Masjid Terbesar di Melbourne Australia Senilai Rp 85 M Resmi Dibuka untuk Umum

ABC Australia - detikNews
Selasa, 15 Mar 2022 17:04 WIB
Masjid Raya Melbourne yang terletak di Tarniet merupakan yang terbesar di negara bagian Victoria dan menelan biaya sekitar Rp85 miliar. (ABC News: Kristian Silva)
Jakarta -

Semuanya dimulai saat warga Tarneit di bagian barat Kota Melbourne, Australia, merasakan kebutuhan tempat beribadah.

Setelah memakan waktu lebih dari satu dekade, penggalangan dana yang terus berjalan, dan mendapat persetujuan perencanaan dan pembangunan, pintu Masjid Raya Melbourne akhirnya dibuka untuk umum.

Masjid Raya Melbourne ini terletak sekitar 25 kilometer di sebelah barat CBD (pusat kota), melayani populasi pendatang yang multikultural yang berkembang pesat di wilayah pinggiran kota.

Dalam waktu satu dekade, bekas lahan pertanian di wilayah Wyndham ini telah diubah menjadi kota baru dengan karakter khas tersendiri.

Rifai Raheem, ketua Werribee Islamic Centre, merupakan salah satu para sukarelawan di balik pembangunan masjid ini. Bersama dengan yang lain, dia tak jarang ikut memotong rumput ketika lokasi ini masih berupa tanah kosong.

Sekarang, masjid senilai A$8,5 juta ini telah berdiri di atasnya, semuanya didanai oleh sumbangan masyarakat.

Selain sebagai tempat ibadah, ada juga rencana untuk membangun balai kegiatan dan pusat olahraga.

"Semua orang saling berpelukan dan mengekspresikan kegembiraannya," kata Rifai Raheem.

"Proyek ini dimulai pada tahun 2008. Dari semua pencapaian dalam hidup saya, ini merupakan pencapaian terbaik," ujarnya.

Salah satu warga, Ibrahima Diouf, mengaku pindah ke daerah itu agar bisa dekat dengan masjid dan sekolah Islam bagi keempat anaknya.

"Kami merasakan kebutuhan untuk memiliki tempat seperti ini," katanya kepada ABC News.

Para pengelola masjid menyatakan mereka ingin menyambut warga dari semua lapisan masyarakat dan agama.

Imam masjid, Saeed Warsama Bulhan, tampak gembira ketika ratusan warga datang berbondong-bondong ke Masjid Raya Melbourne menandai hari pertama terbuka untuk umum, Minggu (13/03).

Diselingi dengan barbekyu daging domba dan keriangan anak-anak bermain dan melompat, Imam Saeed (37 tahun) sibuk menyambut para tamu.

"Kami akan mengadakan kegiatan tentang kesehatan mental, kegiatan konseling, menyelenggarakan pendidikan, serta kegiatan dan area bermain untuk anak-anak dan remaja," jelasnya.

"Masjid ini bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Ini bukan masjid untuk orang-orang tua. Bukan hanya untuk satu kelompok masyarakat, tapi untuk semua orang," kata Imam Saeed.

Insiden Islamofobia melonjak di Australia

Dalam laporan ABC lainnya, insiden Islamofobia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu korban, sebut saja Aliyah (bukan nama sebenarnya), sedang melepaskan bayinya dari jok belakang mobil ketika dikejutkan oleh suara mesin di belakangnya.

Saat menyadari adanya kendaraan menderu ke arah mereka, Aliyah langsung meninggalkan kereta dorong dan melarikan diri sambil memeluk bayinya.

"Saya tak sempat menutup pintu mobil," ujarnya.

Pelakunya, pria kulit putih berusia sekitar 40-an, kemudian membuntuti Aliyah ke salah satu pusat perbelanjaan di Kota Perth, Australia Barat.

"Dia menatapku sembari tertawa," kata Aliyah, yang langsung menelepon polisi untuk meminta mereka membuka rekaman CCTV di tempat itu.

Seorang polisi wanita yang menerima telepon Aliyah tampak simpatik pada awalnya, tapi ketika Aliyah menjelaskan dirinya menjadi sasaran karena mengenakan jilbab, sikap polisi itu berubah.

"Ketika saya mengatakan mengenakan jilbab dan saya pikir itu sebabnya pria itu melakukannya, karena tidak ada alasan lain, sikap polisi itu berubah," katanya.

Pengalaman Aliyah ini merupakan salah satu insiden yang dilaporkan ke Islamophobia Register Australia pada 2018 dan 2019.

Laporan Islamofobia di Australia terbaru, yang dirilis hari Selasa (15/03), menganalisis 247 insiden di dunia nyata dan online yang dilaporkan pada tahun sebelum dan sesudah peristiwa Pembantaian Christchurch.

Insiden yang dilaporkan mencakup serangan fisik, penyerangan, perusakan properti, pelecehan non-verbal, intimidasi, dan ancaman online.

Rilis laporan ini bertepatan dengan peringatan ketiga serangan teroris di Selandia Baru pada 2019, ketika seorang ekstremis sayap kanan Australia, Brenton Tarrant menembak dan membunuh 51 jamaah salat Jumat.

Sebagian besar insiden melibatkan ujaran kebencian, disusul sikap diskriminasi, serangan berupa grafiti dan vandalisme, sementara kerusakan properti 2 persen dan korban individu 3 persen.

Seperti laporan sebelumnya, sebagian besar pelaku serangan Islamofobia adalah laki-laki, yaitu 78 persen insiden, sementara korbannya 82 persen kaum perempuan.

Insiden lain dialami Nabil (bukan nama sebenarnya) bersama istrinya, yang harus pindah dari akomodasi yang disiapkan universitasnya di Camden, Sydney.

Kondisi istri Nabil yang sedang hamil ternyata tidak menghalangi seorang pria dan wanita kulit putih meneriakinya dengan kata-kata kasar terkait dengan pakaiannya.

Mahasiswa PhD asal Bangladesh ini mengaku sejak itu istrinya ketakutan keluar rumah dan mereka terpaksa pindah ke daerah dengan komunitas Muslim yang lebih besar.

Tapi menurut data yang dikumpulkan, 51 persen insiden terjadi pula di "pinggiran kota yang lebih beragam secara multikultural".

Begitu pula dengan lokasi yang dijaga oleh satpam dan kamera CCTV, tampaknya tidak menghalangi pelaku.

Insiden Islamofobia dilaporkan terjadi di toko (15 persen), transportasi umum (12 persen), pusat rekreasi dan taman (12 persen), serta sekolah dan universitas (11 persen).

Puncak gunung es

Penulis laporan tersebut, Dr Derya Iner dari Pusat Studi Islam dan Peradaban Universitas Charles Sturt, menyebut kasus yang dianalisis "hanyalah puncak gunung es".

"Islamofobia, seperti kejahatan kebencian lainnya, secara konsisten tidak dilaporkan," katanya.

"Hambatan teknis untuk pelaporan termasuk akses terbatas ke alat pelaporan dan kurangnya kemampuan bahasa Inggris," tambah Dr Derya.

"Korban juga tidak melapor karena rasa malu yang terkait, persepsi bahwa insiden itu 'normal' dan terlalu sering, dan pengalaman bahwa pelaporan kurang bermanfaat," jelasnya.

Di antara kasus online yang dianalisis, postingan yang dibuat oleh kelompok dan individu sayap kanan ternyata menghormati dan menghargai teroris Brenton Tarrant atas kekejamannya.

"Beberapa di antaranya menggunakan bahasa yang tak sensitif berupa lelucon dan karikatur serangan Christchurch," kata laporan itu.

Namun, Dr Derya Iner mengatakan pada tingkat yang lebih luas, Australia menunjukkan "solidaritas dan dukungan" kepada umat Islam setelah serangan tersebut.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News ditambah laporan lainnya.

(ita/ita)