Uangnya ada. Yang kurang adalah keinginan figur politik untuk memberlakukannya."

Di tahun 2019-20, Australia mencatat adanya 67.000 kasus perawatan di rumah sakit karena masalah gigi yang seharusnya bisa diselesaikan dari awal, menurut Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Australia.

Anak berusia lima sampai sembilan tahun adalah kelompok umur terbesar yang mengalaminya.

Dalam periode tersebut, seharusnya 1.512 kasus masalah gigi bisa dihindari sehingga tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.

Biaya adalah penyebab utama orang tidak mengakses layanan gigi. Dalam sebuah studi di tahun 2017-18, satu dari empat warga Australia di atas usia 15 tahun mengakui hal ini.

Bayar sewa rumah atau ke dokter gigi?

Richard Weeding yang tinggal di Tasmania mengatakan sering dihadapkan pilihan untuk membayar uang A$600 atau lebih dari Rp 6 juta untuk biaya hidup atau perawatan gigi.

"Harganya terlalu mahal ... saya tidak punya rumah sekarang jadi susah sekali," katanya.

Sementara itu, Angela Hanson sulit memilih antara membayar sewa rumah atau perawatan gigi.

"Suami dan saya bekerja jadi kami tidak punya kartu kesehatan, tidak bisa mengakses perawatan gigi yang murah, jadi kami harus memilih sakit gigi atau bayar sewa," katanya.

"Suami saya punya masalah gigi bungsu, namun tidak bisa ke dokter gigi sekarang karena harus menghemat."

Mariane Martin di lain sisi harus menunggu bertahun-tahun agar giginya yang sudah rusak dari kecil bisa diperbaiki.

Namun harga dan waktu tinggi di Australia membuatnya memilih untuk berobat ke dokter gigi di Thailand.

"Biaya perawatan di Australia terlalu mahal," katanya.

"Lebih murah jalan-jalan ke Thailand dan ke dokter di sana dari pada di sini."

Akhirnya, Mariane membenarkan giginya di Thailand.

"Saya perlu ke dokter gigi demi kepercayaan diri ... satu hal yang selalu kita bawa adalah senyum," ujarnya.

"Ketika tidak tersenyum, biasanya kita menjadi lebih tertutup, jadi ini yang berusaha saya ubah."

Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Perawatan Lanjut Usia,Greg Hunt mengatakan Pemerintah "memahami pentingnya kesehatan mulut dan perannya dalam mendukung kesehatan warga secara umum".

Ia mengatakan walau negara bagian memiliki tanggung jawab utama dalam hal layanan gigi publik, mereka tengah bekerja sama dengan Pemerintah Federal untuk menyediakan opsi pembiayaan jangka panjang.

Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris

(ita/ita)