Kebutuhan Pengasuh Anak di Australia Naik, Perang di Ukraina Membuat Warga Eropa Takut Datang

ABC Australia - detikNews
Jumat, 25 Mar 2022 17:21 WIB
Keluarga Jamie Burgess dan Nicholas Dow kesulitan menemukan pengasuh bayi untuk anak-anak mereka. (Supplied)
Jakarta -

Bagi orang tua di Australia yang dua-dua bekerja, seperti pasangan Jamie Burgess dan Nic Dow mengasuh ketiga anaknya sangatlah sulit.

Oleh karenanya pasangan yang tinggal di Baralaba, sebuah kota kecil di Queensland tengah,memutuskan untuk mempekerjakan pengasuh anak yang bekerja di rumah.

"Situasi kami berubah, tiba-tiba kami perlu seseorang untuk menjaga anak-anak," kata Nic.

"Kami tidak bisa menemukan babysitter atau pengasuh anak-anak dan kami sudah berusaha mencari beberapa lama."

Mereka memutuskan untuk mencari pengasuh, baik laki-laki atau perempuan, dari mana saja di luar Australia.

"Kami mengatakan senang dengan siapa saja, seseorang yang baik dalam mengasuh anak-anak," kata Nic.

'Au pair' banyak dibutuhkan

Menurut yayasan yang mendatangkan para pengasuh bayi dan anak-anak ke Australia, ada permintaan besar karena orang tua di Australia semakin sibuk dengan pekerjaan mereka.

Walau perbatasan internasional ke Australia sudah dibuka sejak awal tahun 2022, tapi daftar tunggu kedatangan 'au pair' ini semakin panjang dan banyak keluarga harus menunggu selama berbulan-bulan.

Kebanyakan 'au pair' memang berasal dari Eropa, karena yang dibutuhkan adalah mereka yang bisa berbahasa Inggris.

Menurut beberapa yayasan pengasuh bayi dan anak-anak, perang di Ukraina memberi dampak besar karena banyak yang khawatir jika harus terbang jauh untuk mencapai Australia.

Salah seorang pengasuh bayi yang sudah tiba di Australia adalah Chris Martin 25 tahun asal Jerman.

Beberapa pekan setelah Jamie dan Nic mengajukan permintaan untuk mendapatkan 'au pair', Chris kemudian bergabung.

Menurut Chris ini adalah saat yang tepat untuk bisa ke Australia.

"Ini adalah seperti sebuah petualangan bagi saya," katanya.

Sebagai imbalan untuk mengurus tiga orang anak, Chris mendapatkan penginapan dan makanan gratis dan upah yang menurutnya lumayan.

"Adalah hal yang bermanfaat untuk mendatangi negara lain yang bisa berbahasa Inggris dan melihat apa yang ada untuk menambah pengalaman budaya."

Chris mengatakan ia menikmati keadaan di Australia saat ini dan masih akan terus melakukan perjalanan menelusuri Queensland lebih banyak.

"Kami akan ke Gladstone akhir pekan ini dan juga akan pergi ke Pantai Airlie," katanya.

"Sejauh ini apa yang saya alami cocok dengan perkiraan saya sebelumnya, yakni orang Australia bersahabat, hidupnya santai dan mereka sangat-sangat tertarik dengan olahraga."

Dampak perang bagi perjalanan internasional

Presiden Asosiasi Aur Pair Budaya Australia, Jackie Rylance mengatakan berbagai yayasan sebenarnya berharap semakin banyak pengasuh bayi dan anak yang datang dari Eropa, ketika perbatasan internasional ke Australia dibuka.

Namun ia mengatakan invasi Rusia ke Ukraina membuat sebagian mereka tidak mau bepergian.

"Mereka khawatir harus melakukan perjalanan begitu jauh ke Australia dan tidak tahu mengenai apa yang akan terjadi di Ukraina dan dampaknya ke Eropa," kata Jackie.

"Dan selama pandemi dua tahun sebelumnya, tidak ada au pair yang datang sama sekali, dan ini berat bagi banyak keluarga.'

Salah satu agen penempatan pekerja mengatakan mereka punya daftar keluarga Australia yang membutuhkan dan sudah lama menunggu.

Juru bicaranya, Miryam Aubert, mengatakan dia berharap adanya peningkatan kedatangan pengasuh bayi mulai bulan Juli karena tahun ajaran akan berakhir di Eropa.

Dia juga berharap bahwa program working holiday visa (WHV), visa berlibur sambil bekerja diperluas ke lebih banyak negara.

"Kami bisa menempatkan lebih banyak au pair bila visa diberikan kepada lebih banyak negara," kata Miryam.

"Ada banyak pengasuh anak yang menghubungi kami untuk melamar pekerjaan dari negara-negara Amerika Latin dan negara Eropa lainnya, namun tidak bisa diterima karena kewarganegaraan mereka."

"Ada keluarga yang sudah menyampaikan dukungan dengan kesediaan mereka menerima pengasuh bayi asal Ukraina, namun sayangnya ini tidak memungkinkan karena Ukraina tidak masuk dalam daftar dalam program WHV."

Pemerintah mempertimbangkan memperluas program WHV

Lebih dari 11 ribu pemegang working holiday visa (WHV) sudah tiba di Australia dalam empat bulan terakhir, dan hampir 48 ribu visa baru sudah dikeluarkan sejak adanya pengumuman bahwa perbatasan internasional dibuka lagi.

Juru bicara Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan bahwa Argentina, Chile, Peru, Spanyol dan Uruguay sudah menjadi negara yang masuk program WHV ke Australia.

"Pemerintah terus mempertimbangkan untuk memperluas program WHV dengan perundingan bilateral dengan negara-negara mitra baru," kata juru bicara tersebut.

Departemen tersebut mengatakan Australia sedang merundingkan visa working holiday baru (subclass 462), dengan 16 negara termasuk Brasil, Costa Rica, dan Paraguay.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

(ita/ita)